OPINI: Pandemi dan Nasib Petani

Petani menampih gabah. - Antara
17 Oktober 2020 05:02 WIB Khudori, Anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan Aspirasi Share :

Peringatan Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober, tahun ini betul-betul berbeda. Pandemi Covid-19 membuat pemerintah tak melangsungkan peringatan yang mempertemukan banyak orang. Bahkan, pemerintah juga tidak membuat topik lokal Hari Pangan Sedunia yang biasa diadaptasi dari topik FAO.

Karena itu, pada tempatnya untuk merefleksikan ulang bagaimana nasib petani saat Hari Pangan ini. Refleksi ini relevan dengan tema FAO: “Grow, Nourish, Sustain. Together”. Lewat tema ini FAO hendak mengajak semua pihak untuk merefleksikan ulang bagaimana penghargaan kita kepada produsen dan pahlawan pangan: para petani.

Coba simak statistik sederhana produksi aneka pangan pada 2018: 59,2 ton gabah kering giling (GKG), 30 juta ton jagung, 1,2 juta ton gula, dan 982.598 ton kedelai. Jika harga padi Rp5.000/kg GKG, Rp4.000/kg jagung, Rp10.000/kg gula, dan Rp7.500/kg kedelai, total nilai empat komoditas ini lebih Rp435 triliun. Siapakah produsen empat komoditas itu?

Tidak lain adalah pertanian skala kecil. Tidak banyak kekuatan korporasi di Indonesia yang bisa melebihi kekuatan petani kecil. Hebatnya lagi, para petani ini memakai modal sendiri, tidak menanggung utang. Bahkan gagal panen pun ditanggung sendiri.

Apa sumbangsih negara buat para petani? Boleh dibilang amat minim. Aneka skim asuransi telah dikenalkan tetapi belum menjangkau semua petani dalam arti luas. Hal yang amat menyedihkan: petani tidak dijamin menerima harga menguntungkan. Apabila harga hasil panen jatuh, petani berjuang sendiri. Sebaliknya, saat baru menikmati sedikit kenaikan harga, konsumen ribut. Pembelaan negara pun bias pada konsumen.

Pertanian skala kecil sebenarnya kekuatan ekonomi domestik yang super tangguh. Hal ini terbukti saat menghadapi krisis 1998, 2007—2008, dan pandemi Covid-19. Sayangnya, kekuatan ini lebih banyak disia-siakan. Indikatornya sederhana: pemilikan tanah petani kian mengecil.

Ini ditandai oleh terus mengecilnya porsi aktivitas pertanian dalam menopang pendapatan keluarga. Perbankan lebih banyak menyedot uang dari perdesaan ketimbang menyalurkan. Harga produk hasil pertanian terus tertekan karena diatur ketat. Di sisi lain, warga desa mesti menebus produk non-pertanian yang harganya terus membubung. Jika ada investasi di desa, bukan untuk membangun tapi menyedot tenaga dan bahan mentah murah.

Saat investasi merosot, toko, warung, kafe dan restoran tutup, acara kolosal dilarang, mesin pabrik berhenti menderu, transportasi lunglai, logistik tersendat, dan perdagangan ambruk karena Covid-19, sektor pertanian/pangan tetap bertahan.

Saat pertumbuhan ekonomi negatif 5,2% pada triwulan II 2020, sektor pertanian tumbuh 2,19%. Sektor pertanian jadi satu-satunya sektor yang tumbuh tatkala sektor lain terpuruk. Sebagai kebutuhan dasar, pangan tetap dikonsumsi saat pandemi atau normal.

Berbeda dengan sektor pariwisata misalnya, karakteristik sektor pertanian lebih mudah beradaptasi untuk melawan pandemi dengan menerapkan 3M: menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. Karena itu, belum ada kejadian sektor pertanian jadi klaster penularan Covid-19. Dengan itu semua, produksi pangan di sentra-sentra wilayah produsen pangan di Tanah Air tetap berlangsung tanpa gangguan berarti.

Pertanian juga diuntungkan kemarau basah tahun ini. Menurut BMKG, meskipun kemarau terjadi sejak Juni 2020, di sejumlah sentra produksi pangan masih turun hujan. Termasuk di musim gadu (Juni—September). Hal ini salah satu penjelas mengapa produksi padi tahun ini tetap bagus. Tidak menurun drastis seperti perkiraan awal tahun. Bahkan ada peluang produksi 2020 lebih besar sedikit dari produksi tahun lalu.

Produksi padi periode Januari—November 2020 diperkirakan mencapai 30,42 juta ton setara beras (BPS, Agustus 2020), lebih besar sedikit dari periode 2019 (30,33 juta ton). Tentu peran Kementan mendampingi petani secara intensif di lapangan berperan penting.

Masalahnya, karena daya beli warga belum membaik, hasil produksi pertanian petani tak seluruhnya terserap pasar. Pembatasan sosial berskala besar membuat kapasitas operasi aneka usaha hanya beroperasi minimal. Padahal, mereka inilah yang menyerap hasil produksi petani. Akhirnya terjadi diskoneksi antara pasokan dan permintaan, terutama menimpa produk aneka sayuran seperti bawang, cabai, dan tomat. Juga produk peternakan, baik telur maupun daging ayam.

Hasil peternakan konsisten menurun tiga bulan beruntun, sedangkan produk hortikultura menurun empat bulan berturut-turut. Anjloknya harga kedua produk subsektor pertanian ini memberi andil deflasi tiga bulan beruntun (Juli—September).

Deflasi beruntun pertanda terjadi depresi. Ini sinyal buruk bagi sektor pertanian, karena taruhannya adalah kontinuitas produksi pangan, hal penting saat pandemi. Hasil pertanian yang tak terserap pasar membuat petani kehabisan modal untuk berproduksi pada musim berikutnya. Jika mereka berhenti berproduksi, dan terjadi dalam skala luas dan masif, tentu berujung pada ancaman ketersediaan pangan bagi 267 juta warga.

Sayangnya, dari Rp695,2 triliun anggaran pemulihan ekonomi nasional tidak sepeserpun dialokasikan khusus buat membantu petani. Seperti warga lain, petani membutuhkan perlindungan dan jaminan. Momentum Hari Pangan mestinya menyadarkan kita untuk menghargai peran penting petani.

Sumber : Bisnis Indonesia