OPINI: Bisnis sebagai Agen Perubahan Sosial

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
27 Mei 2020 13:07 WIB Tegar Satya Putra, SE.,M.Sc Aspirasi Share :

Siapa yang tidak tahu Gojek? Setiap kita berkendara pasti melihat logo gojek di jaket khas bewarna hijau yang dipakai para driver Gojek. Driver sebutan khusus untuk para tukang ojek yang bekerja di bawah naungan Gojek. Selain dari driver-nya yang banyak menghiasi jalanan perkotaan, kata Gojek dan Gofood sudah menjadi jargon yang kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan cuma menjadi jargon, gojek juga berdampak ekonomi signifikan di Indonesia dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang fleksibel dan menguntungkan. Perubahan yang Gojek bawa merupakan contoh nyata betapa kuatnya kekuatan sebuah entitas bisnis dalam kehidupan sosial manusia.

Antagonisasi Entitas Bisnis

Para ahli ekonomi dan manajemen bisnis sebenarnya sudah lama mengamati kekuatan laten entitas bisnis, namun yang disorot lebih ke efek negatif dari kekuatan tersebut. Para ahli tersebut percaya kekuatan dari entitas bisnis yang besar akan digunakan untuk kepentingan entitas tersebut.

Penyalahgunaan kekuatan ini menghasilkan kerugian bagi masyarakat, salah satu contohnya adalah ketidaksetaraan sosial; korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) pebisnis dengan pemerintah; kerusakan alam dan masih banyak lagi.

Dampak negatif tersebut menyebabkan para ilmuwan dan aktivis sosial cenderung mengantagoniskan konsep dan praktik bisnis. Bisnis dianggap sebagai sumber dari segala kejahatan dan masalah, kemudian terbentuklah persepsi bahwa aspek sosial dan aspek bisnis merupakan dua kutub magnet yang berlawanan. Padahal konsep dan praktek bisnis merupakan sebuah hal yang netral yang dampaknya bisa negatif maupun positif tergantung nilai yang dijunjung dari pemilik bisnis.

 The Body Shop

Keyakinan bahwa entitas bisnis dapat membawa perubahan positif inilah yang mendorong Annita Roddick mendirikan perusahaan kosmetik The Body Shop. Annita juga menyakini bahwa saat sebuah perusahaan berdiri, tanggung jawab perusahaan bukan hanya pada pemegang saham namun juga pada lingkungan dan komunitas. Berdasar dua keyakinan itu, The Body Shop berdiri pada 1976 dengan mengusung konsep/nilai keberlanjutan (sustainability) dalam semua aktivitas bisnisnya.

Konsep atau nilai keberlanjutan yang dimaksud semua usaha yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada masa sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Konsep keberlanjutan di The Body Shop diwujudkan dengan dua prinsip utama. Pertama, semua proses penelitian dan pengembangan produk tidak diujicobakan pada hewan (no animal testing). Animal testing adalah bentuk kejahatan pada hewan yang tidak sesuai dengan etika lingkungan.

Prinsip kedua, semua bahan baku didapatkan dengan transaksi dengan harga yang adil untuk petani (fair trade). Annita Roddick yakin fair trade merupakan cara yang lebih efektif membantu rakyat kecil dibandingkan hanya memberi bantuan.

Penerapan fair trade memberikan kemandirian bagi rakyat kecil untuk berbisnis sehingga pada akhirnya mereka bisa mandiri secara ekonomi. Usaha Anita Roddick membuahkan hasil baik dari segi keuangan dan bisnis maupun dari segi perubahan sosial.

Produk The Body Shop laris di pasaran karena orang yang membeli produk tersebut merasa mereka ikut andil dalam kebaikan dengan membeli produk kecantikan yang berkualitas. Selain berhasil dari segi penjualan, Anitta Roddick juga berhasil mengkampanyekan pelaranganan animal testing sampai akhirnya Inggris dan Eropa melarang praktik tersebut dalam proses produksi.

Annita Roddick juga sukses memperkenal konsep fair trade dalam pengadaan bahan baku produksi. Keberhasilan Annita Roddick akhirnnya menjadi contoh nyata bahwa entitas bisnis bisa menjadi agen perubahan yang sangkil di dunia.

 Pengajaran Kewirausahaan

Cerita Annita Roddick sangatlah inspiratif, namun Kita memerlukan Annita Annita lain untuk membuat dunia kita menjadi lebih baik. Kita memerlukan orang-orang yang bisa melihat titik imbang antara mencari keuntungan finansial dan melakukan perubahan sosial.

Penyeimbangan kedua aspek itu bisa dilakukan dengan pengajaran konsep kewirausahaan sosial. Kewirausahaan sosial merupakan pengembangan dari konsep kewirausahaan yang kita semua tahu. Kewirausahaan sudah menjadi jargon yang selalu digaung-gaungkan dan kewirausahaan sudah disisipkan ke kurikulum SMA dan universitas. 

Penyisipan mata pelajaran kewirausahaan diharapkan dapat mengajarkan siswa untuk paham konsep berwirausaha. Kritik saya terhadap pendidikan kewirausahaan di sekolah dan universitas adalah pengajarannya terlalu dangkal.

Pengajaran kewirausahaan malah cuma mendidik anak-anak untuk membuka bisnis, bukan untuk membentuk pola pikir wirausaha di benak mereka. Pola pikir wirausaha yang saya maksud adalah pola pikir yang tidak takut mengambil risiko untuk melakukan suatu perubahan.

Saya menganggap perombakan besar-besaran perlu dilakukan di aspek pengajaran kewirausahaan. Pengajaran kewirausahaan harusnya mengajak siswa atau mahasiswa mengenal masalah ekonomi dan masalah sosial di dunia nyata dan menantang mereka untuk mencari solusi bagi permasalahan itu.

Solusi tersebut harus mendatangkan manfaat bagi dia sendiri sebagai pencetusnya dan bagi orang sekitarnya dan pada akhirnya akan melahirkan sosok seperti Annita Roddick untuk menciptakan perubahan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

*Penulis merupakan Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta