OPINI: Kesehatan Rakyat Terjajah

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
22 April 2020 05:02 WIB Wahyu Susilo Aspirasi Share :

Pada menjelang akhir April ini sudah lebih dari sebulan kita menjalankan protokol kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19. Protokol itu berupa tindakan konkret menjaga jarak (social and phisycal distancing), mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memakai masker, dan berada di rumah untuk bekerja, belajar, dan beribadah.

Lebih dari seabad yang lalu, Kartini juga dipaksa berada di rumah untuk belajar dan beribadah. Bukan karena wabah penyakit, tetapi karena Kartini dipingit. Sebuah tradisi feodalisme yang berkelindan dengan patriarki yang memaksa perempuan Jawa (terutama dari kelas ningrat) harus berada di rumah saat menjelang dewasa dan menunggu pinangan.

Kartini tentu tidak suka rela menjalankan tradisi yang memenjara dirinya. Dia mencoba memerdekakan diri dengan bacaan-bacaan yang mencerahkan serta menuliskan kegelisahan dalam artikel atau surat-menyurat dengan sahabatnya di seberang benua.

Kartini dengan menggunakan nama ayahandanya R.M. Adipati Ario Sosroningrat menulis artikel tentang adat perkawinan di Koja, beban perempuan dan kritiknya. Artikel yang berjudul Het Huwelijk bij de Kodja’s (Perkawinan Itu di Koja) dimuat di jurnal Bijdragen tot de Taal, Land en Volkenkunde volume 50 nomor 1 tahun 1898.

Dalam salah satu surat Kartini mengungkapkan keprihatinan atas kondisi masyarakat Jawa saat itu yang didera beban ganda, kelaparan akibat gagal panen dan wabah penyakit kolera. Dalam surat kepada Estelle Zeehandelaar tertanggal 11 Oktober 1901 dia menulis tentang kondisi di Grobogan dan Demak yang akut.

”Di sana berjangkit bahaya kelaparan, dan dengan ngeri dan gigil orang di Demak dengan 26.000 bahu sawah gagal dan dalam pada itu mengamuk pula kolera,” demikian tulisan Kartini di surat itu.

Di sisi yang lain dia juga mengeluhkan keterbatasan tenaga kesehatan dan rumah sakit. Di surat yang sama, Kartini menulis,”Di bumi Jawa atau di seluruh Hindia hanya terdapat kira-kira 20.000 bidan dan 30.000 bayi yang baru dilahirkan terpaksa tewas karena kurang mendapat pertolongan kedokteran”.

Keprihatinan Kartini ini masih relevan sampai sekarang, hingga saat ini. Kematian bayi dan ibu melahirkan karena keterbatasan tenaga kesehatan masih sangat tinggi, bahkan menjadi halangan pencapaian MDGs dan SDGs. Kartini juga meninggal setelah kesehatannya merosot drastis setelah melahirkan.

Arus utama historigrafi sejarah Indonesia lebih banyak melihat School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) sebagai institusi tempat persekolahan calon dokter para siswa priayi Jawa yang kemudian memiliki pikiran modern mengenai masa depan Hindia. STOVIA selalu dilihat sebagai titik awal kelahiran Boedi Oetomo.

Sejarah
Fakta ini tentu tidak keliru, namun tak banyak kajian, terutama dari sudut pandang sejarah kesehatan, mengenai mengapa STOVIA harus didirikan. Dalam artikel yang ditulis Winarsih Partadiningrat (1999) berjudul Sembilan Tahun di Stovia, 1907-1916, dijelaskan STOVIA adalah pengembangan dari Sekolah Dokter Jawa yang didirikan pada 1851.

Inisiatif pendirian sekolah ini merespons keterbatasan tenaga kesehatan saat menangani wabah penyakit yang berkecamuk di kawasan Banyumas yang menimbulkan banyak korban. Artikel yang ditulis berdasar memoar seorang priayi Solo asal Punggawan, Wirasmo Partaningrat, itu juga mengungkap betapa berat syarat masuk sekolah tersebut.

Dalam beberapa kali wabah berkecamuk di Hindia, pada akhir abad XIX hingga awal abad XX, terjadi kekurangan tenaga kesehatan untuk menangani wabah itu. Dalam situasi seperti itu seluruh siswa STOVIA dikerahkan sebagai tenaga perbantuan penanganan wabah.

Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo adalah salah seorang alumnus STOVIA yang sangat aktif di barisan depan penanganan wabah di beberapa wilayah di Jawa. Keprihatinan tentang kondisi kesehatan rakyat terjajah terinspirasi dari pikiran-pikiran Kartini sehingga dia mendirikan Raden Adjeng Kartini Club.

Perkumpulan ini mungkin semacam lembaga swadaya masyarakat untuk kesehatan yang digerakkan oleh dr. Tipto setelah dia mundur dari Indische Partij. Kisah alumnus lain STOVIA yang mengagumkan adalah dr. Ahmad Ramali. Alumnus STOVIA tahun 1928 ini memiliki keprihatinan yang dalam mengenai masalah kesehatan dan keagamaan.

Dalam artikel Islam dan Hygiene di Hindia-Belanda yang ditulis Gani A. Jaelani (2017) terungkap bahwa kontroversi masalah pemulasaraan jenazah pada masa wabah ternyata sudah terjadi pada masa lalu. Dokter Ahmad Ramali ini kerap berbenturan dengan tafsir beku keagamaan ketika harus mengambil sampel virus pada jenazah untuk kepentingan pengetahuan kesehatan.

Belajar dari sejarah kesehatan dan penanggulangan wabah menjadi mutlak dan bisa dikontribusikan sebagai bantuan pengetahuan nonmedis. Penghentian atau sebaliknya perpanjangan rantai penularan wabah tak hanya perkara masa hidup virus dan media penularan.

Virus dan media penular jamak diteliti dengan mikrobiologi ataupun virologi. Soal relasi dan interaksi sosial dan gender, tradisi, dan ekonomi-politik atau rekaman sejarah, etnografi perilaku masyarakat, serta analisis ekonomi-politik mengenai kesehatan dan penanggulangan juga menjadi penting. (JIBI/Solopos)

*Penulis merupakan Alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Sebelas Maret