OPINI: Covid-19 & Rivalitas China-AS

Ilustrasi tes cepat covid/19.
11 Mei 2020 05:02 WIB Darmansjah Djumala Aspirasi Share :

Dua pekan setelah Presiden China Xi Jinping menyatakan kemenangannya melawan Covid-19 dengan kunjungan ke Wuhan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bicara via telpon dengan Jinping. Dia memuji China yang memiliki pemahaman baik tentang corona dan mengajak China bekerjasama memeranginya. Jinping menyerukan perlunya AS dan China bersatu memerangi corona lewat kerjasama saling tukar informasi dan pengalaman.

Dalam takaran fatsun diplomasi, ajakan kerjasama antara dua negara adalah gimmick politik lumrah. Menariknya dalam pembicaraan Trump-Jinping bukan isi pembicaraannya. Namun timing-nya. Tatkala ajakan kerja sama itu dilambungkan pada saat kasus corona di AS sudah melampaui China, terbuka ruang interpretasi yang luas. Muncul pertanyaan, bagaimana memaknai ajakan kerja sama itu dalam dinamika rivalitas kepemimpinan global?

Rivalitas kepemimpinan global dalam konteks penanganan corona dapat disigi dari tiga aras observasi.

Pertama, terkait dampak isu corona dalam relasi AS-China. Sejak merebaknya corona pertama kali di Wuhan awal Januari lalu, hubungan AS-China menjadi meriang. China menduga virus celaka itu dibawa oleh tentara AS yang sedang mengikuti kompetisi militer di Wuhan. China tidak memberi akses bagi ahli kesehatan AS untuk mengamati proses penyebaran corona di Wuhan.

Trump sendiri, dengan sengaja menyebut virus itu dengan nama Chinese virus dalam konperensi pers. Tak berhenti disitu, AS menyalahkan China yang terlambat dalam menanganinya sehingga merebak tak terkendali hanya dalam hitungan hari. Dicurigai pula, otoritas China tidak transparan dalam informasi, baik kepada rakyatnya maupun lembaga internasional. Kedua belah pihak saling usir wartawannya.

Terlepas dari hal itu, satu hal yang jelas, isu corona telah membuhulkan rasa saling curiga antar kedua negara. Namun, justru di tengah suasana itu, China secara sistematis mencitrakan dirinya sebagai pemenang perang melawan corona dan siap membantu negara lain. Seolah hendak mementahkan politik pencitraan China, media Barat mengungkapkan sebaliknya.

Dari insiden diplomatik dan saling tuduh itu terhampar fenomena politik global, ternyata isu corona bukan masalah kesehatan semata, tetapi merambah jauh ke dalam rivalitas antara China dan AS.

Kedua, dari konteks rivalitas AS dan Uni Eropa vis a vis China. Pada 2010 Bank Dunia menobatkan China sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua. Dunia menduga China mampu menyalip AS sebagai negara terbesar dalam ukuran ekonomi.

Di bawah kepemimpinan Jinping China memang lebih agresif. Ranah rivalitasnya tidak sebatas dengan AS saja, tetapi juga kawasan Eropa. Kekuatan ekonomi diproyeksikan untuk menanamkan pengaruhnya dalam geo-politik Eropa – kawasan tradisional aliansi politik-militer AS.

Pada 2012, China menggelontorkan dana untuk negara bekas sosialis-komunis di Eropa Timur dalam paket bantuan ekonomi untuk infrastruktur dan hi-tech.

China juga membentuk Asian Infrastructure Investment Bank untuk membiayai program infrastruktur raksasa, Belt Road Initiative, yang menghubungkan China dengan daratan Eropa. Dalam konteks ini, agresivitas China di Eropa dibaca sebagai upaya mengimbangi Uni Eropa dan AS di panggung politik internasional.

Ketiga, terkait momentum pandemi corona bagi politik pencitraan China. Pandemi ini dimanfaatkan betul oleh China untuk menaikkan pamor politiknya di tataran global. China paham, salah satu tolok ukur kepemimpinan global adalah kemampuan membantu negara lain dalam skala luas pada saat dibutuhkan. Hal itulah yang disasar China ketika mereka mengirimkan puluhan tenaga medis dan puluhan ton peralatan kesehatan ke sejumlah negara lintas benua.

NARASI

Terselip dalam bantuan itu niat berbagi pengalaman sebagai role model dalam memerangi pandemi. Menariknya, semua bantuan disalurkan saat AS, Uni Eropa dan negara lainnya sedang kewalahan mengatasi wabah. China dengan cerdik membangun narasi besar: China dengan sistem politik partai tunggalnya berhasil mengalahkan corona dengan cara yang padu, kuat, cepat, dan efisien.

Narasi ini seolah menyindir demokrasi Barat yang lamban, gaduh dan panik dalam mengambil keputusan. Padahal kepemimpinan global dapat diraih apabila negara itu memiliki tiga unggul: kemakmuran, kekuatan militer dan pengakuan atas sistem penanganan krisis dunia (Campbel & Doshi, The Coronavirus Could Reshape Global Order, Foreign Affairs).

China seakan sedang memainkan dua kekuatan yang dimilikinya: kemakmuran ekonomi dan sistem penanganan krisis cepat dan efisien. Pandemi ini menjadi entry point bagus bagi China untuk mengukuhkan diri sebagai pesaing AS dalam kepemimpinan global.

Dengan bangkitnya ekonomi China, tatanan politik global sudah berubah. Oleh karena itu, seperti dikatakan oleh Fareed Zakaria (The New China Scare, Foreign Affairs), China harus diberi tempat yang pas di dalam lembaga pengambil keputusan global, termasuk dalam penanganan Covid 19.

Jika tidak mereka akan membangun secara sepihak struktur dan sistem sendiri, minimal di tataran regional. Dan itu tidak menguntungkan bagi masyarakat dunia, terutama Barat. Akhir skenario rivalitas AS-China masih bergelayut dalam terawang para pemerhati politik internasional. Kedua negara boleh jadi terus bersaing dalam meraih status kepemimpinan global. Namun dalam jangka pendek, dua negara sepakat untuk bekerjasama melawan musuh bersama: Covid 19.

*Penulis merupakan Dubes RI untuk Austria dan Slovenia

Sumber : Bisnis Indonesia