OPINI: Privasi dan Pengungkapan Diri Remaja di Media Sosial-(Bagian II)

Ilustrasi medsos
12 September 2020 05:02 WIB Amalia Rizkyarini, Konselor Rifka Annisa Aspirasi Share :

Masa remaja memang selalu diidentikkan dengan masa pencarian jati diri, kesempatan mengeksplorasi banyak hal, kesempatan menjalin pertemanan yang lebih luas dibanding pada masa anak-anak, dan kesempatan-kesempatan lainnya. Seiring perkembangan teknologi informasi ini membuat mereka mudah mengakses dan mendapatkan apapun yang diinginkan atau dibutuhkan di media sosial. Selama masa pandemi ini akhirnya terlihat bahwa remaja dan anak muda adalah generasi paling adaptif menghadapi perubahan berbasis pada penggunaan internet dibandingkan generasi dibawahnya atau diatasnya.

Melalui media sosial, penggunanya bisa membagikan informasi apapun seperti nomor telepon, alamat, identitas, foto, dan menuliskan apa yang dia pikirkan atau rasakan kepada publik. Bahkan meskipun orang asing, mereka bisa mengetahui dengan siapa seseorang ini berteman, siapa saja anggota keluarganya, dan tempat mana saja yang sudah atau sedang dikunjungi. Batas-batas privasi individu di media online dan kehidupan fisik menjadi semakin tipis karena banyak masyarakat yang tidak merasa terancam dengan mengungkapkan dirinya secara penuh di sosial media.

Sebenarnya, sebagai individu kita perlu membuat batasan privasi. Menurut Burgoon (Purnamasari, 2016), privacy concern adalah sebuah kemampuan untuk membatasi akses fisik, interaksional, psikologis, informasi terhadap diri sendiri atau sekelompok orang. Remaja perlu mengetahui dan memiliki privacy concern dalam penggunaan media sosial untuk mengontrol dan memfilter informasi apa saja yang akan diungkapkan kepada publik dan aman untuk dirinya sebagai individu pengguna sosial media.

Informasi yang kita ungkapkan atau dikomunikasikan kepada orang lain dalam hubungan interpersonal ini disebut self disclosure. Menurut Wheeless & Grotz, self disclosure ini bervariasi dalam kesediaan mengungkapkan informasi, jumlah informasi yang diungkap, kedalaman informasi yang disampaikan, serta kejujuran dan keakuratan dalam pengungkapan. Pemahaman terkait privacy concern ini jelas berpengaruh pada sejauh mana seseorang bisa terbuka atau disclosure dengan orang lain. Fakta yang terjadi di lapangan, rendahnya literasi digital membuat banyak remaja menjadi terlalu terbuka terhadap informasi dan kehidupan pribadinya di sosial media, sehingga menambah faktor resiko kejahatan cyber ini terjadi.

Kemajuan teknologi informasi dan media sosial memang memudahkan aktivitas kita selama pandemi untuk berhubungan dengan orang lain yang berada berjauhan. Namun, tidak jarang justru penggunaan internet dan media sosial ini menjauhkan hubungan personal dengan orang-orang yang berada dalam satu rumah yang dapat ditemui secara fisik. Beberapa remaja yang banyak mengalihkan aktivitasnya secara online tanpa dampingan orang tua atau orang dewasa lain di sekitarnya, pada akhirnya justru memiliki hubungan yang tidak berkualitas dan minim kedekatan dengan orang-orang yang dekat secara fisik. Kemudian beberapa dari mereka menjadi rentan dengan mencari kedekatan lain di luar keluarga atau dengan orang asing di media sosial.

Ketika dirasa nyaman menjalin hubungan dengan orang asing bahkan yang tidak mereka kenali secara fisik seutuhnya, para remaja ini bisa dengan mudah dan percaya memberikan informasi-informasi pribadinya kepada orang asing tersebut, dari mulai data demografi hingga foto atau video pribadi. Jika itu jatuh pada tangan yang salah atau ditangan pelaku kekerasan seksual berbasis cyber, informasi-informasi pribadi tersebut dapat digunakan sebagai media atau alat untuk mengancam korban. Tentu hal-hal seperti itu menjadi sangat memprihatinkan.

Berdasarkan pengalaman pendampingan yang dilakukan Rifka Annisa pada remaja, seringkali remaja mengungkap banyak informasi pribadinya melakui media sosial sebagai bentuk pengalihan dari rasa bosan, kebutuhan untuk menunjukkan eksistensi diri, atau mencari teman bercerita atas kebutuhan afeksi yang dirasakan. Remaja bisa secara terbuka menceritakan hal-hal pribadinya tanpa mengetahui dampak dan resiko dari pengungkapan informasi yang dilakukannya tersebut. Cara berpikir tanpa mempertimbangkan konsekuensi atas setiap informasi yang telah disampaikan ke media sosial ini berbanding lurus dengan nihilnya pengetahuan remaja tentang keamanan dirinya di era digital.

Hilangnya batas privasi dan menjadi terlalu terbuka di media sosial ini kerap menimbulkan konsekuensi negatif untuk remaja. Kemudahan akses sosial media ini juga menyebabkan banyak remaja menjadi impulsif atau memiliki dorongan untuk melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu, dengan cepat dan tiba-tiba mengikuti suasana hati. Dalam bahasa jawa biasanya kita sebut dengan “sak deg – sak nyet”.

Sebagai orang dewasa kita perlu untuk memahami dan menyampaikan batas-batas digital kepada remaja. Yaitu, (1) Informasi apa saja yang aman dan tidak aman untuk dishare ke media sosial; (2) Memahami apa yang sebenarnya remaja butuhkan di sosial media; (3) Bagaimana menolak jika ada seseorang ingin meminta informasi pribadi kepada kita yang membuat kita tidak nyaman; (4) Bagaimana cara melaporkan akun yang menggunakan informasi pribadi kita tanpa seiizin kita. Setiap media memiliki cara yang berbeda-beda; (5) Membatasi update lokasi tempat-tempat mana saja yang telah kita kunjungi. Bisa dengan mematikan setting lokasi di smartphone; (6) Mengatur setting privasi siapa saja yang bisa menandai dan mengikuti kita di sosial media; (7) Salah satu yang penting adalah bagaimana mengakses bantuan atau mengetahui lembaga apa yang bisa menolong kita jika kita mengalami kekerasan berbasis gender online (KBGO); (8) Jika ingin lebih aman, upload foto tanpa menunjukkan lokasi atau jika ingin menunjukkan lokasi setidaknya kita upload saat kita sudah berpindah dan tidak berada di tempat tersebut.

Kesadaran atas keamanan literasi digital memang perlu ditumbuhkan, dan juga dirawat dengan update informasi-informasi terbaru mengenai perkembangan dunia internet, informasi dan teknologi. Selain itu hal yang terpenting lainnya adalah menyadari dan membuat batas bahwa kita perlu menjaga privasi diri sendiri, serta memilih informasi apa saja yang aman untuk diungkapkan ke media sosial.