OPINI: Covid-19 Menerjang, Ekonomi Meradang

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
18 Agustus 2020 05:07 WIB Yulianti, Statistisi Ahli Muda BPS Kulonprogo Aspirasi Share :

Ibarat organ tubuh, bidang ekonomi berfungsi layaknya jantung yang memompa darah serta mengalirkan oksigen keseluruh tubuh. Peranannya sangat vital dalam memompa denyut kehidupan suatu negara.

Pandemi Covid-19 telah mengguncang perekonomian Indonesia hingga terancam di ambang resesi. Berdasar Berita Resmi Statistik yang dirilis oleh BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal II-2020 anjlok, terkontraksi hingga 5,32% (y-on-y) sedangkan Kuartal I-2020 terkontraksi sebesar 4,19% (q-to-q). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia Semester I-2020 dibandingkan dengan Semester I-2019 terkontraksi 1,26%.

Dari sisi lapangan usaha, transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi tertinggi pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia, kontribusinya sebesar -1,29% sedangkan dari sisi pengeluaran, sumber kontraksi tertinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia terjadi pada komponen konsumsi rumah tangga (PKRT) yakni sebesar -2,96%.Secara konsep, perekonomian Indonesia belum memasuki masa resesi karena pertumbuhan ekonomi negative baru terjadi di kuartal II-2020 sementara di kuartal I-2020, ekonomi Indonesia masih tumbuh sebesar 2,97% (y-on-y) meski melambat dibandingkan dengan kuartal IV-2019 yang tumbuh sebesar 4,97% (y-on-y).

Namun demikian kontraksi ekonomi di kuartal II dinilai cukup parah yang mencerminkan ekonomi lesu karena pandemi. Capaian tingkat pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV menjadi faktor penentu apakah Indonesia benar-benar akan memasuki fase resesi atau mampu pulih. Tantangan pemerintah makin berat untuk membangkitkan kembali geliat ekonomi di tengah badai pandemi yang kian meluas.

Upaya Pemulihan
Upaya pemulihan ekonomi hendaknya melihat komponen-komponen yang berkontribusi besar terhadap pembentukan PDB minus serta memberdayakan potensi-potensi yang dimiliki sehingga langkah-langkah yang diambil lebih efektif dan tepat sasaran.

Dari 17 kategori lapangan usaha yang ada, sektor pertanian pada kuartal II-2020 masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar16,24% (q-to-q) dan 2,19% (y-on-y). Meski pertumbuhannya melambat dibandingkan dengan kuartal II-2019 yang tumbuh hingga 5,33% (y-on-y). Di masa pandemi, sektor pertanian semestinya mampu menjadi penopang ketersediaan pangan bagi masyarakat. Ironisnya Indonesia masih harus impor beras mencapai jutaan ton setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.

Sektor pertanian yang menjadi ciri khas sebuah negara agraris makin terdesak, tergeser oleh sektor lain yang dipandang lebih mentereng dan menjanjikan. Realita di lapangan,sektor pertanian masih dipandang sebelah mata, karena dianggap kurang bergengsi dan tidak menjanjikan. Bagi kaum muda, bekerja di sektor pertanian bukanlah pilihan. Mereka lebih memilih bekerja di sektor lain yang dinilai lebih menghasilkan. Akibatnya sektor pertanian hanya digeluti nota bene oleh golongan usia tua karena tidak ada pilihan lain. Kondisi ini menjadi penyebab regenerasi petani tidak mengalami peningkatan bahkan cenderung menurun tiap tahunnya. Mengatasi hal ini semestinya pemerintah memikirkan kesejahteraan para pejuang pangan yang menjadi salah satu poin penting dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan.

Menetapkan standardisasi harga untuk produk-produk pertanian, membatasi impor bahan pangan serta mengurangi ketergantungan akan produk impor sehingga produk pangan lokal akan lebih terserap dan laku di pasaran. Dengan demikian perekonomian petani akan terangkat dan mereka dapat kembali tersenyum. Di tengah pandemi, ketersediaan pangan dalam negeri harus tercukupi untuk itu stimulus dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam upaya menggenjot produksi pangan melalui pemantapan di sektor pertanian.

Harus Patuh
Dari sisi pengeluaran, penurunan konsumsi rumah tangga akibat rendahnya daya beli masyarakat perlu menjadi kepedulian pemerintah sebagai langkah akselerasi pemulihan ekonomi di kuartal III dan IV. Mengingat komponen ini menjadi sumber kontraksi tertinggi terhadap pembentukan angka PDB minus di kuartal II-2020.

Daya beli masyarakat berpengaruh pada tingkat konsumsi yang berimbas pada jumlah permintaan. Semua komponen tersebut berkorelasi positif, jika daya beli meningkat maka konsumsi turut meningkat sehingga mendongkrak jumlah permintaan. Banyaknya permintaan akan menaikkan jumlah produksi barang dan jasa serta menumbuhkan investasi. Dapat dikatakan jika konsumsi rumah tangga meningkat signifikan maka mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi di kuartal selanjutnya.

Namun bagaimana daya beli masyarakat mampu terangkat mengingat sebagian besar penduduk Indonesia adalah golongan ekonomi menengah bawah yang pundi-pundi perekonomiannya sangat terpukul karena pandemic. Kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah untuk menggairahkan kembali daya beli masyarakat.

Keberhasilan menangani pandemi Covid-19 menjadi kunci keberhasilan pemulihan ekonomi nasional. Sebelum vaksin ditemukan, setiap aktivitas harus patuh pada protokol kesehatan. Pembiasaan baru harus terus diterapkan sebelum kondisi benar-benar kembali normal. Pandemi Covid-19 telah menekan perekonomian nasional. Apakah bangsa ini mampu melawan atau membiarkannya terus merajalela? Semua bergantung pada keseriusan dan besarnya daya upaya yang dilakukan dalam penanganannya.