OPINI: Present Bias dan Ilusi Vaksin


Tingginya mobilitas masyarakat selama libur panjang ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Apakah pandemi Covid-19 sudah selesai? Jawabannya jelas belum. Hingga 30 Desember 2020, total kasus aktif Covid-19 di seluruh dunia mencapai 22 juta. Dari jumlah tersebut, 108.000 kasus aktif tercatat di Indonesia. Jumlah kasus aktif tersebut mencapai 14,9% dari total kasus yang telah menembus 727.000 kasus.

Sejalan dengan meningkatnya jumlah kasus, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate di sejumlah wilayah telah mencapai 80%, jauh di atas standar WHO yang sebesar 50%. Artinya, masyarakat akan semakin sulit mendapatkan layanan kesehatan apabila terpapar Covid-19 karena rumah sakit sudah semakin penuh.

Lalu dengan kondisi demikian ini, mengapa banyak masyarakat masih cukup nekat untuk bepergian di tengah pandemi? Jawabannya pasti beragam. Itu sebabnya, mencermati perilaku masyarakat di masa pandemi ini sangat menarik.

Dalam behavioral economics, ada teori yang dinamakan present bias. Dalam teori ini disebutkan bahwa orang cenderung untuk memilih ‘hadiah-hadiah kecil’ tapi bisa dinikmati saat ini, dibandingkan dengan reward yang lebih besar tapi baru bisa didapat nanti. Teori ini mungkin relevan digunakan untuk menganalisa situasi saat ini.

Saat ini, ada 2 pilihan ‘hadiah’ yang bisa diambil oleh masyarakat. Pertama, adalah pergi liburan saat ini dengan risiko terpapar Covid-19. Kedua, adalah bersabar untuk berdiam diri di rumah hingga pandemi selesai dan menikmati liburan yang lebih tenang di kemudian hari. Apabila mengacu pada present bias, pilihan pertama dapat diibaratkan sebagai hadiah kecil tapi bisa dinikmati saat ini, sedangkan pilihan kedua adalah reward yang lebih besar tapi di masa depan.

Dan tampaknya, banyak masyarakat yang mengambil pilihan pertama. Meskipun risiko yang membayangi di belakangnya sangat besar, faktor present bias ini membuat sebagian masyarakat mengabaikan risiko yang ada. Pilihan tersebut dapat dipahami, mengingat situasi pandemi ini sangat rumit, dan sebagian besar masyarakat kian lama menghadapi hari-hari yang tak mudah.

Euforia Vaksin

Selain hal tersebut, ada faktor lain yang menjadikan masyarakat berani memilih mengambil ‘hadiah kecil’ tersebut. Faktor tersebut tentu saja adalah euforia vaksin. Ketersediaan vaksin yang digaungkan dalam beberapa waktu terakhir telah mempengaruhi perilaku sebagian masyarakat.

Tanpa disadari, muncul euforia hingga berakibat pada mulai abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan. Seperti diberitakan, proses vaksinasi telah dimulai di sejumlah negara, dengan vaksin yang memiliki tingkat kemanjuran (efficacy) tinggi.

Tentu saja proses vaksinasi yang sudah dimulai ini merupakan berita gembira bagi semua orang, hingga membuat orang lupa bahwa pandemi ini belum selesai. Hal penting lainnya yang harus diingat adalah proses vaksinasi ini belum dilakukan di Indonesia.

Artinya, masyarakat Indonesia belum kebal dari virus Covid-19. Sebab, kekebalan terhadap sebuah virus datang dari suntikan vaksin, bukan sekadar berita mengenai ketersediaan vaksin. Oleh karena itu, ilusi akan ketersediaan vaksin ini mengandung bahaya tersembunyi.

Ilusi ini membuat banyak pihak tidak lagi berpikir realistis. Banyak yang beranggapan bahwa semua akan baik-baik saja dengan kehadiran vaksin. Padahal tidak, vaksin hanya membantu mencegah, bukan mengobati.

Di sisi lain, perlu waktu untuk melakukan proses vaksinasi hingga terbentuk kekebalan menyeluruh, terutama di negara dengan jumlah populasi besar seperti Indonesia.

Tentu saja semua berharap pandemi ini akan segera selesai dengan adanya vaksin. Namun, optimisme yang tidak realistis dapat mempengaruhi kapan pandemi ini berakhir.

Seperti yang pernah disampaikan Richard Thaler, pemenang nobel ekonomi tahun 2017, bahwa optimisme yang tidak realistis merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku individu dalam mengambil risiko, terutama risiko yang terkait kesehatan dan kehidupan. Perilaku tersebut yang saat ini kita lihat, di mana sebagian masyarakat dipenuhi optimisme berlebih.

Optimisme memang perlu dibangun, tapi optimisme yang realistis sangat diperlukan di situasi pandemi seperti saat ini. Terakhir, kita tak boleh lupa bahwa vaksin adalah langkah selanjutnya.

Saat ini yang penting dilakukan adalah tetap menjaga protokol kesehatan dan melakukan 3M: memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia