OPINI: Kalang Kabut Manajemen Bisnis karena Covid-19

Foto ilustrasi: Penanganan pasien virus Corona. - Reuters
26 Maret 2020 05:57 WIB Tegar Satya Putra Aspirasi Share :

Sejak kasus pertama virus Corona Covid-19 ditemukan di Jakarta, banyak orang menganggap bahwa penanganan Pemerintah Indonesia lambat. Kasus pertama Covid-19 diumumkan pada Senin (2/3), namun imbauan untuk bekerja dari rumah dan pembatasan sosial baru dikemukakan Presiden RI pada 15 Maret 2020 atau 12 hari setelah diumumkannya kasus pertama Covid-19.

Setelah itu, Gubernur Jakarta baru menetapkan Covid-19 adalah kejadian luar biasa pada 20 Maret 2020. Berdasarkan lini waktu tersebut, dapat dikatakan Pemerintah Iambat dalam mengambil keputusan di tengah jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang meningkat tajam. Hanya dalam dua pekan lebih angka kasus positif Covid-19 sudah mencapai 686 orang (per 25 Maret 2020).

Pemerintah sudah menerima peringatan mengenai bahaya Covid-19 dari berbagai pihak. Artikel penelitian yang ditulis peneliti dari Harvard T.H Chan School of Public Health, secara khusus memperingatkan Indonesia untuk memperkuat sistem deteksi dan penanggulangan penularan Covid-19 sejak 11 Februari 2020.

Sedihnya, peringatan itu malah ditanggapi negatif Kementerian Kesehatan dengan mengatakan artikel tersebut meremehkan kemampuan Pemerintah dalam penanganan Covid-19. Selain artikel tersebut, banyak ahli yang menyangsikan data kasus Covid-19 yang diterbitkan Pemerintah. Kenyataannya, sekarang, Indonesia merupakan negara dengan kasus Covid-19 paling mengkhawatirkan karena tingkat kematian Covid-19 termasuk tinggi (jika dibandingkan antara jumlah kasus sembuh dan kasus yang berakhir kematian).

Rabun Jauh
Sepertinya Pemerintah sangat ketakutan dengan dampak ekonomi jika pembatasan aktivitas untuk membendung Covid-19 dicanangkan. Argumen utama Pemerintah adalah sebagian besar penduduk Indonesia bergantung pada sektor informal.

Jika lockdown atau pembatasan aktivitas dilakukan, banyak orang yang akan kesusahan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Bahkan pada periode awal wabah Covid-19 melanda, Pemerintah Indonesia justru menyarankan masyarakat untuk berwisata domestik untuk menyokong perekonomian Indonesia.

Sebuah saran menyesatkan di saat pandemi global sedang terjadi. Hal ini merupakan bukti pemerintah mengalami rabun jauh dalam pengambilan keputusan mengenai Covid-19. Pemerintah terlalu mementingkan angka-angka indikator ekonomi daripada kesehatan masyarakat.

Fenomena rabun jauh dalam pengambilan keputusan bukanlah fenomena baru, ahli-ahli manajemen bisnis sudah lama membahas soal rabun jauh ini. Mengapa kasus mengenai kebijakan pemerintah ini saya kaitkan dengan konsep di manajemen bisnis?

Bisnis dan pemerintahan adalah suatu bentuk organisasi yang mempunyai karakteristik yang hampir sama. Pemerintahan dan bisnis sama-sama mempunyai tujuan baik tujuan nonfinansial maupun tujuan finansial. Keduanya merupakan organisasi yang mempunyai sumber daya terbatas dan berusaha untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi.

Rabun jauh atau myopi dalam manajemen bisnis sudah menjadi bahasan dalam bidang manajemen sejak Thedore Levitt dalam tulisannya yang mempunyai judul Marketing Myopia. Levitt memperingatkan pada semua pemasar agar pemasar harus fokus pada nilai yang ditawarkan bukan pada produk yang ditawarkan.

Produk hanyalah tempat nilai dari suatu barang disampaikan. Pemasar yang terlalu fokus pada produk pada akhirnya akan mengalami kerugian di jangka panjang karena produk mereka akan tergantikan oleh produk yang lebih mutakhir. Konsep ini kemudian diperluas dari ranah pemasaran ke ranah manajemen bisnis secara umum oleh Natalie Mizik pada 2010 yang dikenal dengan teori Myopic Management (rabun jauh manajemen).

Myopic Management
Konsep Myopic Management perusahaan yang mengalami rabun jauh pada akhirnya mengalami penurunan nilai perusahaan pada jangka panjang jika dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengalami rabun jauh.

Mengapa bisa begitu? Perusahaan yang mengalami rabun jauh menunda investasi-investasi penting seperti investasi pengembangan produk. Investasi pengembangan produk dapat dilakukan dengan penganggaran dana untuk penelitian terkait produk perusahaan atau merger atau akuisisi perusahaan lain. Perusahaan tersebut menganggap investasi pengembangan produk adalah biaya yang akan mengurangi profit perusahaan. Pada akhirnya, di jangka panjang, produk perusahaan yang mengalami rabun jauh tidak dapat bersaing di pasar.

Salah satu contoh perusahaan yang mengalami rabun jauh adalah perusahaan digital Yahoo (penyedia jasa surat elektronik). Yahoo pernah jaya pada 90-an. Pada masa tersebut, Yahoo pernah mendapat penawaran untuk membeli Google dan Facebook tetapi Yahoo menolak untuk membeli dua perusahaan tersebut. Satu dekade kemudian, Google dan Facebook berjaya sementara nama Yahoo meredup di pasar platform digital.

Refleksi untuk Indonesia
Apakah rabun jauh ini semua salah pemerintah semata? Mizik mengungkapkan beberapa alasan sebuah organisasi akhirnya melakukan myopic management, salah satu penyebabnya adalah penekanan berlebihan terhadap informasi bersifat finansial/ekonomi di pihak manajer (pemerintah) dan pemangku kepentingan perusahaan.

Pemerintah sudah jelas melakukan penekanan berlebihan. Bagaimana dengan masyarakat Indonesia?Jita sebagai anggota masyarakat juga ambil peran dalam kesalahan ini. Masyarakat pada umumnya juga melakukan penekanan berlebihan pada aspek ekonomi. Secara umum kita juga lebih mengapresiasi kebijakan pemerintah yang bersifat ekonomi dibandingkan yang bersifat nonekonomi (contoh: kenaikan UMR dibandingkan dengan kebijakan soal gizi anak).

Pada akhirnya, Pemerintah dan kita semua akhirnya andil dalam fenomena rabun jauh ini. Mari kita akui kesalahan kita masing-masing dan bekerja sama untuk memenangi perang melawan Covid-19 ini. Terakhir, penulis berpesan kepada Pemerintah dan masyarakat, menjaga kesehatan adalah investasi jangka panjang.

*Penulis merupakan Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta