OPINI: Menakar Dampak Ekonomi Virus Corona

Zhang Changchun menunjukkan gambar CT scan paru-paru ibunya, pasien yang berusia 53 tahun, Yang Zhongyi, yang merupakan kasus yang sangat dicurigai sebagai virus corona baru, namun belum bisa mendapatkan tes untuk mengonfirmasi karena kurangnya peralatan pengujian atau kurangnya pengujian di rumah sakit setempat di Wuhan, Provinsi Hubei, China 25 Januari 2020. - Reuters
29 Januari 2020 06:02 WIB Rusli Abdulah, Peneliti Indef Aspirasi Share :

Asia kembali digemparkan oleh kemunculan virus N-Corona (korona baru yang berasal dari Wuhan, China). Hingga 23 Januari, setidaknya sudah terdapat 571 kasus dengan kasus meninggal 9 orang. Virus dilaporkan sudah keluar dari Wuhan, bahkan sudah menjangkiti 1 orang di Singapura. Sebagai virus yang dikategorikan baru dan kejadian kematian yang cepat, Corona baru berdampak bagi perekonomian, bukan hanya China tapi juga Indonesia.

Ekses negatif terhadap perekonomian tersebut setidaknya sudah terlihat dari koreksi di pasar modal, yaitu Indeks Hang Seng dan Shanghai Composite Indeks. Usai pemberitaan ini, Reuters (21 Januari) melaporkan dalam Asia Shares Lurch Lower, Flu Concerns a Possible Culprit bahwa adanya penurunan tajam pasar modal di hampir seluruh Asia, karena kekhawatiran penyebaran virus Corona secara masif. Saham Hangseng menurun -2,45% sejak berita virus Corona menyebar keluar China. Sementara itu, Shanghai Composite Index terkoreksi sebesar -1,78%.

Dampak kerugian Corona bagi perekonomian Indonesia menyasar ke sektor pariwisata, perdagangan, investasi, dan pertambangan. Pada titik ekstrim, sektor pariwisata bisa terkena dampak berupa penurunan jumlah wisatawan, baik mancanegara maupun domestik, terutama yang berkunjung ke Bali. Hal ini terjadi karena dari Bali terdapat penerbangan langsung dari Wuhan, China, asal virus tersebut.

Penurunan kunjungan turis bisa terjadi akibat travel allert dari negara-negara yang warganya banyak ke Indonesia, terutama Bali. Hal ini sangat mungkin terjadi karena China merupakan negara asal turis mancanegara terbesar ketiga di Indonesia. Per November 2019, jumlah turis Negeri Tirai Bambu yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 147.500 pelancong atau 11,7% dari total turis asing. Komposisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk meyakinkan dunia bahwa virus Corona tidak akan masuk ke Indonesia.

Apabila terjadi outbreak di daerah wisata maka tindakan paling ekstrim adalah menutup atau mengisolasi sementara tempat wisata tersebut untuk kunjungan. Secara ekonomi, hal ini akan merugikan dua hal sekaligus. Pertama, perolehan devisa dan kedua geliat ekonomi lokal menjadi terganggu. Per Jumat 24 Januari, salah satu destinasi wisata terkenal dunia di China yaitu Kota Terlarang (Forbidden City) ditutup untuk umum. Alasan utamanya adalah meminimalisasi penularan virus yang per 24 Januari telah menjangkiti 14 orang di Beijing.

Sektor berikutnya yang terancam adalah perdagangan, investasi dan pertambangan. Indonesia memiliki keterkaitan perdagangan dengan China. Porsi perdagangan (impor) nonmigas dari China pada 2019 adalah yang terbesar yaitu 29,95% atau US$44,58 miliar sepanjang 2019. Dengan porsi besar tersebut, probabilitas penularan virus melalui aktivitas perdagangan sangat mungkin terjadi.

Berdasarkan rekomendasi dari WHO, salah satu pencegahan tertularnya virus Corona adalah dengan tidak melakukan kontak, baik langsung maupun tak langsung. Kontak langsung berarti kita tidak melakukan kontak kulit dengan penyintas. Kontak tindak langsung bisa dalam artian menghindari benda-benda yang pernah terkontak oleh penyintas. Dalam hal ekspor barang dari China ke Indonesia, penularan melalui barang-barang sangat mungkin terjadi, terlebih bahan makanan mentah seperti daging atau ikan.

Sektor berikutnya adalah pertambangan, terutama nikel yang berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah. Banyaknya tenaga asing asal China memungkinkan probabilitas besar bagi penularan virus. Terlebih pada 25 Januari lalu ada libur Imlek yang memungkinkan para pekerja China tersebut melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman mereka. Apabila mereka kembali ke Morowali dengan membawa virus Corona, hal itu akan menjadi bencana bagi pertambangan Indonesia. Terlebih per Januari 2020 ini, larangan ekspor bahan mentah nikel diberlakukan dalam rangka meningkatkan kapasitas smelter nikel domestik.

Outbreak di lokasi tambang akan berakibat fatal. Penutupan tambang akan menjadi opsi yang paling mungkin terjadi untuk mengisolasi virus. Hal ini ditambah dengan site tambang dan aktivitas di Kota Morowali yang memiliki kepadatan yang tinggi. Apabila penutupan tambang terjadi maka kerugian miliaran rupiah akan menghampiri para pengusaha. Selain itu denyut ekonomi lokal sekitar tambang juga akan menurun.

Diluar potensi transmisi penularan virus Corona tersebut, ada satu hal penting yang perlu dikhawatirkan yakni hoax yang bisa menyasar sektor perdagangan komoditas daging, unggas, dan ikan. Hal ini mengingat penularan pertama virus Corona diduga berasal dari pasar ikan yang bercampur dengan pasar unggas di Wuhan dan saat ini sudah ditutup untuk umum.

Apabila tersebar hoax bahwa satu pasar atau peternakan di Indonesia terkena virus Corona, secara otomatis akan memukul para pelaku ekonomi yang bersinggungan dengan sektor tersebut. Hal ini akan memperparah derita para peternak ayam broiler yang saat ini ‘tertimpa tangga’ akibat rendahnya harga daging ayam broiler.

Pemerintah harus mengantisipasi penyebaran dan juga hoax virus Corona. Antisipasi yang harus dilakukan adalah, pertama, pengetatan pintu masuk bandara, terutama bandara yang memiliki koneksi penerbangan ke China, khususnya Wuhan. Pengetatan pelabuhan barang dan manusia, terutama Batam, juga perlu diperketat, karena sudah ditemukan 1 penderita di Singapura.

Pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Informasi harus memberikan keterangan yang benar. Menangkal hoax seputar virus Corona dengan tepat. Terakhir, imbauan untuk tidak panik tapi tetap waspada. Kepanikan apapun, akan memberikan riak yang tidak menguntungkan bagi kita semua.

Semoga virus Corona tidak pernah sampai ke Indonesia.

Sumber : Bisnis Indonesia