OPINI: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021

Y.Sri Susilo, dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)
01 Juli 2020 20:37 WIB Media Digital Aspirasi Share :

    Pemerintah dan Komisi XI DPR telah menyepakati besaran asumsi dasar ekonomi makro dan target pembangunan dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2021 (RAPBN 2021) pada Senin (22/6/) lalu.

    Pertumbuhan ekonomi dipatok antara 4,5%  hingga 5,5%, sedangkan nilai tukar rupiah antara Rp13.700 hingga Rp14.900 per dolar AS. Selain pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar rupiah, pemerintah dan DPR mematok tingkat inflasi di antara 2-4% dan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun antara 6,29-8,29%. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka  (TPT) ditetapkan antara 7,7-9,1%, tingkat kemiskinan antara 9,2-9,7%, indeks gini sebesar 0,377-0,379, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) antara 72,78-72,95.

    Rapat kerja tersebut juga menyepakati nilai tukar petani dan nelayan berada pada kisaran 102-104. Dengan proyeksi asumsi makro RAPBN 2021 sebagai acuan penyusunan APBN 2021. Tulisan ini mencermati asumsi dasar ekonomi makro RAPBN 2021, khususnya asumsi pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan antara 4,5% dan 5,5%.

    Mencermati asumsi tersebut, terlihat bahwa pemerintah sangat optimistis terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021. Realistis atau tidak proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut? Tulisan ini mencoba memberikan jawaban terhadap pertanyaan itu.

    Konsumsi Rumah Tangga

    Pertumbuhan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh permintaan agregat dan penawaran ageregat. Permintaan agregat meliputi faktor atau variabel konsumsi rumah tangga (masyarakat), investasi swasta, pengeluaran pemerintah, dan net ekspor (selisih antara ekspor dengan impor).

    Dari sisi penawaran agregat, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah modal fisik, modal insani, modal finansial, modal sumber daya alam,  modal sosial dan kemajuan teknologi.

    Sebagai contoh dilihat dari sisi kontribusi konsumsi rumah tangga. Beberapa tahun terakhir, konsumsi rumah tangga menjadi faktor yang signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Sepanjang 2019 berjalan, perekonomian nasional masih mampu tumbuh di kisaran 5%. Penyebabnya, konsumsi rumah tangga masih kuat menjadi mesin pertumbuhan utama perekonomian nasional.

    Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam lima tahun terakhir rata-rata mencapai 56,2%. Kemudian pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 sebesar 5,17%. Jika dirinci, konsumsi rumah tangga masih menopang sebagian besar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari 5,17% pertumbuhan ekonomi nasional, konsumsi rumah tangga menyumbang 2,74%. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dengan porsi 2,17%. Kemudian, net ekspor tercatat minus 0,99%, kondisi tersebut dikarenakan laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dari ekspor. Adapun sisanya berasal dari kontribusi konsumsi lembaga non-profit rumah tangga  sebesar 0,1% dan konsumsi pemerintah sebesar 0,38%.

    Proyeksi

    Pemerintah sangat optimistis terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021. Proyeksi tersebut dipatok sekitar 4,5% hingga 5,5%. Proyeksi tersebut realistis atau tidak, penulis bandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dibuat oleh lembaga lain.

    Perekonomian Indonesia diperkirakan akan berkontraksi 1,0% pada 2020, demikian menurut prakiraan baru dari Asian Development Bank (ADB). Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,3% pada 2021 karena bertambahnya belanja atau konsumsi rumah tangga, membaiknya iklim investasi, dan mulai pulihnya perekonomian dunia. Menurut ADB (2020), perekonomian Indonesia bakal kembali pulih di 2021 jika pemerintah melakukan tindakan tegas dan efektif untuk menanggulangi dampak kesehatan dan ekonomi, khususnya melindungi kelompok miskin dan rentan.

    Internasional Monetary Fund (IMF) yang merilis World Economic Outlook (April 2020), memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi dunia akan mengarah ke skenario terburuk. Hal tersebut dapat terjadi apabila  pandemi Covid-19 masih bertahan lama dan atau kembali berkembang dalam fase kedua.

    IMF memperkirakan bahwa PDB global akan menyusut 3% pada 2020. Menurut IMF (2020), prediksi untuk Indonesia kemungkinan perekonomian akan tumbuh 0,5% pada 2020. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi oleh IMF akan membaik di 2021 dengan perkiraan tumbuh sebesar 8,2%.

    Bank Indonesia (BI) menyatakan sangat optimistis melihat ekonomi di 2021. Meskipun pandemi Covid-19 menekan perekonomian Indonesia, BI optimistis 2021 akan ada perbaikan signifikan. Gubernur BI mengatakan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 2,3% tahun ini.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 akan berada pada kisaran 6,6% hingga 7,1%. Capaian tersebut dapat terjadi karena didukung oleh besarnya stimulus fiskal dari pemerintah.

    Catatan Penutup

    Jika dibandingkan dengan proyeksi oleh lembaga lain maka proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 yang ditetapkan oleh pemerintah masih masuk akal (common sense). Proyeksi tersebut nantinya dapat dicapai sangat bergantung kepada beberapa asumsi yang digunakan dalam menyusun proyeksi.

    Salah satu asumsi pokok adalah pandemi Covid-19 relatif dapat dikendalikan dengan baik. Terlebih lagi jika vaksin dan obat virus Corona dapat ditemukan dan digunakan pada tahun depan.

    Asumsi lain yang penting adalah implementasi dari stimulus fiskal dan non-fiskal, pelonggaran moneter, dan stimulus perbankan selama periode 2020 dapat berjalan dengan optimal.

    Kondisi tersebut dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi pada 2021. Jika asumsi dasar ekonomi makro yang lain, seperti nilai tukar rupiah, inflasi, suku bunga SBN dan sebagainya dapat terpenuhi maka proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 sebesar 4,5% hingga 5,5% bukan merupakan impian.

    *Penulis Y. Sri Susilo, dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)