OPINI: Single Destination, Single Management

Peta wilayah koordinatif Badan Otorita Borobudur (BOB) di DIY dan Jawa Tengah. / Ist. - dok.BOB

Sering ditemui pada suatu kawasan Destinasi Pariwisata dengan berbagai daya tarik wisata didalamnya, yang menjual produk suvenirnya hampir semuanya sama, kompetisi hanya dalam hal banting harga, terkadang terjadi penumpukan pengunjung pada salah satu daya tarik wisata sedangkan lainnya kosong, ini membuat ketidaknyamanan pengunjung dan pengelolapun kerepotan.

Kejadian ini bermula dari ego sektoral dan tata kelola yang kurang baik, adanya rasa iri manakala ditempat lain maju, mereka hanya ikut-ikutan mencontoh apa yang dilakukan oleh pihak lain tersebut, sehingga produk me too tersebar di mana-mana. Belum lagi, Destinasi Pariwisata yang berada pada kawasan geografi terletak di dua atau tiga wilayah administratif dengan koordinasi yang buruk, ini berpengaruh terhadap pembangunan pariwisata seperti aksesibilitas, amenitas, atraksi dan promosi, berdampak pada pelayanan yang tidak standard, padahal pembangunan kepariwisataan bersifat borderless yaitu pembangunan dan pengelolaannya tanpa batas, baik batas administrasi geografis maupun lintas sektor.

Adanya kejadian-kejadian di atas, menunjukan sebuah Destinasi Pariwisata perlu dikelola secara profesional guna mengoptimalkan manfaat yang inklusif bagi masyarakat dan lingkungan, hal ini dapat didekati melalui Destination Management Orgnization (DMO) yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing, kredibilitas bisnis, menyeimbangkan penerapan nilai etika, estetika, dan menciptakan kualitas pengalaman berwisata.

Untuk dapat melakukan transformasi menuju DMO, diperlukan kesadaran kolektif para pelaku wisata yang ada di destinasi, baik asosiasi, industri, akademisi, pengelola DTW maupun pemerintah, untuk memajukan dan meningkatkan daya saing destinasi itu sendiri. Kesadaran ini terutama dalam pembuatan kesepakatan, pengambilan keputusan, manfaat langsung dan tidak langsung terhadap unsur-unsur pendukung, juga terkait dengan keseimbangan kewenangan yang harus dibahas dan diputuskan bersama-sama.

Selain itu, seluruh unsur yang ada harus didorong untuk berpikir partisipasi aktif, keterpaduan, kolaboratif dan keberlanjutan, agar terjadi cohesifness di antara para pemangku kepentingan dan terpeliharanya kawasan destinasi dengan baik.

Musyawarah mufakat
Dalam situasi dan kondisi sepert ini diperlukan kepemimpinan yang mampu menjembatani, mensinergikan, memberdayakan semua unsur demi untuk kepentingan bersama, serta mampu menganalisis kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan yang dihadapi Destinasi Pariwisata. Kepemimpinan ini lebih bersifat interface leader yang dipilih berdasarkan musyawarah mufakat dari seluruh unsur di dalam destinasi yang ada.

Pengelolaan dengan format DMO, dilakukan secara terstruktur dan terintegrasi mencakup fungsi koordinasi, perencanaan, implementasi dan pengendalian, yang dilakukan secara inovatif dan sistemik melalui pemanfaatan jejaring dan teknologi, agar memunculkan commercial value terhadap produk dan jasa yang dihasilkan sehingga kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat meningkat.

Perlu dieksplore kapasitas kearifan lokal di masing-masing daya tarik wisata, ini perlu didiskusikan oleh seluruh unsur didalam destinasi, agar memunculkan kesepakatan tentang kekhasan masing-masing daya tarik wisata. Adanya kekhasan ini, dapat diikuti oleh produk turunannya, seperti bentuk gerbang, fasat bangunan, suvenir sehingga masing-masing daya tarik wisata memiliki kekhasan, lokalitas yang pada akhirnya mempunyai value preposition yang tinggi.

Pembuatan zonasi juga penting yaitu untuk mengelompokan unsur-unsur yang ada di destinasi khususnya yang mempunyai peranan dan fungsi yang sama. Zona inti yaitu sebagai main attraction, zona penyangga memisahkan zona inti dan pendukung dan zona pelayanan yaitu seluruh aktifitas dan fasilitas pendukung yang dikelompokan. Adanya zonasi akan menguatkan tema-tema tertentu di destinasi, sehingga story telling dapat dibuat pada setiap zonanya.

Sertifikasi
Pengaturan aksesibilitas diperlukan untuk merangkai semua daya tarik wisata agar terintegrasi, ditambah penyusunan travel pattern agar penyebaran wisatawan merata, carrying capacity dapat optimal, length of stay dapat diperpanjang, dan dapat meminimalisir dampak negatif dari kegiatan wisata, sehingga wisatawan dapat menikmati semua daya tarik wisata yang ada dengan, nyaman, aman dan lancar.

Sumber daya manusia yang ada di daya tarik wisata perlu diberikan pelatihan, bimbingan teknis dan peningkatan kompetensi, sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing, dan didorong ikut proses sertifikasi profesi agar lebih profesional. Ini akan membuat keseragaman kompetensi dimasing-masing daya tarik wisata yang berada dalam satu destinasi.

Pemerintah melakukan pembinaan, membuat kebijakan, sinkronisasi, dan dukungan untuk mentriger destinasi agar aktif meningkatkan kuantitas dan kualitas produk maupun jasanya, yaitu melalui pelatihan, penyelenggaraan lomba-lomba kepariwisataan.

Pemasaran menggunakan platform digital, agar pangsa pasarnya targeted dan segmented, membuat wisatawan tertarik dan mudah untuk mengakses informasi yang diperlukan dan membeli paket secara online. Konten story telling diperlukan untuk menceritakan kekhasan dimasing-masing daya tarik wisata, dan berbagai fasilitas pendukung yang siap menerima wisatawan.

Paket harga dengan sistem bundling antardaya tarik wisata akan lebih menarik buat wisatawan karena lebih hemat dan praktis.

Dengan adanya DMO tercipta single destination single management diharapkan ego sektoral tidak ada lagi, produk dan jasa yang khas di daya tarik wisata menjadi semakin kuat, usaha dapat dijalankan sesuai dengan harapan bersama dan daya saing Destinasi Pariwisata menjadi tinggi.