OPINI: Implikasi Bisnis Milenial Normal Baru

Ilustrasi UMKM - Bisnis Indonesia/Rachman

Covid-19 sudah berlangsung sekitar empat bulan lebih dan tanda-tanda untuk mereda masih merupakan tanda tanya besar bagi kita. Status tanggap darurat di DIY telah diperpanjang hingga 31 Juli 2020, dan masih memungkinkan untuk diperpanjang satu bulan ke depan, bila kondisinya belum menunjukkan perbaikan.

Pemda DIY melakukan perpanjangan tanggap darurat ini dengan harapan agar seluruh masyarakat dan dunia usaha benar-benar mempersiapkan diri untuk menyambut normal baru. Namun yang terjadi adalah masyarakat seolah mengalami euforia terhadap pelonggaran yang sebenarnya adalah kondisi tanggap darurat. Kawasan Malioboro dan beberapa pusat kumpul masyarakat seolah menafikkan betapa ancaman virus ini masih nyata adanya.

Selain berdampak pada aspek kesehatan, pandemi ini juga berdampak pada kondisi ekonomi dan perubahan perilaku masyarakat. Dunia usaha terkena dampak yang sangat signifikan, dimana tidak sedikit sektor usaha menjadi terpuruk sehingga harus melakukan PHK. Namun demikian dunia usaha harus bangkit kembali, dengan kata lain harus menjalankan aktivitas kembali secara bertahap.

Dengan demikian, baik masyarakat umum maupun pelaku usaha dengan segala aktivitasnya, tentunya harus penuh kesadaran untuk melaksanakan protokol kesehatan sebaik-baiknya. Di sisi yang lain, dampak pandemi dapat kita rasakan mengubah pola perilaku konsumen. Himbauan untuk saling berjaga jarak dan menghindari kontak fisik di tempat keramaian membuat konsumen cenderung meminati belanja secara online. Terlebih lagi dengan karakteristik generasi millennial yang cenderung sesuai atau lebih cepat beradaptasi dengan pola perubahan perilaku konsumen saat ini.

Generasi Milenial
Yuswohady dalam artikel Milennial Trends (2016) mendefinisikan generasi milenial sebagai generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980 hingga tahun 2000. Generasi ini sering disebut juga sebagai Gen-Y. Mereka disebut generasi milenial karena merekalah generasi yang hidup pada pergantian milenium, bersamaan dengan mulai masuknya teknologi digital ke semua sendi kehidupan.

Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, dan media sosial seperti facebook, twitter, IG dan lain-lain, sehingga dapat dikatakan bahwa generasi Y adalah generasi yang tumbuh di era Internet booming.

Menurut artikel Hitss.com, terdapat berbagai karakteristik dar generasi milenial antara lain: 1) milenial lebih percaya pada rekomendasi orang-orang di sekitar mereka, 2) menganggap pengalaman sebagi hal yang penting, 3) lebih antipati terhadap iklan, 4) lebih berani untuk bereksperimen, 5) konsumtif, 6) melakukan instant online buying, 7) menganggap digital tools lebih penting, 8) milenial punya segudang info sebelum membeli.

Perilaku Milenial
Generasi ini untuk mendapatkan sebuah produk cukup dengan membuka internet saja, mencari di mesin pencari, maka semua informasi akan diperoleh secara lengkap mulai dari harga sampai dengan review dari pengalaman konsumen sebelumnya. Selanjutnya meminta rekomendasi dan konfirmasi di media sosial ke teman-teman yang dipercaya.

Membeli pengalaman seakan menjadi pedoman hidup milenial. Mereka lebih senang menghabiskan uangnya untuk mencari pengalaman, seperti traveling, kulineran. Misalkan seorang milenial pergi ke kafe, dia akan lebih mementingkan suasana di kafe tersebut.

Selain itu, generasi milenial juga sangat terpengaruh dengan tayangan iklan dan trend yang dianggap sebagai suatu yang dinamis. Jika iklan yang ditampilkan oleh jenama dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dipercaya oleh milenial, maka suatu brand akan dilupakannya.

Dalam kondisi pandemi ini, generasi milenial juga menyukai untuk bereksperimen yang mereka yakini memberikan kenyamanan dan aktualisasi diri mereka. Akses informasi mudah diperoleh oleh milenial, hal ini akan menumbuhkan keberanian untuk mencoba hal-hal yang baru termasuk perilaku konsumtif. Generasi ini jarang punya loyalitas yang tinggi terhadap suatu jenama tertentu.

Milenial mempuyai hobi berbelanja, 65% lebih untuk kulineran, sisanya merambah dunia perjalanan. Hal ini dikarenakan generasi milenial adalah memiliki sifat konsumtif. Untuk merealisasikannya, generasi ini punya hobi belanja lewat internet. Melakukan pembelian melalui Gojek dan lain-lain baik untuk makanan, minuman, buah,sayur, tukang pijat dan cleaning service merupakan perilaku keseharian mereka. Dengan cara ini, segala kebutuhan secara instant akan terpenuhi. Ada istilah mager atau malas gerak untuk mereka yang melakukan instant online buying.

Banyak milenial lebih memilih peralatan apa yang akan mereka pakai baik untuk mendengarkan lagu, nonton film, hingga lari pagi menggunakan aplikasi GPS. Selanjutnya mereka unggah ke medsos, karena hal ini merupakan bagian dari gaya hidup mereka yaitu cenderung ingin tampil/terlihat di media sosial.

Untuk mendapatkan produk yang diinginkan, milenial akan melakukan pembandingan. Bagaimana cara yang mereka lakukan? Generasi ini akan melakukan pembandingan produk via Internet, detail semua informasi tentang produk dengan cepat akan mereka peroleh termasuk respon teman-teman mereka atas produk-produk tersebut.

Implikasi bisnis
Normal baru berarti menuju pada kebiasan baru atau tatanan baru yang berbeda dengan sebelumnya, yang sekarang telah berubah istilah menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)(SKH KR, 15 Juli 2020). Terkait dengan normal baru karena saat ini kita masih “bersanding” dengan Covid-19 seperti pada penjelasan di awal artikel, semua lapisan masyarakat termasuk generasi milenial dan dunia usaha dengan penuh kesadaran tinggi untuk melaksanakan dengan baik protokol kesehatan.

Mencermati berbagai karakteristik generasi milenial tersebut bisa kita simpulkan bahwa milenial tidak lain merupakan generasi “digital minded”, kemudian dikaitkan dengan normal baru, masyarakat antara lain harus mengurangi” kontak secara fisik”, atau meminimalisir kegiatan di luar rumah. Hal ini akan berimplikasi pada berbagai bisnis yang dilakukan secara online mestinya akan meningkat.

Tentunya juga akan muncul berbagai bisnis yang berbasis digital. Bisnis luring bisa berkolaborasi untuk melakukan penjualan secara online karena dipahami bersama bahwa penjualan secara fisik menurun secara signifikan. Sebagai contoh telah dibuat acara Hari Belanja Brand Lokal di kanal daring yang berlangsung pada 25 -27 April 2020. Ditargetkan diikuti oleh lebih dari1.000 merek lokal Tanah Air. Produk-produk merek lokal secara kualitas, desain, dan harga tidak kalah dari merek global.
Dengan uraian tersebut bahwa untuk menyongsong normal baru perlu disertai dengan disiplin tinggi seluruh masyarakat melaksanakan AKB. Selain itu, peru adanya kolaborasi sesama dunia usaha, maka perekonomian diharapkan akan berangsur-angsur membaik. Semoga.