OPINI: Privilese, Pandemi dan Ekonomi

Tegar Satya Putra, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Kata Privilese atau dalam Bahasa Inggris privilege belakangan ini sering muncul di berita internasional. Sebenarnya apa itu privilese? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, privilese berarti hak istimewa. Hak istimewa yang dimaksud adalah hak yang hanya dimiliki sekelompok orang.

Hak istimewa ini bisa berasal dari kemampuan ekonomi, suku, agama dan warna kulit. Berdasarkan data Google Trend, kata privilese menjadi sorotan setelah Gerakan Black Live Matter bermunculan di seluruh dunia. Gerakan Black Live Matter menyadarkan dunia bahwa kesetaraan hak antar manusia belum lah tercapai dan diskriminasi masih terjadi setiap harinya. Lalu apa hubungan antara privilese dan diskriminasi? Dua hal tersebut seperti dua sisi mata uang, jika privilese adalah hak istimewa sekelompok orang, diskriminasi adalah hilangnya hak sekelompok orang di masyarakat.

Selain gerakan Black Live Matter, bukti nyata masih adanya privilese di masyarakat adalah dampak pandemi Covid-19 ke berbagai kalangan. Tidak bisa dipungkiri, dampak pandemi ini dirasakan oleh semua kalangan, namun besarnya dampak yang dirasakan dari satu pihak ke pihak lain tidaklah sama.

Bagi masyarakat dengan ekonomi menegah ke atas membeli masker, bekerja dari rumah dan membeli hand sanitizer merupakan hal mudah, namun hal ini menjadi sulit untuk kalangan ekonomi menegah ke bawah yang tetap harus bekerja untuk bisa makan setiap hari.

Selain dari aspek perbedaan status ekonomi, dampak Covid-19 juga timpang antara pria dan wanita. Menurut tulisan Jessica A.Peck dalam Jurnal Feminist Frontier, wanita merasakan lebih banyak dampak negatif dibanding dengan pria dari aspek kesehatan, ekonomi, tanggung jawab pekerjaan. Ketimpangan dampak Covid-19 juga terjadi dari aspek ras, terutama ras-ras minoritas. Berikutnya akan dibahas mengenai dampak privilese dari berbagai unit ekonomi dan juga kesadaran privilese di Indonesia.

Perekonomian Individu

Adanya privilese yang dimiliki segelintir kelompok juga berakibat tidak adilnya persaingan di pekerjaan dan memperoleh kekayaan. Anak yang lahir di keluarga yang memiliki privilese dari berbagai sumber akan cenderung lebih sukses daripada anak yang terlahir dari keluarga yang minim atau tidak punya privilese. Hal ini juga didukung temuan penelitian di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Dalam konteks Indonesia, peneliti dari Lembaga Riset SMERU menganalisis efek jangka Panjang dari kemisikinan suatu keluarga terhadap pendapatan anak dari keluarga tersebut di masa depan.

Objek penelitian yang diamati adalah anak berusia 8-17 tahun pada tahun 2000. Dalam rentang waktu 14 tahun, lebih tepatnya pada 2014, ditemukan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin berpendapatan lebih rendah sebesar 87% dibanding anak dari keluarga berkecukupan. Dari hasil temuan ini, kita dapat melihat bahwa sebenarnya kesuksesan seseorang bukan hanya dari hasil usaha.

Perekonomian Makro

Kita sudah tahu bahwa salah satu sumber privilese adalah sumber daya ekonomi (kekayaan dan pendapatan individu), namun para ahli juga membuktikan bahwa adanya privilese dan diskriminasi akan berdampak negatif untuk perekenomian suatu negara. Para ahli dan peneliti di bidang ekonomi sudah lama mengatakan bahwa adanya privilese dan diskriminasi akan menambah biaya di suatu perekonomian.

Selain dari segi biaya, privilese dan diskriminasi juga mengakibatkan percepatan kerusakan lingkungan. Hal ini diperkuat dengan oleh Lembaga Riset dan konsultasi McKinsey yang menemukan bahwa gap kekayaan antarras di amerika berdampak negatif pada produk domestik bruto Amerika. Artinya semakin besar gap kekayaan antar ras, semakin tidak efisien aktivitas ekonomi di negara tersebut.

Kesadaran Privilese

Privilese merupakan istilah yang sudah lama ada, walau istilah ini baru kembali hangat diperbincangkan setelah panasnya perdebatan politik di Amerika Serikat karena beberapa kebijakan yang dibuat oleh Donald Trump dan simpatisannya yang terkesan malah memperkuat privilese orang kulit putih di negeri Paman Sam. Di Indonesia, definisi privilese banyak dicari di google bersamaan dengan Gerakan Black Live Matter. Setelah itu perdebatan mengenai privilese sempat viral di media sosial Twitter karena cuitan mengenai seorang anak tukang becak yang berhasil mendapatkan gelar doktor di luar negeri.

Sang pemilik akun juga menambahkan captionInspirasi bagus untuk orang pesimis dgn excuse: privilege harta & privilege keluarga. Pikir2 lagi deh, Kayaknya kita emang malas & gak mau struggle. Maka, mulai beraksi dan lakukan sesuatu!” Cuitan ini menjadi cukup viral karena ada Youtuber yang cukup terkenal yang bernama Jerome Polin yang ikut andil dalam perdebatan mengenai privilese. Dia bersikeras bahwa usaha (effort) adalah kunci sukses baik untuk seseorang yang tidak memiliki privilese karena sudah banyak contoh orang sukses tanpa privilese.

Cuitan Jerome kemudian sempat dibalas oleh akun Lembaga Riset SMERU yang memparkan temuan mereka bahwa privelese ekonomi pada akhirnya membuat seseorang lebih sukses.

Dari data Google Trend dan juga kejadian di Twitter tersebut, dapat dilihat bahwa kesadaran mengenai privilese di Indonesia sebenarnya masih sangat rendah. Dari aspek pendidikan pun belum ada mata pelajaran yang juga mengajarkan anak-anak untuk sadar apa itu privilese dan mengajarkan siswa mengindentifikasi privilese yang mereka punya. (ADV)