RIFKA ANNISA: Hero Syndrome dalam Sebuah Hubungan

Ilustrasi. - Freepik
20 November 2020 23:27 WIB Media Digital Aspirasi Share :

Dear Rifka Annisa,

Selamat pagi Kakak, saya ingin bercerita terkait masalah yang selama ini saya alami. Perkenalkan nama saya Sila, usia 20 tahun, saat ini sebagai mahasiswa di Jogja. Selama ini saya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang merupakan kakak tingkat saya di kampus. Laki-laki ini sebenarnya juga salah satu teman satu organisasi daerah karena saya dan dia berasal dari daerah yang sama. Orang tua saya dan orang tua dia tahu bahwa kami sama-sama menjalin  hubungan.

Satu tahun pertama hubungan kami baik-baik saja, tidak ada konflik yang berarti. Namun, di tahun kedua masalah mulai muncul. Kami sering kali berdebat dan sering kali berujung dia memukul saya karena saya selalu “ngeyelan” menurut dia. Saya tahu hubungan saya saat ini sudah tidak sehat tapi saya secara pribadi sulit sekali untuk pisah darinya. Hal ini karena saat pertama kali saya merantau, orang tua menitipkan saya padanya untuk menjaga saya. Begitu pun dengan orang tua laki-laki ini juga percaya pada saya, karena selama menjalin hubungan dengan saya mereka mengatakan bahwa perilakunya menjadi lebih baik.

Tidak hanya itu, saya sering juga membantu dia untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, jadi ketika akan memutuskan untuk pisah dari hubungan ini berat bagi saya. Saya merasa sepertinya dia tidak bisa hidup tanpa saya karena selama ini banyak hal yang sudah saya lakukan untuknya dan tentunya saya masih mencintainya. Tapi di sisi lain saya juga sangat tidak tahan karena setiap kali kami bertengkar dia selalu melakukan kekerasan fisik dan verbal dengan mengata-ngatai saya. Saya bingung harus bagaimana ya, Kak? Apakah saya egois jika ingin putus dari dia?

 

Jawaban:

Dear Kak Sila, kami ikut sedih membaca cerita yang sudah kakak tuliskan. Sulit ya berada dan juga bertahan pada sebuah hubungan yang berkekerasan namun di sisi lain kita masih menyayangi orang itu. Kami juga paham situasinya semakin sulit untuk lepas saat kedua orang tua juga mendukung hubungan kakak.

Apa yang kakak alami ini adalah kekerasan dalam pacaran yang bentuknya kekerasan fisik dan psikis. Berdasarkan cerita yang kakak tuliskan, kami melihat bahwa seolah ada tanggung jawab yang harus dilakukan oleh pasangan kakak yaitu menjaga kakak selama di rantau. Kemudian di sini ada hal-hal yang kakak lakukan untuk dia salah satunya adalah membantunya dalam banyak hal. Selain itu kakak juga merasa bahwa kakak telah membuat dia lebih baik seperti yang disampaikan oleh orang tuanya. Worth it ya..

Coba mari kita refleksikan kembali, kira-kira bagaimana hubungan sehat yang kakak inginkan di masa depan. Dari kasus ini ada hal bisa kita pelajari, pertama bahwa kita sebagai manusia tidak memiliki kendali dan tanggung jawab untuk mengubah perilaku orang lain, bagaimanapun yang dapat mengubah diri seseorang hanyalah diri orang itu sendiri. Kesadaran terkait hal ini bisa membantu kita untuk tidak merasa bertanggung jawab terhadap perilaku atau sikap orang lain yang berada di luar kontrol kita.

Kedua, terkadang dalam sebuah hubungan yang tidak sehat sering kali terjadi hero syndrome, atau perasaan di mana kita harus menjadi pahlawan sebuah hubungan untuk menyelamatkan pasangan kita dari masalah-masalah yang tidak kita inginkan. Kami memahami niat dan maksud kakak pasti baik untuk membantunya, namun perlu diingat bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang bisa menumbuhkan dan membuat dua orang di dalamnya berkembang. Saat ini yang bisa kakak lakukan adalah coba tempatkan pacar kakak sebagai individu dewasa yang bisa mengambil keputusan, harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Biarkan dia belajar untuk itu. Mungkin awalnya kita akan merasa berat melihat itu dan mungkin dia juga akan merasa kesulitan, tapi membiarkan orang lain belajar menyelesaikan masalahnya sendiri adalah hal tepat, karena kita tentu tidak akan bisa membantu dia selamanya dan sepanjang hidupnya kan?

Ketiga, apakah kakak egois jika ingin putus? Pada dasarnya keputusan saya kembalikan ke kakak yang menjalani hubungan, namun ada hal-hal yang perlu diingat bahwa diri kakak perlu disayangi dan kakak berhak untuk bahagia. Menghindari hal-hal yang membuat diri kita tertekan, membuat kita stres, dan takut adalah salah satu bentuk self love kita. Kita tidak perlu mengorbankan masa depan kita dan kebahagiaan kita untuk orang-orang yang belum tentu bertanggung jawab untuk membuat masa depan kita menjadi lebih baik.

Demikian jawaban dari kami semoga bisa menjadi bahan pertimbangan kakak dalam mengambil keputusan. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor hotline kami. (ADV)

Rubrik ini kerja sama Harian Jogja dengan Rifka Annisa. Kirim pertanyaan, opini maupun tulisan Anda mengenai gender, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hukum ataupun korban kekerasan ke rifka@rifka-annisa.org atau konsultasi.rifka.annisa@gmail.com. Untuk layanan konseling silakan menghubungi nomor telepon (0274) 553333 atau hotline 085799057765 (konseling perempuan dan anak), 085100285002 (konseling laki-laki). Anda juga bisa mengunjungi kantor kami di Jalan Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah, Tegalrejo, Jogja.