Bisnis Korporasi, Perbankan dan Inovasi Teknologi untuk Ekonomi Petani dan Nelayan

Erni Marwati, Karyawan Astra Motor / ist
10 November 2020 23:27 WIB Erni Marwati, Karyawan Astra Motor Aspirasi Share :

Tahun ini semua masyarakat dunia dihadapkan pada sebuah periode suram dengan datangnya pandemi Covid-19. Bak bola salju, dampak yang timbul merembet ke hampir semua sektor, dan sektor perekonomian sebagai faktor yang paling serius terdampak virus ini. Berdasarkan Laporan Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32%. Sebelumnya, pada kuartal I 2020, BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Idonesia hanya tumbuh sebesar 2,97%, turun jauh dari pertumbuhan sebesar 5,02% pada periode yang sama ditahun 2019 lalu. Lalu, bagaimanakah dampak dari adanya virus ini terhadap sektor pertanian dan kelautan?

Di tengah pandemi Covid 19 ini, pertanian merupakan salah satu sektor usaha yang masih mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan II 2020. Namun, di tengah zaman yang semakin modern dan teknologi semakin canggih dan berkembang secara massif ini, nasib petani dan nelayan tidak kunjung berubah secara signifikan.

Ketika para konglomerasi di bidang pertanian dan nelayan meraih keuntungan besar karena bisa mengendalikan harga pasar atas hasil pertanian dan tangkapan ikan, nasib petani dan nelayan miskin tidak ikut terangkat, terutama petani dan nelayan tradisional yang sebagian besar berdomisili di wilayah desa pinggiran, seolah tak tersentuh dengan kebijakan dan upaya pemerintah yang selama ini terus dilakukan untuk menggenjot perekonomian petani dan nelayan. Hal ini tentu saja menjadi masalah kita bersama yang perlu dicari pemecahannya.

Kesejahteraan Petani dan Nelayan

Sebelum kita bahas alternatif apa yang bisa diambil untuk meningkatkan perekonomian petani dan nelayan, kita perlu menarik akar masalah akar masalah dari banyaknya petani yang masih berada di below average ini, di antaranya yaitu:

  1. Minimnya Generasi Petani dan Nelayan Modern yang Paham dengan Teknologi

Saat ini dunia sudah memasuki revolusi industri 4.0, yang ditandai dengan automasi penggunaan mesin yang terintegrasi jaringan internet. Digitalisasi juga telah mempengaruhi semua aktivitas, sehingga semua berevolusi menjadi cepat dan presisi. Namun sayangnya, petani dan nelayan sebagai pelaku utama sektor pertanian dan kelautan selama ini kurang responsive terhadap perubahan. Saat ini masih banyak petani dan nelayan yang cara bertani dan menangkap ikan dengan cara konvensional. Sebagian besar dari mereka masih berpendidikan rendah, sehingga keinginan untuk melakukan inovasi dan menambah pengetahuan untuk meningkatkan hasil panen maupun hasil tangkapan laut mereka masih sangat kurang. Jangankan untuk bisa akses Internet, untuk bisa mengoperasikan HP saja terkadang mereka masih gagap, terutama untuk petani dan nelayan yang usianya di atas 45 tahun, sehingga cenderung hanya bertanam atau menangkap ikan sesukanya.

Di sisi lain, generasi muda saat ini enggan menjadi petani ataupun nelayan. Di mata mereka, menjadi petani atau nelayan termasuk profesi yang kurang bisa menjanjikan. Kalangan muda saat ini yang notabene mempunya kemampuan lebih baik secara pengetahuan maupun teknologi, akan lebih memilih kerja kantoran/pabrik. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, tidak menutup kemungkinan bangsa yang disebut negara agraris dan maritim ini justru kekurangan pangan dan import beras dan hasil laut dari negara lain.

  1. Kurangnya Kesadaran Masyarakat Petani dan Nelayan akan Pentingnya bergabung dalam Kelompok Tani /Nelayan yang Berbadah Hukum

Selama ini masih sedikit petani atau nelayan yang tergabung dalam kelompok tani atau nelayan yang berbadan hukum. Padahal banyak manfaat yang bisa diperoleh apabila bergabung dalam kelompok tani atau nelayan ini, diantaranya sebagai wadah untuk saling sharing baik tentang dunia pertanian maupun perikanan, proses belajar memimpin dan meningkatkan tanggungjawab, mengembangkan kerjasama, melatih anggota untuk berfikir dan musyawarah, maupun mempererat silaturahmi antaranggota. Di samping itu, apabila kelompok tani dan nelayan ini berbadan hukum, pastinya akan lebih diperhatikan oleh pemerintah daerah setempat, seperti kemudahahan dalam perolehan pupuk maupun dalam hal pembiayaan.

  1. Rendahnya Tingkat Literasi dan Inklusi Keuangan di Kalangan Petani dan Nelayan

Di zaman yang serba digital ini sebagian besar masyarakat tentunya sudah terbiasa dengan layanan perbankan. Dari pihak bank pun berlomba-lomba meluncurkan berbagai macam produk untuk mempermudah layanan konsumen mereka. Bahkan tak jarang masyarakat yang memiliki lebih dari satu rekening di bank yang berbeda-beda. Namun, coba kita tengok masyarakat nelayan yang tinggal di pesisir atau petani yang tinggal di pelosok. Rata-rata masyarakat yang berasal dari ekonomi bawah atau berpendapatan rendah dan tinggal di daerah terpencil tidak memiliki akses keuangan (unbanked), sehingga layanan perbankan kurang bisa menyentuh masyarakat di daerah tersebut. Dampaknya, mereka akan kesulitan untuk bisa mengembangkan usahanya.

Model Inklusi Keuangan

Setelah kita mengetahui beberapa penyebab dari kurang meratanya kesejahteraan ekonomi petani dan nelayan ini, alternative solusi yang bisa kita lakukan ialah :

  1. Perbanyak Regenerasi Petani dan Nelayan Milenial

Jika selama ini profesi petani masih dipandang sebelah mata, sudah saatnya kita membuka mata generasi muda kita bahwa dengan menjadi petani juga tetap bisa mendulang kesuksesan. Indonesia butuh anaka-anak milenial yang berani menjadi petani seperti:

  1. Raga, sang mantan office boy yang berasal dari Bantul ini sukses mengubah hidupnya dengan menjadi petani bawang merah dan cabai, penghasilannya bahkan bisa menyentuh angka Rp15 juta per bulan.
  2. Dengan hanya bermodalkan Rp 5 juta, Rasnoto yang berasal dari Indramayu menjadi petani penyedia bibit dan budidaya bawang merah dan sayuran dengan omzet Rp 250 juta per bulan.
  3. Ahmad Mu’tamir, sang petani kentang dengan omzet rata-rata Rp120-170 juta per bulan.
  4. Lewat Pertanian Hidroponik usaha Blu Farm yang didirikan pada 2017 di Bogor menccapai omzet sebesar Rp 800 juta per bulan.
  5. Taufik Hidayat, sang petani jamur dari Pengalengan yang berhasil meraup untung Rp165 juta per bulan.

 ***

  1. Manfaatkan Perkembangan Teknologi berbasis Digitalisasi

Perkembangan cepat teknologi saat ini memang perlu ditangkap dan diinisiasi para petani dan nelayan kita. Lewat perkembangan teknologi ini, petani dan nelayan milenial harus dipikat dan ditarik agar melirik dunia pertanian dan kelautan cerdas, dan bahkan bisa menciptakan aplikasi yang memudahkan nelayan dan petani lain untuk mengakses informasi, misalnya dengan informasi mengenai bibit unggul tanaman, membuat persemaian, pengolahan tanah, penanaman bibit unggul, jenis pupuk dan obat pembasmi hama, pengolahan produksi pertanian sampai proses distribusi produk pertanian. Sedangkan jenis informasi yang dibutuhkan nelayan misalnya informasi kondisi cuaca di laut, harga jenis ikan segar di darat maupun informasi keberadaan bahan bakar minyak untuk operasional setiap harinya.

  1. Edukasi dan Sosialiasi ke Petani dan Nelayan akan Pentingnya Bergabung dengan Kelompok Tani atau Nelayan.

Edukasi ini penting dilakukan oleh pemerintah untuk mengubah mindset para petani dan nelayan akan banyaknya manfaat yang bisa diperoleh apabila mereka tergabung dalam sebuah kelompok tani atau nelayan.

  1. Membentuk korporasi dengan BUMN/BUMD/perusahaan swasta besar yang memiliki peran untuk mendampingi kelompok tani dan nelayan hingga bisnisnya berjalan.
  2. 5. Kerja sama dengan Financial Technology (Fintech)

Inklusi keuangan memungkinkan orang untuk menabung ataupun meminjam uang untuk mengembangkan bisnisnya. Memiliki akses ke layanan keuangan merupakan langkah tepat untuk menunjang perekonomian.

***

Namun sayangnya tidak banyak petani dan nelayan di pedalaman yang belum mempunyai akses ke dunia perbankan. Beruntung, perkembangan teknologi informasi dan Internet begitu pesat, sehingga bermunculan perusahaan Financial Technology (Fintech) yang sangat dibutuhkan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadirkan regulasi Fintech melalui POJK Nomor 77/2016 tentang P2P Lending. Dengan aturan ini, perusahaan fintech bisa menyasar nasabah yang belum tersentuh institusi perbankan dan bisa memberikan penyaluran pembiayaan dengan nilai kredit maksimal sebesar Rp 2 miliar.

Melalui fintech ini, diharapkan masyarakat yang belum tersentuh akses perbankan, terutama di kalangan petani dan nelayan dilakukan pembinaan dan diberikan dana pembiayaan guna mengembangkan bisnis sehingga suatu saat bisa menjadi bankable.

Lewat fintech ini, OJK berupaya untuk mendorong pemahaman dan awareness masyarakat (dalam hal ini petani dan nelayan) terhadap inklusi keuangan, sehingga terdapat peningkatan jumlah masyarakat yang menggunakan produk atau jasa layanan keuangan di berbagai industri keuangan.

Dari pemaparan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat petani dan nelayan diperlukan sinergitas dari beberapa sisi, yaitu dari pelaku utamanya (regenerasi petani dan nelayan milenial), pendampingan oleh BUMN/BUMD/perusahaan swasta besar kepada kelompok tani dan nelayan, maupun membangun ekosistem bisnis korporasi yang dihubungkan dengan perbankan dan inovasi teknologi (salah satunya fintech).

Dengan adanya korporasi ini pembenahan manajemen bisa lebih mudah dilakukan, mulai dari pembibitan sampai pengolahan hasil panen, pengemasan, branding, strategi pemasaran, kemudahan akses pembiayaan kepada petani dan nelayan. Apabila pembenahan dari semua sisi tersebut bisa terwujud, maka awareness masyarakat terhadap inklusi keuangan menjadi meningkat, dan yang lebih penting ialah adanya peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan.