OPINI: Pemilu Serbia dan Brasil: Gelombang Antikemapanan Lintas Benua?
Pemilu Serbia dan Brasil menunjukkan perbedaan gelombang antikemapanan. Simak faktor pemicu dan tiga skenario politik dunia hingga 2027.
Ilustrasi. /Reuters
Sepanjang rentang peradaban zaman yang berubah dan semakin maju, saat ini kita berada pada zona Revolusi Industri 4.0. Istilah ini masih belum di ketahui banyak orang. Bagi pendidik dan peserta didik disiapkan untuk menciptakan ide kreatif dan dengan menggunakan kemampuan teknologi. Pendidikan 4.0 adalah suatu program yang di rancang untuk mewujudkan pendidikan yang cerdas dan kreatif. Pendidikan 4.0 menghasilkan empat aspek yang sangat di butuhkan di era milenial ini yaitu kolaboratif, komunikatif, berfikir kritis dan kreatif.
Bicara mengenai zona Revoluasi Industri 4.0, di sini ada sistem literasi yang bagus untuk anak usia dini. Sebelumnya saya akan menjelaskan terkait literasi. Literasi adalah pendidikan yang mengajarkan kepada anak usia dini untuk membaca, menulis, berpikiran kritis terhadap lingkungannya. Peran literasi sangat berpengaruh bagi perkembangan anak usia dini. Maka dari itu anak harus di dorong atau istilahnya di berikan stimulus, sehingga kemampuan literasi anak dapat meningkat. Mereka harus di dorong agar berpikir kritis terhadap lingkungannya sehingga tidak tertinggal dengan perkembangan zaman.
Menurut Joyce, Weil & Chalhoun (2004) mengemukakan anak belajar literasi secara imiah. Dengan demikian periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan usia enam tahun. Pada periode tersebut anak memperoleh literasi tidak melalui pengajaran, tetapi melalui perilaku yang sederhana dengan mengamati dan berpartisipasi pada aktivitas yang berkaitan dengan literasi.
Pada era zona Revoluasi Industri 4.0, terjadi pemerosotan pada kemampuan literasi anak usia dini. Seperti literasi di era digital, kurangnya pendampingan dan arahan orang tua untuk mengawasi anak saat menjelajahi dunia Internet. Saat anak di bebaskan menjelajahi dunia Internet tanpa adanya dampingan dan arahan, maka dikahawatirkan anak akan terperosot dalam pikiran atau perilaku yang negatif.
Secara tidak sengaja orang tua telah membiarkan sistem kerja otak anak rusak, yang padahal otak anak itu dapat berkembang dengan bagus ketika memperoleh ilmu pengetahuan yang positif, akibatnya moral tidak terbentuk dengan baik, emosional anak yang tidak terkenadali dan timbulnya halusinasi negatif yang akan tumbuh dalam pikiranya yang tidak kita ketahui.
Orangtua harus meluangkan waktu untuk mengawasi dan megarahkan anak untuk memberikan pengertian tentang hal yang baik maupun yang tidak baik. Orang tua harus lebih peduli terhadap kehidupan anaknya, memperhatikan perkembangannya, apa yang sedang dia lakukan dan apa yang sedang dimainkan.
Pentingnya penanaman literasi pada anak sejak dini, supaya kekhawatiran anak terperosot dalam pikiran dan perilaku negatif terhadap dunia Internet, yaitu dengan cara peran orang tua meluangkan waktu untuk mengawasi dan memberikan pendidikan yang benar sehingga karakter anak terbentuk dengan baik.
*Penulis merupakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemilu Serbia dan Brasil menunjukkan perbedaan gelombang antikemapanan. Simak faktor pemicu dan tiga skenario politik dunia hingga 2027.
Polres Gunungkidul mengungkap dua kasus dugaan penyalahgunaan BBM subsidi. Polisi mengamankan dua truk, 12 barcode, dan 35 pelat nomor.
PSS Sleman menang 6-0 atas PSGC Ciamis di I.League Cup 2026/2027. Pieter Huistra memuji penampilan para pemain muda Super Elang Jawa.
Administrasi Risto Vidakovic belum rampung. Guntur Cahyo Utomo masih memimpin PSIM saat menjamu Dewa United di Stadion Sultan Agung.
Kapolri menegaskan penanganan kasus dugaan penyadapan ilegal dengan tiga personel Polri sebagai tersangka murni proses penegakan hukum.
KSAD Jenderal Tandyo Budi Revita memimpin pemakaman Kapten Nurhafiz di Semarang setelah gugur dalam kecelakaan heli MI-17 saat operasi karhutla.