HIKMAH RAMADAN: Puasa & Regulasi Emosi di Masa Pandemi Covid-19

Ilustrasi emosi. - Harian Jogja
19 Mei 2020 18:17 WIB Novia Fetri Aliza, M. Psi. Hikmah Ramadan Share :

Emosi merupakan bagian dari perasaan manusia yang bisa terlihat ketika adanya rasa yang bergejolak dari dalam diri seseorang sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan pada situasi yang dihadapi. Regulasi emosi merupakan upaya yang dilakukan supaya rasa yang bergejolak itu tidak diekspresikan pada situasi yang maladaptive.

Tujuan dari regulasi emosi adalah membantu tubuh tetap stabil menghadapi berbagai situasi negative, sehingga tetap waras” dan produktif. Manusia yang tidak mampu meregulasi emosi maka akan terlihat seperti seseorang yang terabaikan dan dijauhi banyak orang serta frustasi dalam menjalankan aktivitas pribadi.

Faktor ini akan mempengaruhi situasi sosialnya, sebab kehadirannya tidak diterima oleh lingkungan. Ketidak mampuan manusia meregulasi emosi artinya mengikuti hawa nafsu, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 24.

Tentu saja dalam menjalankan kehidupan banyak situasi menekan yang akan dihadapi, sehingga peluang manusia lepas kendali juga semakin besar. Salah satunya situasi menekan yang dihadapi sekarang ini, pandemi Covid-19 memaksa manusia berhadapan dengan situasi di luar kebiasaannya.

Work from home, dan school from home mengharuskan semua anggota keluarga harus mengurung diri dan beraktivitas di dalam rumah. Ibu-ibu bekerja harus menjalankan kewajibannya sebagai pegawai sebuah perusahaan, ibu rumah tangga, guru untuk anak-anaknya, asisten rumah tangga, babysitter dalam waktu yang bersamaan.

Begitu juga dengan seorang ayah, yang biasanya bisa fokus mengerjakan pekerjaan di kantor kini harus dihadapkan dengan situasi menyelesaikan pekerjaan diiringi tangisan bayi, teriakan istri minta tolong ataupun suara anak-anak yang bertengkar terkait dengan masalah sepele namun berulang.

Anak-anak juga menghadapi situasi yang tidak kalah rumitnya dibandingkan orang dewasa, mereka tidak lagi memiliki kebebasan untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya, kerapkali menjadi sasaran kemarahan orangtua, namun harus mengerjakan pekerjaan sekolah yang mereka belum memahami materinya. Tidak ada piknik mauoun sekadar berkunjung ke ruamah tetangga.

Situasi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 bila dijalankan tanpa adanya bekal anggota keluarga  untuk meregulasi emosi bisa menghantarkan keluarga tersebut menjadi keluarga yang penuh toxit. Istilah rumahku surgaku hanya akan menjadi mimpi yang sulit untuk direalisasikan.

Namun demikian, Allah menghadirkan Ramadan di tengah keluarga muslim sebagai salah satu alternatif untuk meregulasi emosi. Harapannya menjalankan perintah Allah untuk menahan makan dan minum serta meningkatkan kuantitas beserta kualitas ibadah dengan penuh kesadaran menjadikan manusia semakin aware dengan lingkungan dan tidak mengekspresikan emosi/nafsu dengan membabi buta.

Banyak peneliti telah membuktikan adanya hubungan yang sangat signifikan antara peribadatan dan keterampilan regulasi emosi, salah satunya adalah Ikhwanisifa (2011) menyebutkan bahwa salat lima waktu yang dilakukan dengan teratur dapat meningkatkan keterampilan regulasi emosi penderita jantung koroner.

Jadi apalagi yang harus ditunggu untuk menciptakan kebahagiaan paripurna selama masa pandemi ini? Segera tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah dengan penuh kesadaran dan penuh pemaknaan, sehingga kita tergolong orang-orang yang muflihun dan menjalankan kehidupan yang tidak biasa ini dengan penuh kegembiraan. Pasalnya bila manusia tidak mampu meregulasi emosi maka faktor resiko paling rendah yang akan dihadapi adalah terpalingkannya dari kebenaran, sehingga situasi yang penuh emosional tersebut akan mengakibatkan manusia sulit berfikir objektif dan kesulitan membedakan hal yang benar dan yang salah. Bila ini terjadi maka rentetan peristiwa sulit akan selalu menghantui langkah kehidupan kita berikutnya. Wallahua’lam…

*Penulis adalah psikolog sekaligus dosen Komunikasi & Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta