HIKMAH RAMADAN: Sabar dalam Musibah

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
24 April 2020 05:02 WIB Restu Faizah Aspirasi Share :

Bulan Ramadan adalah bulan kesabaran, ketika setiap muslim yang berpuasa dilatih untuk menahan diri. Makna puasa itu sendiri juga berarti menahan, yaitu menahan lapar dan haus serta tidak melakukan hubungan suami istri di siang hari.

Maka terdapat kesamaan makna antara sabar dan puasa, yaitu menahan diri. Uniknya selain ada kesamaan makna, puasa akan menghasilkan sifat sabar. Lebih luas lagi sabar berarti menahan diri dari sesuatu yang membebani, dan sikap sabar itu meliputi tiga ranah yaitu hati, akal, dan anggota badan.

Sabar akan mencapai kesempurnaannya (shabrun jamilun) jika memenuhi tiga aspek kemanusiaan tersebut yaitu hati yang merespons dengan keridhaannya, akal menerima dengan pikiran positifnya dan anggota badan dengan tidak melakukan kezaliman atau ucapan yang menentang kehendak-Nya. Sabar juga menuntut ketepatan waktu yaitu dilakukan pada saat awal musibah itu menerpa, tersebut dalam riwayat: "Sesungguhnya sabar itu adalah di awal musibah" (HR Bukhari no.1283).

Sabar merupakan pakaian atau hiasan bagi tiap muslim dan senyatanya musibah itu hanya bisa dihadapi dengan satu hal, yaitu sabar. Seseorang yang terluka karena musibah, baik bersabar ataupun tidak, tetaplah terluka, namun ada perbedaan nilai pada orang yang sabar dengan yang tidak sabar, yaitu kebersamaan Allah SWT terhadap orang-orang yang sabar dan memberinya pahala, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas" (Az Zumar: 10).

Allah swt menurunkan berbagai macam musibah kepada manusia bukanlah tanpa maksud dan tujuan, pastilah banyak hikmah yang bisa dipetik untuk dijadikan pelajaran. Jika kita perhatikan berbagai macam musibah itu adalah musibah sebagai peringatan, yaitu jika manusia banyak melakukan pelanggaran ajaran agama, larangan dan perintah-Nya, maka perilaku ini akan mendekatkan manusia pada becana. Hal ini bagaikan komunitas orang berada di sebuah kapal dan ada seorang yang ingin mengambil air namun dengan cara melobangi kapal, maka akan menimbulkan musibah.

Musibah sebagai proses pembelajaran dari Allah swt agar manusia menjadi lebih kuat, lebih baik dari sebelumnya. Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: "Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi baik maka diberikan cobaan kepadanya" (HR Bukhari).

Musibah sebagai ujian. Hal ini sebagaimana firman-Nya, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah: 214)


Sumber Musibah
Musibah sebagai kafarat atau penebus dosa. Dalam riwayat disebutkan, “Tiada henti-hentinya bala' (bencana) yang menimpa seorang mukmin laki-laki maupun perempuan, baik mengenai dirinya atau sanak keluarganya atau harta kekayaanya hingga menghadap Allah sudah bersih dari dosanya.” (HR Tirmidzi).

Musibah sebagai azab. Adakalanya musibah datang sebagai hukuman bagi orang-orang zalim, yaitu atas perilaku mereka yang sudah tidak bisa dibendung serta merusak tatanan. Cukuplah kita membaca dan merenungi kisah-kisah peradaban terdahulu seperti kaum 'Aad, Tsamud, kisah Fir'aun, kaum Nabi Luth as, atau kaum Nabi Nuh AS.

Sumber musibah itu ada dua: Musibah yang datang dari Allah SWT, maka kita hadapi dengan sabar, agar lulus ujian dari-Nya, diberi pahala, diampuni dosa-dosa kita dan agar menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. Kemudian musibah akibat dari perbuatan manusia, kita hadapi juga dengan sabar, merenungi dan mengambil pelajaran serta hikmah yang terkandung di dalamnya sehingga akan membawa keadaan yang lebih baik di masa depan.

Kadangkala di balik musibah terdapat hikmah agama, agar agama seseorang menjadi lebih baik, dan ada hikmah ilmu pengetahuan agar manusia mengerti tentang sifat atau perilaku alam dan lingkungannya. Fenomena wabah virus Corona yang telah melanda dunia saat ini menjadi pelajaran akan kebersihan, penjagaan kesehatan dengan tidak mengonsumsi makanan yang berpotensi memunculkan berbagai penyakit yang membahayakan diri dan lainnya.

Aktivitas illegal logging juga merupakan fenomena indispliner, perilaku tidak bisa menahan diri yang berpotensi mendatangkan bencana. Segala aktivitas pemanfaatan alam dan lingkungan yang dibarengi perilaku serakah, aktivitas pembangunan fisik yang indisipliner akan berpotensi pada bencana antropogeologi, yaitu bencana yang diakibatkan oleh perilaku keserakahan manusia. Marilah kita selalu mendekat padaNya dengan sabar, sikap menahan diri, tidak melanggar tuntunan-Nya agar selamat.

*Penulis merupakan dosen Prodi Teknik Sipil FT Universitas Muhammadiyah Yogyakarta