Investasi Biru, Memanfaatkan Potensi Alam Berkelanjutan

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik

Dalam kurun waktu 2014-2019, ungkapan tenggelamkan sangat akrab. Ungkapan ini menjadi viral ketika Susi Pudjiastuti, Menteri Perikanan dan Kelautan periode 2014-2019, menggunakan kata tersebut sebagai peringatan bagi para kapal asing pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia.

Kata tersebut pada masa itu bukan hanya menjadi sebuah kata peringatan tetapi menjadi sebuah kebijakan yang dijalankan. Puluhan kapal asing pencuri ikan ditenggelamkan oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan.

Kebijakan ini dibuat untuk melindungi kekayaan laut Indonesia yang sering menjadi incaran nelayan asing. Mengapa Susi Pudjiastuti sangat geram dengan pencurian ikan di perairan Indonesia? Jawabannya adalah sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia maka Indonesia memiliki potensi kekayaan laut yang sangat besar, bukan hanya ikan, udang, lobster, kepiting saja namun juga kekayaan laut yang lain termasuk mineral, minyak dan gas.

Potensi ini jika tidak dilindungi akan menjadi incaran bangsa lain. Belajar dari sejarah bangsa Indonesia masa lalu yang menjadi incaran kolonialisme karena memiliki potensi rempah-rempah yang sangat besar dan sangat bernilai pada masa tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2020) selama empat tahun terakhir, sumbangan sektor perikanan terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif.

Namun data dari Badan Pusat Statistik (2020) juga menunjukkan sektor perikanan hanya berkontribusi sebesar 2,31% terhadap produk domestik bruto Indonesia. Hal ini berbeda dengan data World Bank (2019) yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki sektor perikanan terbesar kedua di dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Blue Economy
Potensi kelautan sebenarnya bukan hanya tentang perikanan dan produk turunannya, namun juga menyangkut aspek-aspek lain. Kajian tentang potensi ekonomi kelautan dan isinya dituangkan dalam konsep Blue Economy. Dalam buku the EU Blue Economy Report 2020 yang diterbitkan oleh European Commission menyatakan bahwa Blue Economy adalah mencakup semua kegiatan yang berbasis kelautan atau terkait kelautan.

Kegiatan berbasis kelautan yang paling banyak dilakukan adalah perikanan dan pariwisata. Potensi yang lain yang mungkin sudah mulai dieksplorasi adalah pemanfaatan rumput laut untuk industri makanan dan farmasi serta kosmetik. Beberapa potensi yang lain belum banyak termanfaatkan dengan optimal. Dengan potensi sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, maka potensi dari Blue Economy ini akan sangat besar bagi bangsa Indonesia.

Di samping itu pemanfaatan potensi dari Blue Economy secara berkelanjutan juga sangat dimungkinkan karena jika pemanfaatan tersebut dilakukan dengan benar maka cukup banyak potensi kelautan yang memiliki sifat terbaharukan. Oleh karena itu pemanfaatan potensi kelautan di negara kita harus didasari prinsip keberlanjutan, komprehensif, terintegrasi dan lintas bidang atau sektor.

Investasi Biru
Dari sisi keuangan pemanfaatan potensi kelautan ini membutuhkan investasi yang tidak kecil. Investasi pertama yang harus dilakukan adalah investasi dalam riset dan pengembangan yang ditujukan untuk mengetahui potensi apa saja yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan, bagaimana cara memanfaatkan, bagaimana menjaga keberlanjutannya, serta potensi pasar dan potensi ekonomi yang bisa diperoleh.

Menurut European Commission (2018) terdapat beberapa bidang atau sektor yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan dan diperlukan investasi yang cukup besar, seperti perlindungan pesisir, energi terbaharukan termasuk didalamnya adalah energi bayu dan energi gelombang laut, penyulingan air laut menjadi air tawar, serta sektor perikanan, pariwisata dan transportasi.

Saat ini Indonesia sudah mulai melakukan investasi besar di sektor perikanan, pariwisata dan transportasi walaupun masih dibutuhkan kebijakan lintas sektor yang lebih baik. Sebagai contoh pengembangan pariwisata terkadang masih mengabaikan aspek perlindungan lingkungan laut dan pesisir yang bisa berdampak negatif ke sektor perikanan.

Pengembangan potensi perikanan belum sepenuhnya didukung dengan pengembangan transportasi yang mendukung termasuk aspek pergudangan dan pemasaran hasil perikanan. Investasi untuk energi terbaharukan akan sangat mendukung pengurangan polusi dari penggunaan energi berbasis batu baru dan minyak bumi serta dapat mendukung ketersediaan energi listrik untuk rumah tangga dan industri khususnya industri perikanan khusunya untuk penyimpanan dan pengolahan hasil laut.

Investasi lain yang sangat penting dan sering kali dilupakan adalah investasi manusia, yaitu investasi untuk menyiapkan talenta-talenta yang memahami dengan baik potensi kelautan bangsa Indonesia, memiliki kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi untuk memanfaatkan potensi kelautan yang ada, memiliki wawasan yang baik tentang keberlanjutan, dan memiliki wawasan kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi.

Jika investasi manusia ini diabaikan maka potensi kelautan yang disediakan Tuhan tidak akan memberikan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia tetapi justru akan dinikmati oleh segelitir orang saja atau kelompok tertentu saja dan juga akan dinikmati oleh bangsa lain. Semoga memberi makna.