OPINI: Mitigasi Bencana Terintegrasi Kurikulum Sekolah

Foto ilustrasi: simulasi penanganan bencana alam. - Harian Jogja/Desi Suryanto
15 Januari 2020 06:07 WIB Arif Dwi Suara Mahasiswa Share :

Kawasan bencana tersebar di mana-mana. Kawasan bencana tersebut tidak hanya wilayah perkampungan tetapi sekolah seluruh Indonesia berada di daerah rawan bencana. Saat ini mitigasi bencana sudah masuk ke sekolah. Kendati demikian, dalam penyampaian materinya dapat terintegrasi mata pelajaran khusus, maupun kegiatan ekstrakurikuler ataupun dijadikan muatan lokal sekolah.

Materi khusus yang disusun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengenai mitigasi bencana telah dirancang sedemikian rupa mulai dari pengenalan tanda-tanda bencana alam sampai ke arah proses evakuasi yang memperhatikan karakteristik ancaman bencana di masing-masing daerah. Bisa jadi daerah A dominan pada ancaman bencana banjir, sementara daerah B dominan pada ancaman bencana tanah longsor.

Sementara itu, pengertian mitigasi sendiri sesuai peraturan menteri dalam negeri nomor 33 tahun 2006 didefinisikan sebagai upaya untuk mengurangi dampak dari bencana baik bencana alam, bencana ulah manusia ataupun gabungan keduanya dalam suatu negara atau masyarakat. Mitigasi kebencanaan akan mampu memberikan rasa aman dan perlinduangan dari ancaman bencana yang mungkin dapat terjadi.

Bila dikaitkan antara materi mitigasi bencana yang dibuat Kemendikbud dengan pengertian mitigasi secara umum tentu sangat membantu dalam penyampaian serta dapat mengurangi dampak dari bencana itu sendiri, yaitu bagaimana upaya pengenalan dan pemantuan risiko bencana, perencanaan partisipasi penanggulangan bencana, pengembangan budaya sadar bencana. Disamping dengan penerapan upaya fisik, nonfisik dan pengaturan penanggulangan bencana melalui sebuah identifikasi dan pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana dan pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam dengan penggunaan teknologi tinggi.

Penyebaran informasi secara kontiyu di lingkungan pendidikan akan membuat pelaku pendidikan dapat mengenali, mencegah dan mampu cara penanganan bencana tersebut. Baik melalui penyampaian materi dengan berbagai cara, melalui poster-poster, sosialisasi, penyuluhan, lokakarya ataupun diskusi seminar yang terkait akan segala aspek kebencanaan.

Tujuannya sebagai peringatan dini untuk selalu bersikap waspada dan selalu siap bila bencana tersebut terjadi serta dapat mengenali dan mencegah bencana di suatu kawasan tertentu. Jangan sampai mitigasi berbasis pendidikan baru dilakukan setelah bencana terjadi. Selain bersifat teori, materi mitigasi bencana dapat dipraktekkan melalui sebuah latihan – latihan kebencanaan. Bagaimana cara mempersiapkan diri menghadapi bencana, menghadapi kejadian bencana yang terjadi serta pemulihan pasca bencana.

Hanya saja, materi mitigasi tersebut akan lebih efektifnya tidak hanya diberikan kepada sekolah – sekolah yang rawan bencana. Harapannya meluruh. Bisa jadi, kita memetakan atau mengenalkan materi mitigasi di daerah rawan bencana, ternyata yang terkena bencana tersebut adalah bukan yang termasuk daerah rawan bencana.

Kenapa hal demikian bisa terjadi? Di manapun dan kapanpun bencana tersebut terjadi, kita tidak bisa memprediksi. Hanya kewaspadaan diperlukan. Oleh karena itu, materi mitigasi wajib diberikan ke setiap sekolah tanpa terkecuali. Dalam artian, baik sekolah yang terletak di daerah pedalaman sampai daerah perkotaan wajib menerima materi mitigasi tersebut.

*Penulis merupakan mahasiswa S1 PGSD Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta