RIFKA ANNISA: Kerentanan Perempuan di Masa Pandemi

Ilustrasi. - Freepik
14 April 2020 05:02 WIB Niken Anggrek Wulan Aspirasi Share :

Upaya pencegahan selama wabah Corona menuntut masyarakat untuk melakukan physical distancing atau jaga jarak aman. Meski penting untuk mencegah penyebaran virus, upaya tersebut ternyata berdampak multi sektor, mulai dari sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ibadah.

Di dalam lingkup rumah tangga, pandemi rentan mengubah aktivitas dan rutinitas anggota keluarga. Adanya sekolah yang diliburkan, kebijakan bekerja di rumah bagi pekerja formal, kerentanan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK), pemasukan yang rentan turun mengakibatkan berbagai perubahan situasi, membuat tantangan yang dihadapi keluarga bertambah, terlebih pada kaum ibu.

Di rumah, kaum ibu pada umumnya dibebani tugas untuk mengasuh serta mengerjakan kerja domestik sehari-hari. Dalam situasi wabah semacam ini, waktu yang tersedia untuk dirinya sendiri menjadi semakin terbatas. Di sisi lain, risiko terpapar lebih besar ketika perempuan harus keluar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan. Selain itu, ketika ada anggota yang sakit, perempuan umumnya lebih dibebani kewajiban untuk merawat.

Pada situasi apapun, perempuan ternyata mendapatkan kerentanan yang berlipat. Misal, pada ibu rumah tangga, ia akan mendapatkan tambahan pekerjaan untuk merawat semua orang di rumah selama masa pandemi sedangkan pada perempuan yang bekerja formal dan mendapatkan tugas untuk bekerja di rumah, bisa jadi kesulitan untuk mengatur waktu menyelesaikan pekerjaan yang berimbas pada performa kerja yang buruk. Pada perempuan buruh, mereka rentan menghadapi risiko kesehatan apabila sistem keamanan tidak memadai, serta bisa jadi berisiko terkena PHK. Selanjutnya, untuk perempuan yang bekerja untuk mendapatkan pendapatan harian seperti pedagang, berisiko tidak punya waktu lagi untuk mengerjakan pekerjaannya. Akibatnya, penghasilan menurun bahkan tak ada pemasukan.

Ketika menilik dari segi hubungan dengan pasangan dan anggota keluarga, dalam situasi pandemi konflik lebih mungkin terjadi. Apalagi ketika pendapatan yang didapat oleh suami berkurang atau bahkan tidak ada. Laki-laki yang biasa disemati peran menjadi pengayom, pemimpin, serta penanggungjawab kelangsungan hidup keluarga bisa menjadi amat tertekan dalam situasi tersebut. Ketika hal tersebut tidak dapat lagi dipenuhi, harga diri laki-laki akan terancam. Keadaan itu kemudian memicu stres dan kecemasan.

Aktivitas Gembira
Karena tuntutan menjadi laki-laki ideal di masyarakat pula, kadang pelampiasan atas stres yang dialami justru mengarah ke tindakan negatif, seperti tidak jujur atau berdusta tentang keadaan dirinya, menyangkal situasi yang dihadapi, lari ke alkohol, atau perilaku negatif lain sebagai upaya menyelamatkan harga dirinya. Selanjutnya, istri sebagai figur yang ditempatkan sebagai pihak subordinat rentan terkena imbas dari kondisi yang dihadapi laki-laki dan menjadi objek pelampiasan, sehingga terjadilah kekerasan dalam rumah tangga.

Melihat kerentanan-kerentanan tersebut, ada beberapa hal yang penting dilakukan oleh pasangan. Pertama, komunikasi asertif atau saling terbuka. Suami dan istri perlu terbuka tentang beban yang dirasakan. Tidak perlu menyangkal kondisi atau kesedihan yang dialami, tetapi perlu menyadari bahwa beban tersebut perlu dihadapi dan dipikul bersama. Penting juga untuk menentukan mana yang perlu diprioritaskan dalam situasi yang sulit.

Kedua, perlu bekerja sama dalam menjalani pekerjaan perawatan, pengasuhan, atau pekerjaan rumah tangga bersama pasangan. Baik suami dan istri perlu mendiskusikan pekerjaan mana yang perlu dibagi. Apabila ada pekerjaan yang sebelumnya tidak biasa dikerjakan oleh pasangan, tetap hargai prosesnya dan puji upayanya untuk terlibat.

Meski dalam situasi yang sulit, tetap coba lakukan aktivitas yang menggembirakan bersama. Misal bermain bersama anak, menonton film atau menyanyi bersama, memasak masakan, atau hal yang menyenangkan lainnya.

Terakhir, penting untuk tetap saling menguatkan, dan tetap terhubung dengan anggota keluarga lain untuk mendapatkan dukungan secara psikologis. Apabila mengalami cemas yang terus menerus, jangan ragu untuk meminta bantuan kepada profesional. Saat ini, banyak tersedia konseling gratis atau seminar online untuk mengurangi dampak-dampak psikis dari pandemi.

*Penulis merupakan Manajer Divisi Internal dan Kehumasan Rifka Annisa WCC