OPINI: Hemat ala Kakeibo

Nasabah bertransaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Minggu (12/5)./Bisnis Indonesia- - Felix Jody Kinarwan
20 Februari 2020 05:02 WIB Sang Ayu Putu Piastini Gunaasih Aspirasi Share :

Tunjangan hari raya (THR) masih akan diterima tiga bulan lagi. Namun, banyak dari kita sudah merencanakan wishlist barang-barang dari uang THR atau bonus yang akan didapatkan. Jauh-jauh hari sudah mempersiapkan baju dan celana apa yang akan dibeli pada saat hari raya Idul Fitri mendatang. Sepertinya dorongan untuk membeli barang-barang tersebut yang sebenarnya tidak dibutuhkan lebih kuat dibandingkan untuk keperluan lainnya.

Kenapa susah sekali untuk mengontrol dorongan-dorongan tersebut padahal secara sadar kita tahu bahwa keinginan tersebut belumlah cukup mendesak. Jika hal ini terjadi pada kita, mungkin kita perlu untuk mendapatkan cashflow therapy (terapi aliran kas). Salah satu metode yang bisa dicoba adalah Kakeibo, metode pencatatan keuangan sederhana dari Jepang. Cukup menyediakan ballpoint dan notebook (buku catatan) untuk mengadaptasi metode ini. Namun, dampak yang signifikan terutama dalam mengobservasi kebiasaan berbelanja dapat kita peroleh secara langsung.

Sejarah Kakeibo
Kakeibo (dibaca: kah-keh-boh) adalah pembukuan pendapatan dan pengeluaran sederhana yang dicatat dengan tulisan tangan. Metode ini sangat sederhana sehingga tidak memerlukan aplikasi khusus, teknologi digital dan tidak memerlukan perhitungan matematika yang rumit. Seni mengatur keuangan ini diperkenalkan oleh Hani Motoko seorang jurnalis wanita pertama Jepang pada tahun 1904. Metode ini dikembangkan dan diperuntukkan bagi orang-orang yang kesulitan menabung dan menyisihkan sebagian dari penghasilannya secara praktis.

Pada 2017, Fumiko Chiba dalam bukunya berjudul, Kakeibo: The Japanese Art of Saving Money, menulis Kakeibo adalah cara ibu rumah tangga di Jepang untuk mengelola anggaran keuangan keluarga. Metode mencatat pengeluaran dengan tulisan tangan membantu kita lebih aware dan mindfullness dalam berbelanja. Membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan secara cepat dan ringkas. Metode ini masih populer digunakan di Jepang. Menurut penelitian, menulis dengan tangan dapat meningkatkan proses memahami informasi dan pembelajaran dibandingkan dengan mengetik di alat elektronik seperti laptop atau pada alat komunikasi digital lainnya seperti telepon seluler (ponsel) pintar.


Hemat ala Kakeibo
Kakeibo bisa dimulai di awal bulan dengan mencatat gaji tetap, bonus dan penghasilan tambahan lainnya. Selanjutnya membuat perencanaan/anggaran secara tepat terhadap berapa banyak uang yang akan ditabung, diinvestasikan serta dibelanjakan dan pisahkan menjadi empat kategori.

Kategori pertama berupa kebutuhan survival/kelangsungan hidup, yaitu makan, keperluan rumah tangga, sewa rumah, kesehatan, transportasi dan lain-lain. Kedua untuk optional/rekreasi seperti camilan, makan di luar, rokok, membeli barang berkaitan dengan hobi atau koleksi. Ketiga untuk culture/tambah wawasan yaitu membeli buku, menonton bioskop, membeli majalah, ikut seminar. Keempat untuk ekstra/biaya tambahan yaitu membeli hadiah, perbaikan rumah/kendaraan, dan lain-lain. Tuliskan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan komitmen kita penuh pada rencana tersebut.
Lalu siapkan amplop yang berisi uang tunai dan beri label sesuai dengan empat kategori tadi. Jika benar-benar berkomitmen mencatat pengeluaran tiap harinya, sesuai jumlah uang yang dianggarkan di awal, kita bisa melacak kemana uang kita pergi bahkan mampu menghindari kebocoran atau uang hilang entah kemana. Penempatan uang tunai di amplop secara psikologis akan mendorong kita berhemat dan bersabar dari pada cashless alias tinggal gesek.

Jika uang tunai di amplop sudah habis, ya sudah, tunda konsumsi atau tidak belanja sama sekali. Pos-pos yang terlalu besar bisa dipangkas di tiap bulannya. Langkah selanjutnya yaitu menuliskan empat target bulan tersebut, yaitu berapa banyak uang yang ingin dimiliki, berapa banyak uang yang ingin ditabung, berapa banyak uang yang boleh saya belanjakan, dan usaha apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki dan mengawasi pengeluaran-pengeluaran tersebut.

Pada akhir bulan, jurnal kakeibo diperiksa untuk menghitung serta mengevaluasi pengeluaran bulanan yang telah terealisasi. Apakah rencana yang dianggarkan sesuai dengan harapan atau belum? Lalu apa yang harus diperbaiki di bulan depan. Selain itu, kita bisa membuat rencana bulan depan apakah dari empat karetori tersebut ada perbedaan konsumsi atau tidak. Penghematan sekecil apapun tiap bulan akan berarti jika dikumpulkan, dan akan menghasilkan total yang besar pada akhir tahun. Jika dilakukan dengan rutin, rapi dan terperinci kita menjadi lebih logis dalam membuat keputusan finansial.

Era cash-less society seperti sekarang ini memang membuat aktivitas kita berjalan dengan sangat cepat, sesuatu bisa dibeli dan dibayar dengan cepat dan mudah di layar ponsel pintar. Dengan kakeibo membantu kita dalam memperlambat pengambilan keputusan dan mempertimbangkan dengan tenang dan terukur terhadap barang dan jasa yang akan dibeli.

Memulai metode ini awalnya mungkin akan sangat sulit terlebih harus disiplin mencatat pengeluaran secara rutin. Mumpung masih awal tahun sebaiknya kita segera memulai melakukan pencatatan menggunakan metode kakeibo. Dengan konsisten dan disiplin yang baik pastinya kita bisa merasakan manfaatnya di akhir tahun ini.

Finansial kita harus sama sehatnya atau lebih sehat dari apa yang bisa kita tampilkan ke publik. Jangan sampai di momen-momen tertentu seperti hari raya, penampilan menarik tetapi sebenarnya finansial berantakan setelah hari raya. Jika kondisi finansial kita baik, biasanya mood akan stabil. Jika stabil akan banyak urusan yang bisa diselesaikan dengan lebih baik lagi, bonusnya pendapatan juga akan meningkat.

*Penulis merupakan Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta