OPINI: Peran Sentral Pendidik

25 Februari 2020 05:02 WIB Fatchiah Kertamuda Aspirasi Share :

Hingga saat ini gejolak akan diterapkannya kebijakan-kebijakan “mas” Menteri tentang Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka telah “menyibukan” berbagai kalangan, mulai dari orangtua, sekolah, guru, akademisi dan pihak-pihak terkait yang akan melakukan ‘turunan’ dari kebijakan itu. n

Hingga saat ini gejolak akan diterapkannya kebijakan-kebijakan “mas” Menteri tentang Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka telah “menyibukan” berbagai kalangan, mulai dari orangtua, sekolah, guru, akademisi dan pihak-pihak terkait yang akan melakukan ‘turunan’ dari kebijakan itu.

Beragam saran, usulan, komentar, kritikan dari tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia terhadap rencana pemberlakukan kebijakan tersebut merupakan kepedulian terhadap arah pendidikan kita.

Mau dibawa ke mana pendidikan kita? Bagaimana cara menuju arah tersebut? Siapa yang akan menjadi “nakhodanya”? Bagaimana kesiapan sumber dayanya?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena hingga saat ini, Pendidikan kita masih terus mencari pola atau bentuk untuk dapat menemukan yang sesuai dengan kondisi di Tanah Air.

Hingga usia negeri ini menjelang 75 tahun, masih banyak yang perlu dibenahi. Salah satu hal yang hingga saat ini terjadi di Indonesia, kita masih melihat dari “kacamata” negara lain dalam pengelolaan pendidikan dan belum dapat mencoba untuk menggali lebih dalam pola dan bentuk yang sesungguhnya ada di “depan” kita.

Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang multicultural. Tidak bisa disamakan dengan pendidikan di negara seperti Finlandia, Singapura, USA, atau negara-negara lain yang “terlihat” lebih dan lebih dalam banyak hal, terutama pendidikan.

Padahal sesungguhnya merekalah yang harus belajar dari Indonesia yang multicultural dan memiliki variasi dalam berbagai bidang. Saat ini Indonesia, berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA), ada di peringkat 72 dari 77 negara. Memang jauh tertinggal dari negara-negara seperti Malaysia dan Brunei.

Setidaknya data tersebut menjadi tantangan buat Pemerintah dan kita semua. Apakah pendidikan kita akan terus-menerus mengejar ranking tanpa menelisik lebih dalam apa yang sesungguhnya dibutuhkan dan diperlukan dalam pelaksanaannya?

Subjek pendidikan (pendidik dan peserta didik) “terpontal-pontal” untuk mengejar demi rangking personal, rangking sekolah, rangking kota, provinsi, hingga negara. Kita semua disibukkan dengan pencarian dan pencapaian peringkat sehingga terkadang melupakan apa yang sesungguhnya diperlukan oleh pendidik dan peserta didik.

Arogansi dari berbagai pihak telah menjadikan arah pendidikan membuat peserta didik, guru, sekolah dan orang tua berpacu untuk mencapai kepentingannya sendiri-sendiri. Di sinilah, perlunya peran sentral pendidik yang sesungguhnya, bukan hanya mematuhi dan bertindak sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang ada.

PENGARUH BESAR

Berkembangnya ilmu dan teknologi memang akan mengubah proses dalam pelaksanaan pendidikan. Namun, pendidik dan guru tetaplah menjadi sentral dalam memberikan arah pembelajaran dan pendidikan.

Pendidik memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakteristik peserta didik. Kesiapan pemerintah untuk dapat memiliki pendidik yang mumpuni perlu diawali dengan siapa sosok yang akan menjalankan tugas membimbing peserta didik di sekolah? Bagaimana perekrutan untuk menjadi pendidik yang dapat memahami dan mampu menjalankan arah pendidikan ke depannya? Bagaimana pola pendidikan bagi pendidik itu sendiri? Apakah Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) telah mempersiapkan calon-calon pendidiknya?

Dalam UU No.14/2005 tentang Guru & Dosen disebutkan pada Pasal 1 Ayat 14, LPTK adalah perguruan tinggi yang menghasilkan tenaga pendidik (guru), dan tenaga kependidikan yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan.

Dari hasil penelitian Paramadina Public Policy Institute (2016) menunjukkan kurangnya motivasi mahasiswa menempuh pendidikan keguruan di LPTK PGSD. Mahasiswa calon pendidik bukan berasal dari top students dan bukan sebagai pilihan utama yang benar-benar ingin menjadi seorang pendidik.

Temuan lain adalah bentuk tes masuk menjadi mahasiswa LPTK tidak ada standar khusus yang mempertimbangkan ciri-ciri dan karakter tertentu dari calon guru. Tes masuk atau penerimaan masih menyama-ratakan semua jurusan pada umumnya. Ke depannya, untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas, LPTK tidak hanya perlu memperbaiki proses input dengan melakukan seleksi ketat bagi calon mahasiswanya namun perlu mengutamakan syarat dosen LPTK yang memiliki karakter, keahlian, kompetensi sehingga dapat menghasilkan SDM, pendidik, yang unggul.

Terkait hal tersebut, “pekerjaan rumah” pendidikan kita perlu secara terus menerus dievaluasi mulai dari “hulu” hingga ke “hilir” untuk kebaikan di masa mendatang Tantangan bahwa untuk melakukan inovasi perubahan dalam pendidikan, tidak semudah menekan tombol “apps” dan semua langsung jadi dan tersedia.

Namun, diperlukan kerja keras dan kerja bersama dengan berbagai pihak karena yang dihadapi adalah manusia yang memiliki karakter yang unik dengan segala kelebihan dan kekurangan. Peringkat akan mengikuti bila peran pendidik sebagai sentral dalam pendidikan telah berjalan sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya dan sesuai dengan arah pendidikan yang akan dituju.

*Penulis merupakan Wakil Rektor Universitas Paramadina

Sumber : Bisnis Indonesia