OPINI: Berani Investasi di Era New Normal

Tri Utomo Prasetyo, Dosen STIM YKPN Yogyakarta/Ist
14 Agustus 2020 20:57 WIB Media Digital Aspirasi Share :

Lima bulan sudah Covid-19 melanda Indonesia. Sementara di beberapa negara lain sudah menerapkan era new normal, Indonesia masih berusaha mencapainya. Beberapa wilayah sudah menerapkan new normal pada kehidupan sehari-hari, termasuk DIY. Dampak dari merebaknya virus SARS-CoV-2 juga membuat perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melemah. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY melaporkan kontraksi pertumbuhan ekonomi DIY sebesar 6,74% pada triwulan kedua 2020 (yoy) dan menjadi yang terendah se-pulau Jawa.

Penurunan perekonomian ini jauh lebih parah ketimbang triwulan pertama 2020 yang hanya mengalami kontraksi sebesar 0,17% (yoy). Sebagian masyarakat kehilangan sumber pendapatan selama pandemi ini sehingga menyababkan daya beli menurun. Penurunan daya beli masyarakat ini lah yang juga berkontribusi pada kontraksi ekonomi. Kondisi darurat yang memaksa dan tidak bisa dielakkan seperti ini harus dihadapi oleh tiap individu, siap atau tidak siap.

Seseorang yang telah bersiap dengan dana darurat untuk menghadapi kondisi seperti ini tidak akan terlalu terbebani. Mereka tetap mampu bertahan hidup mesikpun kehilangan pekerjaannya. Bagi mereka yang tidak siap, hanya dapat mengandalkan tabungannya, menjual asetnya, bahkan meminjam dana hanya untuk bertahan hidup. Belajar dari pengalaman ini, alangkah baiknya kita dapat selalu siap dalam kondisi apa pun. Dana darurat mungkin tidak akan cukup. Oleh karena itu, instrumen investasi yang siap dicairkan menjadi alternatif setelah dana darurat habis terpakai.

 Kenali Preferensi Risiko Anda

Konsep investasi tidak akan jauh dari tingkat pengembalian (return) dan juga risiko. High risk, high expected return. Jika Anda berinvestasi pada instrumen yang risikonya tinggi, maka Anda harus berharap return yang diberikan oleh instrumen tersebut tinggi. Sebaliknya, jika Anda berinvestasi pada instrumen berisiko rendah, maka janganlah berharap return-nya akan tinggi.

 Investasi pada Instrumen Keuangan

Selain pada aset fisik, seperti tanah, rumah, kendaraan, dan sebagainya, investasi juga dapat dilakukan pada aset keuangan, seperti deposito, reksa dana, obligasi, saham, dan lain sebagainya. Deposito memberikan pengembalian berupa bunga yang dibayarkan tiap bulan, seperti tabungan. Bedanya, penarikan deposito tidak dapat dilakukan sewaktu-waktu sehingga masih ada risiko likuiditas. Deposito dapat menjadi pilihan bagi Anda yang memiliki preferensi risiko rendah.

Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari investor untuk selanjutnya diinvestasikan dalam berbagai macam instrumen keuangan oleh Manajer Investasi (MI). Dengan membeli reksa dana, Anda berinvestasi pada berbagai macam insturmen sekaligus.

Saham juga dapat menjadi pilihan investasi. Keuntungan yang didapat bisa berupa selisih lebih harga jual dengan harga beli (capital gain) dan dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Banyak risiko yang melekat pada saham, di antaranya adalah risiko kebangkrutan, di mana perusahaan penerbit saham bangkrut. Saham merupakan instrumen investasi yang berisiko tinggi sehingga cocok bagi investor yang bersedia menerima risiko tinggi.

 Utamakan Likuiditas

Pada kondisi krisis seperti ini, masyarakat cenderung memilih untuk memegang uang tunai, atau setidaknya instrumen investasi yang dapat dengan mudah diubah menjadi kas. Bukan tidak beralasan, istilah cash is king memang ada benarnya karena adanya ketidakpastian. Uang tunai yang dipegang digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Jika kebutuhan masih tidak terpenuhi, maka mencairkan investasi bisa jadi alternatif. Namun, kita tidak akan tahu sampai kapan kondisi ini berlangsung, kapan vaksin Covid-19 benar-benar dianggap layak setelah clinical trials berakhir, kapan krisis akan terulang lagi, dan sejauh mana kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup sehingga kita perlu memperhatikan likuiditas dari instrumen yang digunakan untuk investasi.

 Reksa Dana sebagai Alternatif

Pada kondisi krisis seperti ini, likuiditas instrumen investasi akan sangat terasa manfaatnya. Anda tidak akan pernah tahu kapan pandemi ini berakhir, atau bahkan kapan krisis akan kembali melanda. Untuk itu, akan menjadi hal yang sangat bijak bila kita kembali memulai menyisihkan penghasilan untuk investasi. Reksa dana bisa menjadi alternatif investasi di era new normal ini karena karakteristik risiko yang cenderung moderat hingga rendah. Pertama, reksa dana dikelola oleh MI yang profesional. Oleh karena itu, reksa dana juga dapat menghasilkan keuntungan karena peningkatan NAB. Terakhir, reksa dana relatif mudah dicairkan karena MI yang menerbitkannya lah yang akan membeli reksa dana yang dijual oleh investor. Dengan begitu, Anda sebagai investor tidak perlu khawatir menawarkannya di pasar.

 *Penulis Tri Utomo Prasetyo, dosen STIM YKPN Yogyakarta