OPINI: Mengantisipasi Delirium Akibat Covid-19

Ilustrasi pandemi Covid/19
28 Desember 2020 04:17 WIB Ari Fahrial Syam, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dan Dekan FKUI Aspirasi Share :

Saya sampaikan bahwa sebagaimana diketahui penyakit Covid-19 dikenal sebagai great imitator (peniru ulung), maka bisa saja berbagai gejala muncul pada pasien dengan infeksi Covid-19. Pasien bisa saja datang bukan karena demam, batuk dan sesak yang umum terjadi, tetapi bisa dengan di luar gejala saluran pernafasan.

Pasien bisa datang dengan gangguan saluran pencernaan seperti diare, nyeri perut atau nyeri ulu hati disertai mual dan muntah, gangguan kulit, mata, bahkan bisa dengan gangguan sistim syaraf pusat. Pasien bisa datang dengan lemas, tidak mau makan, dengan gangguan penciuman atau hilangnya rasa kecap.

Selain itu bisa juga datang dengan delirium seperti yang dilaporkan oleh peneliti dari Universitat Oberta de Catalunya, Barcelona Spanyol sehingga menjadi perbincangan media-media internasional dan nasional dalam sebulan terakhir ini. Pasien dengan delirium biasanya datang dengan gaduh gelisah, bicara meracau, bingung dan gangguan kesadaran.

Sebenarnya delirium bukan gejala baru, tetapi delirium bisa menjadi gejala pertama yang membawa pasien datang ke rumah sakit. Pasien Covid-19 yang mengalami gangguan pada sistim syaraf pusat bisa datang dengan sakit kepala hebat disertai delirium dan pasien Covid-19 bisa datang gangguan jiwa (psikotik).

Tentu hal ini harus menjadi perhatian bagi para dokter yang bekerja di gawat darurat, karena bisa saja pasien datang dengan kondisi seperti ini. Begitu pula buat pasien dan anggota keluarga perlu mengenal gejala ini sebagai bagian dari gejala penyakit Covid-19.

Delirium sebenarnya bagian dari penurunan kesadaran. Tingkat kesadaran berarti dari normal atau sadar penuh sampai koma (tidak sadarkan diri). Delirium merupakan salah satu bentuk gangguan kesadaran.

Pasien dengan delirium biasanya bicara kacau seperti orang mengigau, bicara tidak jelas, gelisah, tidak bisa tidur, hilang ingatan. Delirium disebabkan oleh berbagai kondisi yang mengganggu fungsi otak. Jadi delirium tidak khas hanya karena Covid-19.

Pasien karena keracunan obat terlarang atau keracunan alkohol juga bisa mengalami delirium. Infeksi pada otak dan pasien dengan demam tifus jika bisa mengalami delirium. Pasien dengan gangguan pada otak seperti pada strok bisa saja masuk ke RS dengan delirium.

Delirium bisa menjadi bagian dari penyakit lain dan tidak melulu penyakit pada otak secara langsung. Sekali lagi delirium bukan gejala baru dari Covid-19 dan delirium bisa terjadi pada kasus-kasus bukan disebabkan oleh Covid-19.

Kondisi Berat

Delirium pada pasien Covid-19 sebenarnya menunjukkan kondisi sakit pasien yang berat. Ada tiga hal kenapa pasien mengalami delirium. Faktor pertama pasien dengan Covid-19 bisa mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) darah sehingga pengiriman oksigen ke organ di dalam tubuh menjadi terganggu.

Otak kita sangat sensitif akan kekurangan oksigen menyebabkan pasien mengalami gangguan kesadaran berupa delirium. Faktor kedua sebagai penyebab pasien Covid-19 mengalami delirium berhubungan sindrom badai sitokin yang dapat terjadi sebagai komplikasi dari infeksi Covid-19.

Faktor ketiga yang juga diduga terjadinya gangguan otak adalah kemungkinan virus akan melewati sawar darah otak sehingga menyebabkan kerusakan otak.

Sebagaimana diketahui untuk menempel di organ tubuh manusia virus Sars-Cov2 menempel pada reseptor ACE-2. Ternyata selain pada saluran pernapasan dan pencernaan reseptor ini juga ditemukan pada otak manusia.

Hal ini memang harus menjadi perhatian semua bahwa infeksi Covid-19 menyebabkan berbagai komplikasi termasuk ke otak. Apabila pasien bisa kembali sehat, efek samping jangka panjang sebagai gejala sisa akibat infeksi ini juga dapat terjadi. Berbagai informasi mutakhir seputar Covid-19 harus menambah kewaspadaan masyarakat agar terus menjalankan protokol kesehatan mengingat perjalanan penyakit dari Covid-19 ini tidak bisa diprediksi.

Peningkatan kasus Covid-19 yang terus terjadi secara eksponensial dan bahkan terakhir sudah stabil di atas 6.000 kasus per hari harus menjadi perhatian.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia