HIKMAH RAMADAN: Religiusitas dalam Media Sosial?

Ilustrasi medsos
05 Mei 2020 04:02 WIB Filosa Gita Sukmono Hikmah Ramadan Share :

“Marhaban ya Ramadan”, “Tak ada kata yang seindah dzikir, tak ada bulan seindah Ramadan” dan masih banyak lagi kalimat-kalimat bahkan paragraph yang muncul di dalam status media sosial ketika bulan suci Ramadan datang. Tetapi perkembangan hari ini media sosial tidak hanya untuk mengucapkan selamat berpuasa dan pembaruan status lainnya tetapi sampai pada aspek religius dari manusia, seperti berdoa dan beribadah kepada tuhan.
   
Sebelum membahas praktik religiusitas dalam media sosial, hari ini kita harus memahami sedikit tentang media sosial, media sosial membuat banyak masyarakat merasa nyaman berbicara apapun, membahas apapun, mengkritik apapun tanpa merasa perlu memikirkan etika dan norma yang berjalan di masyarakat. Media sosial sendiri kemudian coba didefinisikan oleh para ahli salah satunya Chris Garrett yang mengatakan bahwa media sosial adalah alat, jasa, dan komunikasi yang memfasilitasi hubungan antara orang dengan satu sama lain dan memiliki kepentingan yang sama.

Artinya media sosial ini pada awalnya untuk memfasilitasi orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama, hal inilah yang membuat banyak status seseorang jumlah like-nya minim tetapi ada juga status seseorang yang jumlah like-nya banyak. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua teman kita mempunyai kepentingan yang sama dengan kita.

Kembali kepada fenomena yang akan kita lihat tentang praktik religiusitas dalam media sosial yaitu berpindahnya ruang-ruang pribadi ke jalur publik, ibadah seperti doa dan bersedekah memang harusnya untuk konsumsi terbatas saja bukan untuk umum. Namun banyak para netizen berdoa dengan khusyuk di media sosial dan banyak juga netizen berstatus selebritis atau yang bersatutus netizen biasa memublikasikan aktivitas sedekahnya kepada orang tidak mampu di media sosial.

Meskipun akhirnya masalah ini kembali kepada niat, tetapi kembali kepada konsep media sosial di awal, maka bisa jadi meskipun niatnya baik pasti ada teman di media sosial yang merasa hal itu merupakan bentuk lain dari kesombongan atau mungkin riya’ bagi orang lain. Artinya sekali lagi hal ini akan mempengaruhi kadar nilai suatu ibadah, meskipun hal itu merupakan niat yang baik.


Jika kita teliti sebenarnya salah satu praktik religiusitas yang sering ditemui di media sosial seperti berdoa, ternyata ada adab dalam berdoa yang di atur dalam Al-Quran surah al-Isra ayat 110 Allah SWT berfirman "Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". Artinya ketika doa atau ibadah yang dilakukan di-posting di media sosial maka sebenarnya hal tersebut bentuk mengeraskan doa, karena sekali posting ratusan bahkan ribuan orang akan tahu apa yang diucapkan dalam doa dan apa yang dilakukan ketika ibadah.

Tulisan ini pada intinya mengajak kita semua untuk kembali meletakkan kegiatan ibadah di ruang-ruang pribadi, bukan di-posting di ranah publik. Karena apapun niat kita pasti media sosial melahirkan dua kutub dalam pertemanan yaitu teman-teman yang mempunyai kepentingan sama serta se-visi dan teman-teman yang tidak sepaham dengan status atau pendapat kita. Maka marilah mulai tinggalkan update kegiatan ibadah serta lantunan doa-doa kita di media sosial, cukup kita dan Allah SWT saja yang tahu apa isi doa-doa yang kita panjatkan dan apa saja sedekah yang kita lakukan, sehingga bisa menjadi tabungan kita di hari akhir kelak, wallahu a’lam bis-shawab.

*Penulis merupakan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta