OPINI: Optimisme Hadapi 2021

Ilustrasi - JIBI - Bisnis Indonesia
22 Desember 2020 06:07 WIB Agung Laksamana, Ketua Umum Perhumas Indonesia Aspirasi Share :

Pertumbuhan industri humas sebagai bagian dari sektor jasa dan pelayanan berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi. Artinya, pelemahan ekonomi yang terjadi pada 2020 ini akan berdampak pada industri humas, begitu pula sebaliknya jika terjadi perubahan arah.

Proyeksi pertumbuhan 5% oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai pemulihan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua hingga ketiga 2021 tentunya menjadi angin segar bagi humas! Dengan kata lain, humas boleh melihat 2021 lebih optimistis, menarik, sekaligus menantang.

Sebagai perspektif, karakter tulisan “Weiji” atau krisis dalam Bahasa China memiliki dua arti sekaligus, bahaya dan juga peluang. Pandemi ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat termasuk organisasi dan brand. Namun, di satu sisi, kita juga bisa melihat krisis ini sebagai peluang untuk melahirkan akselerasi yang disebut inovasi. Sebagai komparasi, kita bisa melihat Tiongkok setelah Covid-19. Dari berbagai berita, terlihat kehidupan di sana hampir mendekati normal sehingga otomatis terjadi tren-tren bahkan inovasi baru.

Bagi praktisi humas, perubahan tren pada publik dan konsumen dalam mengonsumsi media, otomatis memaksa humas harus beradaptasi, berinovasi kreatif serta berkolaborasi atas perubahan perilaku ini.

Selama beberapa dekade, harus diakui peran dan fungsi humas sering disalahartikan dan hanya berkutat seputar media relations. Namun, dalam era baru ini, humas dituntut memiliki peran fungsi strategis lebih dalam sebuah organisasi. Artinya, humas harus memahami ragam disiplin ilmu, pendekatan, dan aplikasi multi-platform sehingga semuanya terintegrasi lebih efektif dan strategis!

Namun, optimisme humas haruslah diantisipasi dengan beberapa hal. Pertama, praktisi humas harus menyiasati pandemi dengan jeli memperhatikan perilaku tren komunikasi masyarakat dalam mengonsumsi konten. Sebagai contoh, selama pandemi telah membuat sebagian besar masyarakat enggan pergi jauh.

Ketika mencari sebuah produk, maka pilihannya adalah membeli di sekitar rumah (proximity channel) atau melalui e-commerce. Ini akan terus berlanjut sekaligus mengonfirmasi kebiasaan baru dalam permintaan consumer goods di Indonesia.

Hal ini terbukti dengan survei bahwa tingkat akselerasi di e-commerce meningkat signifikan atau sekitar 60% orang Indonesia melakukan transaksi melalui e-commerce di masa pandemi ini.

Laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company pada 2020 ini mencatat bahwa e-commerce di Indonesia berhasil memperoleh kenaikan pendapatan hingga 54% atau menjadi US$32 miliar pada 2020. Data inilah yang harus menjadi perhatian praktisi humas, karena salah satu peran strategis humas kini adalah sebagai produser dan publisher konten diberbagai platform channel.

Kedua, optimalisasi values. Harus diakui hal yang paling mendasar bagi konsumen saat ini adalah prioritas membeli produk berbasis nilai dan kualitas. Bahkan ada riset yang menyebutkan konsumen tidak ragu untuk memilih produk lain dengan harga yang lebih murah selama memiliki fungsi sama. Artinya, konten humas juga harus memperhatikan values dan tidak melupakan konteks.

Adaptif dan Inovatif

Penelitian dari Inventure mengatakan bahwa saat ini tingkat kepedulian masyarakat tinggi atas aspek CHSE (Clean, Healthy, Safety dan Environment), sehingga brand harus makin di-push untuk adaptif dan inovatif guna memenuhi CHSE ini. Dengan kata lain, konten-konten yang dihasilkan humas haruslah bisa membangun bisnis yang tidak saja kompetitif dan profitable, tetapi juga harus beretika serta bertanggung jawab. Sebab jika salah langkah, maka reputasi organisasi atau brand akan yang menjadi taruhannya.

Ketiga, multi-platform channel. Humas harus melakukan akselerasi dan inovasi dalam cara berkomunikasi disesuaikan dengan kebutuhan dan jangkauan masyarakat. Seperti kita tahu bahwa dunia digital saat ini sudah menjadi hal yang mandatori. Mulai dari aparat pemerintah, karyawan, pelajar, pebisnis, hingga seniman sekali pun menjadikan platform digital sebagai sebuah keharusan, bukan lagi pilihan.

Dalam konteks ini, jika humas bisa memahami perubahan tren ini sebagai peluang ditambah proyeksi positif pemulihan ekonomi, tidak berlebihan jika humas bisa menatap 2021 dengan lebih optimistis. Yang pasti, pandemi Covid-19 telah menempa kita untuk terus beradaptasi, berpikir kreatif, kolaboratif dan inovatif. Semua itu yang akan menjadi bekal humas untuk menghadapi 2021 yang akan kita sambut beberapa hari lagi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia