OPINI: Penyingkapan Pandemi

Petugas menyemprotkan disinfektan untuk membasmi vieus corona di Bandara Internasional Taoyuan di Taipei, Taiwan, pada 22 Januari 2020. - Bloomberg
18 April 2020 05:02 WIB Budi Hikmat Aspirasi Share :

Bila ditamsilkan sebagai guru sufi, Covid-19 membimbing murid melintasi Jalan Suluk menuju terminal spiritual mukasyafah. Pasalnya, wabah itu menyingkap begitu banyak tirai realitas yang lazim terabaikan.

Bila ditamsilkan sebagai guru sufi, Covid-19 membimbing murid melintasi Jalan Suluk menuju terminal spiritual mukasyafah. Pasalnya, wabah itu menyingkap begitu banyak tirai realitas yang lazim terabaikan.

Beberapa realitas lintas global yang terungkap mulai dari efektivitas corak kepemimpinan dan sistem ekonomi ala dunia Barat dan Timur seperti yang dinarasikan oleh ekonom Dambisa Moyo. Orang Jerman kini mulai mengapresiasi budaya orang Jepang yang kerap menggunakan masker dalam pergaulan dan menandai salam perkenalan dengan membungkuk.

Bahkan kini semakin banyak yang terpesona dengan model terapi karantina dan nasihat Ibnu Sina yang menyimpulkan bahwa panik separuh penyakit, ketenangan separuh obat, dan kesabaran awal kesembuhan.

Di pasar keuangan negara maju terungkap memburuknya ketidakpercayaan sesama bank meski mengalami kelebihan likuiditas setelah stimulus moneter gencar digelar. Krisis 2020 memiliki dimensi lebih luas. Serial operasi quantitative easing bank sentral di negara maju sebagai solusi penurunan beban utang saat penduduk menua telah menciptakan limpahan likuiditas dengan harga (suku bunga ) yang murah. Alhasil, perusahaan semakin terbiasakan membiayai operasi bisnis lewat pasar uang jangka pendek, termasuk untuk pendanaan share buy-back.

Seperti sebagian individu yang heboh memborong makanan dan masker, panik memicu banyak perusahaan mengakumulasi cash secepat mungkin. Tidak semua perusahaan seperti Apple yang mampu membiayai biaya operasi secara mandiri selama enam tahun. Secara rata-rata, perusahaan hanya siap untuk tujuh bulan.

Telah dimaklumi bahwa resesi global tidak terelakan akibat terjangan banyak faktor selama tiga tahun terakhir. Polemik perang dagang dan teknologi 2019 lalu mengganggu sisi produksi dan jalur pasokan. Sementara wabah Covid-19 tahun ini melumpuhkan sisi permintaan. Apalagi peran China yang semakin besar ditilik dari negara tujuan ekspor, pemasok bahan baku, penopang turisme global hingga dukungan keuangan. Belum lagi perang minyak Saudi Arabia-Rusia (serta Amerika Serikat) berisiko memicu konflik geo-politik hingga perang terbuka.

Sejumlah perusahaan besar segera mengamankan diri dengan menarik pinjaman. Namun bank selama ini juga mengandalkan dollar funding market dari pasar jangka pendek seperti repo dengan mengandalkan kolateral surat berharga negara yang dinilai paling berkualitas.

Ketidakpercayaan dalam sistem perbankan di Amerika Serikat terungkap melalui peningkatan spread FRA-OIS yang biasa diukur sebagai selisih antara suku bunga tiga bulan LIBOR (antar bank) dan suku bunga overnight paling pendek the Fed yang dianggap bebas risiko. Spread ini pernah memburuk hingga 188 basis poin per 24 September 2008 jauh diatas angka rata-rata 29,6 bps selama 15 tahun terakhir.

Sepanjang tahun berjalan 2020 angka terburuk 77,3 bps (13 Maret), terendah hanya 11,1 bps (10 Februari) yang mengindikasikan swing terjadi demikian cepat. Ketika tulisan ini disiapkan, spread berada pada angka 53 bps, masih jauh diatas rata-rata.

Perebutan cash dollar memicu aksi penjualan berbagai aset yang lainnya, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Itu sebabnya kita mengalami tekanan arus keluar dana asing yang sangat besar yang menjatuhkan kurs rupiah secara berlebihan. Bahkan emas sempat mengalami penurunan harga. Saat itu dolar menjadi satu-satunya aset yang paling perkasa.

Penyingkapan di dalam negeri juga sangat banyak. Paparan penerbitan Perppu No.1/2020 menunjukkan pemerintah telah belajar banyak dari pengelolaan krisis keuangan global 2008. Stimulus pelebaran defisit 5% PDB diperlukan untuk menopang daya beli dan pembiayaan, terutama bagi kelompok masyarakat yang paling terimbas penanganan wabah.

Kita tidak boleh lalai untuk konsisten memacu reformasi guna memperkuat fundamental yang melemah sejak berakhirnya era supercycle commodity booming. Sekarang tersingkap bahwa selama defisit neraca berjalan tidak dapat dikendalikan maka secara fundamental rupiah tidak punya cukup hak untuk menguat. Selama ini rupiah sudah ditopang oleh aliran masuk modal asing yang membiayai defisit kita, yang semestinya disadari sebagai faktor sistemik. Untuk menjaga kestabilan rupiah akibat arus keluar modal asing, telah terjadi penurunan cadangan devisa sebanyak US$8,2 miliar sepanjang Desember 2019 hingga Maret 2020.

Untuk pembiayaan stimulus selagi menerapkan defisit anggaran 5% PDB, pemerintah telah berhasil menerbitkan global bond senilai US$4,3 miliar dengan yield yang jauh lebih rendah daripada sewaktu krisis 2008. Namun untuk memacu proses transformasi struktural dengan pembiayaan yang meminimumkan beban utang kelak, perlu dipikirkan opsi pembiayaan selain utang.

Pembentukan sovereign wealth fund (SWF) yang beroritentasi pada equity financing menjadi pilihan menarik sebagai solusi pembiayaan reformasi struktural untuk meraih kemakmuran. Pasalnya, banyak peluang mempertemukan realita kelebihan likuiditas masif di luar negeri dan ‘kekeringan’ likuiditas dolar di dalam negeri.

Sementara itu yield obligasi negara yang rendah memukul neraca dana pensiun dan asuransi di negara maju yang memiliki kewajiban jangka panjang. Itu sebabnya mereka sangat membutuhkan penempatan alternatif jangka panjang yang aman dan menguntungkan. Dan ini merupakan kesempatan bagi Indonesia.

Namun sayang minat investor asing berinvestasi terganjal oleh hambatan terberat terkait kepastian hukum perundangan-undangan, tata kelola pengelolaan dana, dan pengendalian risiko. Sebuah lembaga SWF yang dasar pembentukannya ditetapkan dengan jaminan undang-undang tertinggi mutlak dibutuhkan.

*Penulis merupakan Chief Economist & Director for Investment Strategy PT Bahana TCW Investment Management 

Sumber : Bisnis Indonesia