HIKMAH RAMADAN: Hidup Itu Singkat (Bagian-1)

Foto ilustrasi. - JIBI/Nicolous Irawan
27 April 2020 22:02 WIB M. Endriyo Susila Hikmah Ramadan Share :

Life is short, hidup itu singkat. Benarkah hidup dunia ini singkat? Jika pertanyaan itu diajukan kepada orang-orang yang masih hidup, jawabannya bisa saja beraneka ragam, akan tetapi jika yang ditanya adalah orang-orang yang sudah meninggalkan dunia, jawabannya akan seragam. Orang-orang yang sudah mati, baik ahli surga maupun ahli neraka, sama-sama menganggap bahwa kehidupan di dunia ini sangatlah singkat.

Mungkin karena mereka membandingkannya dengan lamanya kehidupan setelah mati yang tiada bertepi. Sama halnya, kita akan menganggap jarak perjalanan dari Jogja ke Jakarta itu pendek jika pembandingnya adalah perjalanan dari titik yang sama menuju ke kutup utara.

Dalam Alquran ada beberapa referensi berkaitan dengan hal ini, seperti yang terdapat dalam Shurah al-Mukminun ayat 112-113 dan Shurah an-Naazi’at ayat 46. Ketika penghuni surga ditanya, “berapa tahunkah kalian dahulu tinggal di Bumi (kam labistum fil ardli 'adada siniina)?” Mereka menjawab, “Kami tinggal di sana cuma sehari saja, atau bahkan setengah hari (labistnaa yauman aw ba'dla yaumin).” Para penghuni neraka pun memiliki persepsi serupa. Mereka menganggap singkatnya hidup di dunia hanya seperti berlalunya waktu sore atau pagi (ka-annahum yauma yaraunahaa lam yalbatsuu illaa 'asyiyyatan aw dluhaahaa).

Apa yang diharapkan dari kita dalam hidup yang singkat ini? Allah menginginkan agar kita melakukan kebajikan yang sebanyak-banyaknya. Bahkan ditegaskan dalam Alquran misi pokok bangsa jin dan manusia di dunia ini adalah untuk menyembah Allah saja (wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun).

Mengapa kita disuruh menyembah Allah, apakah Allah memang butuh disembah? Tentu saja Allah tidak butuh disembah. Kemulian Allah bersifat otentik, tidak bertambah karena disembah dan tidak berkurang karena tidak disembah. Oleh karena itu, kita beribadah kepada Allah sudah pasti bukan untuk kepentingan Allah, tapi justeru untuk kepentingan diri kita sendiri. Semua amal ibadah yang kita lakukan selama hidup di dunia akan menjadi bekal kita untuk menjalani kehidupan lain setelah kematian. Semakin jauh perjalanan, semakin banyak bekal yang harus dipersiapkan. Rasul bersabda, “Ad-dunya mazra’atul aakhirah (dunia adalah ladangnya akhirat)”, di dunia kita menanam, di akhirat kita akan mengetam.

Tapi, bagaimana kita bisa mengumpulkan bekal yang banyak sementara hidup begitu singkat? Semua menjadi mudah berkat rahmat Allah. Salah satu bentuk rahmat Allah adalah hadirnya bulan Ramadhan. Di bulan Ramadan, semua amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya. Bahkan ada satu malam yang nilai kebaikannya melebihi seribu bulan, malam Qadar namanya (lailatul qadri khairun min alfi syahrin). Bahkan sekedar merindukan hadirnya saja sudah diberi pahala. Tidak mengherankan jika kehadiran bulan Ramadhan selalu dirindukan oleh orang-orang yang beriman.

*Penulis merupakan Dosen Fakultas Hukum UMY