HIKMAH RAMADAN: Meraih Keberkahan Lailatul Qadar dari Rumah

Foto Ilustrasi. - Ist/Freepik
10 Mei 2020 18:17 WIB Talqis Nurdianto Hikmah Ramadan Share :

Muslim mana yang tidak senang menyambut Ramadan dan menghidupkannya? Kecintaan, kesenangan dan kegembiraan ini sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. Beberapa saudara kita sudah dipanggil Allah baik sebelum masuk Ramadan, pertengahan bahkan saat menantikan hari kemenangan, Idulfitri. Bagaimana dengan kita? Kita tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana kita akan dipanggil Allah SWT, tapi kita bisa menyiapkan diri dan bekal terbaik, antara lain berjuang mendapatkan malam kemuliaan (lailatul qadar). Apakah bisa mendapatkannya dengan kondisi kita di rumah, saat pandemi ini?

Menggapai malam kemuliaan ini menjadi cita-cita setiap muslim di bulan Ramadan, baik dari yang remaja, pemuda bahkan orang tua sekalipun. Persiapan dilakukan dalam memburunya minimal meliputi persiapan jiwa, spiritual, fisik, ilmu, dan harta. Lailatul qadar harus diburu, ada unsur kesengajaan dan usaha keras untuk mendapatkannya, dikarenakan malam kemuliaan ini tidak akan menghampiri mereka yang tidak menginginkannya.

Pertama adalah persiapan jiwa. Persiapan ini dilakukan dengan tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Bagaimana membersihkan jiwa dari dosa besar dan kecil agar mudah diajak melaksanakan ibadah dan ketaatan atas perintah Allah dan Rasulullah. Yaitu dengan tobat yang sebenarnya. Setiap kita tidak terlepas dari dosa yang terlahir dari nafsu jahat dalam diri dan terpancar dari anggota tubuh kita. Allah memberikan peluang kepada setiap hamba-Nya untuk bertobat selama masih hidup.

Kedua adalah persiapan spiritual, yaitu memosisikan diri untuk taat dalam beribadah. Melaksanakan ibadah tidak sekadar menggugurkan kewajiban tapi mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban salat lima waktu beserta sunahnya, tilawah Alquran, berzikir dan berdoa kepada Allah SWT.

Ketiga persiapan fisik. Persiapan fisik juga penting karena kita beribadah selama Ramadan ini melibatkan fisik atau badan kita. Kesehatan fisik sangat mendukung seorang muslim dalam berpuasa seharian, berdiri melaksanakan salat, duduk berlama-lama membaca Alquran dan berzikir serta bermunajat kepada Allah. Amalan ini lebih khusyuk dilaksanakan apabila badan sehat.

Keempat persiapan ilmu. Beribadah dengan ilmu menjadikan sebab ibadah itu berkualitas. Ilmu yang diamalkan dalam bentuk ibadah menjadikan derajat pemiliknya terangkat di sisi Allah beberapa derajat.
“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Sebagaimana usaha kita untuk meraih keberkahan lailatul qadar juga dengan ilmunya, yaitu mengetahui waktunya dan bagaimana Rasulullah SAW memberi contoh pada kita. "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadar: 1-3)

Ilmu lain yang diperlukan antara lain bahwa lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjilnya. Sengaja dirahasiakan kapan waktunya agar kita berburu dan menghidupkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Kelima persiapan harta. Ketercukupan harta membantu ibadah kita lebih khusyuk tidak diburu-buru dengan tuntutan pekerjaan.

Oleh karena itu, dengan posisi kita berada di rumah, maka malam kemuliaan (lailatul qadar) ini bisa kita gapai dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Yaitu dengan beribadah yang wajib dan sunah pada setiap malamnya bersama keluarga di rumah. Semoga kita termasuk yang mendapatkan malam kemuliaan yang dijanjikan ini. Allahu a’lam

*Penulis merupakan Dosen PBA Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/Anggota Majelis Tabligh PWM DIY