RIFKA ANNISA: Mendapatkan Tekanan untuk Hamil dan Suami Selingkuh

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
19 Desember 2020 06:17 WIB Media Digital Aspirasi Share :

Salam Rifka Annisa, saya ingin curhat. Nama saya R, 25 tahun. Saya sudah empat tahun menikah. Perjalanan empat tahun pernikahan ini saya rasakan berat sekali. Saya dan suami berasal dari tempat yang berjauhan wilayah. Pada awal menikah, kami berdua sama-sama bekerja di kota yang berbeda. Kami bersepakat untuk LDR terlebih dahulu dan kelak membangun rumah tangga di tempat yang baru, tidak di tempat salah satu dari asal kami.

Pada tahun kedua pernikahan kami, suami mendapat tawaran kerja di Kota S, dengan gaji dua kali lipat dari tempatnya yang lama. Setelah berdiskusi, saya akhirnya resign dan mengikutinya tinggal di kota tersebut. Selama dua bulan, saya jenuh karena tidak bekerja. Saya kemudian bersosialisasi dengan tetangga-tetangga baru, namun saya merasa tertekan karena selalu yang diungkit dan ditanyakan kenapa tidak kunjung hamil. Saya pun kemudian memutuskan untuk bekerja kembali, tapi saya mendapatkan kesempatan di kota yang berbeda. Kami kembali menjalani LDR.

Keputusan itu ditentang oleh mertua. Mereka menuduh saya terlalu mengejar karier sehingga tidak kunjung hamil. Kami memeriksakan diri ke dokter untuk program hamil. Ternyata, melalui hasil pemeriksaan, suami saya yang ditemukan masalah dalam spermanya. Saya berusaha tidak mengungkit hal itu di depan mertua yang terus menerus mendesak agar segera hamil, untuk menjaga harga diri suami. Saya hanya menceritakan pada ibu saya.

Suatu hari, mertua saya mengunjungi ibu saya dan minta menasihati saya supaya berhenti bekerja agar bisa hamil. Ibu saya menceritakan kondisi suami. Ketika dikonfirmasi ibu mertua, suami saya mengakui. Yang membuat saya kecewa, ternyata suami saya telah mengetahui hal ini sejak sebelum kami menikah, namun tidak menceritakan pada saya karena takut saya tidak mau menikah dengannya. Saya mencoba sabar dan menerima, meskipun sebenarnya kekecewaan saya bukan pada kondisi suami saya, namun lebih pada ketidakjujuran yang dia lakukan, bahkan dia juga tidak meminta maaf atas hal tersebut. Setelah itu, mertua tetap menyalahkan saya yang bekerja. Menurut mereka saya seharusnya fokus mengurus rumah, melayani dan mendukung suami untuk pengobatan.  

Di tahun ketiga pernikahan, suami tiba-tiba berhenti dari tempat kerjanya. Alasan yang disampaikan pada saya dia bosan dan ingin suasana baru. Memang suami saya ini tipe yang mudah mendapatkan pekerjaan baru sehingga saya tidak curiga. Lambat laun, sikap suami berubah. Sering abai, tidak perhatian, memberikan nafkah sesukanya, walaupun secara materi saya sudah berkecukupan. Sikap-sikap tersebut membuat saya kecewa dan sakit hati. Beberapa waktu terakhir ini saya mendapatkan informasi tentang penyebab dia berhenti dari tempat kerjanya dulu dan sudah saya kroscek kepada pimpinannya. Ternyata dulu suami saya kedapatan memiliki affair dengan sesama pegawai di sana yang membuat dia dipecat. Mohon saran, apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.

 

 

JAWAB

Salam Ibu R, kami ikut sedih membaca cerita Ibu. Pasti tidak mudah menghadapi beragam tekanan dan menjumpai kenyataan tersebut. Namun kami salut dengan ketegaran Ibu menjalani hingga saat ini. Kita akan mencoba memahami terlebih dahulu akar penyebab masalah ini. Semua sikap tersebut tidak lepas dari budaya atau anggapan tentang laki-laki dan perempuan selama ini.

Laki-laki diposisikan sebagai pemimpin dalam rumah tangga sehingga dia diharapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan meneruskan keturunan. Sementara perempuan yang diposisikan sebagai yang dipimpin, diharapkan untuk mendukung dan melayani. Harapan-harapan ini akhirnya menjadi tuntutan. Masalahnya yang tidak disadari kemudian adalah, Ibu R jadi mendapat perlakuan yang tidak adil, mendapat tekanan untuk hamil dan mendapat pembatasan untuk bekerja. Apalagi kemudian yang terakhir Ibu mendapati bahwa ada pelanggaran komitmen yang dilakukan oleh suami.

Pada dasarnya, sebuah hubungan akan sehat jika dilandasi oleh kesepakatan-kesepakatan yang dibangun dalam posisi setara. Sehingga tidak ada yang menjalani dengan terpaksa. Kesepakatan-kesepakatan tersebut dapat berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi. Ibu dapat mengungkapkan apa yang Ibu sebenarnya pikirkan dan rasakan pada suami, termasuk bahwa Ibu sakit hati bahwa dia tidak merasa bersalah atas ketidakjujurannya di awal pernikahan. Juga dengan informasi terakhir terkait affair yang Ibu ketahui.

Dari sana, Ibu dan suami dapat membuat kesepakatan kembali tentang hubungan pernikahan ini mau dibawa ke mana dan dengan cara seperti apa yang diinginkan oleh masing-masing. Yang perlu disadari juga, bisa jadi setelah menyepakati sesuatu, kondisi akan berubah dan butuh penyesuain baru atau kesepakatan baru.

Ibu juga berhak membuat keputusan apapun. Yang penting dipertimbangkan benar adalah manfaat dan konsekuensinya, serta siap untuk menghadapinya. Untuk membuat sebuah keputusan yang tepat, Ibu perlu mengumpulkan informasi seluas-luasnya tentang segala hal, termasuk informasi hukum, karena pernikahan juga berkaitan dengan hubungan hukum di antara dua orang. Demikian jawaban kami, semoga dapat membantu. Jika membutuhkan konsultasi lebih lanjut dapat langsung menghubungi lembaga layanan untuk perempuan dan anak terdekat. Terima kasih. (ADV)

 

Rubrik ini kerja sama Harian Jogja dengan Rifka Annisa. Kirim pertanyaan, opini maupun tulisan Anda mengenai gender, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hukum ataupun korban kekerasan ke rifka@rifka-annisa.org atau konsultasi.rifka.annisa@gmail.com. Untuk layanan konseling silakan menghubungi nomor telepon (0274) 553333 atau hotline 085799057765 (konseling perempuan dan anak), 085100285002 (konseling laki-laki). Anda juga bisa mengunjungi kantor kami di Jalan Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah, Tegalrejo, Jogja.