OPINI: Alternatif Sumber Pertumbuhan Ekonomi

Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas laporan Komite Penanganan Covid/19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 30 November 2020 / Youtube Setpres
15 Januari 2021 06:07 WIB Mulya Tarmizi, Peneliti Inter CAFE, IPB University Aspirasi Share :

Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia sejak Maret 2020 mengakibatkan pergerakan sosial terbatasi dikarenakan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diambil pemerintah. Kebijakan PSBB yang memaksa penutupan sektor-sektor ekonomi nonesensial tersebut menyebabkan kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar -5,32% (yoy) pada kondisi triwulan II/ 2020.

Oleh sebab itu, program pemerintah melalui Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan anggaran Rp635,2 triliun menjadi stimulus dalam memulihkan ekonomi nasional yang mengalami kontraksi akibat pagebluk Covid-19. Stimulus tersebut sudah menunjukan hasil dalam memulihkan ekonomi Indonesia yang mulai terlihat rebound pada triwulan III/2020 dengan pertumbuhan sebesar 5,05% (q to q) atau sebesar -3,49% (yoy).

Kondisi ini lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II/2020 yang mengalami kontraksi cukup dalam.

Trayektori perekonomian Indonesia diproyeksikan sepanjang tahun 2020 akan mengalami pertumbuhan yang negatif, yaitu sebesar -1,9%. Sementara pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 akan rebound menjadi 3,7%.

Proyeksi tersebut penulis lakukan melalui analisis Computable General Equilibrium (CGE) dengan mengasumsikan bahwa perekonomian pada triwulan IV/2020 hingga triwulan IV/2021 tetap menjalankan protokol kesehatan di mana tingkat occupancy rate untuk sektor akomodasi, makan minum, restoran, perhotelan, dan sektor transportasi maksimum sebesar 70% dari kapasitas normal.

Selain itu, adanya guncangan di produktivitas labor supply akibat para pekerja usia produktif yang terinfeksi Covid-19 juga memengaruhi perekonomian pada 2021. Analisis ini juga menitikberatkan pada source of growth ekonomi Indonesia pada triwulan IV/2020 hingga triwulan IV/2021 masih bertumpu pada stimulus pengeluaran pemerintah melalui belanja yang dilakukan dengan sumber APBN sebesar Rp2.750 triliun hingga akhir tahun ini.

Asumsi-asumsi dalam analisis tersebut didasari oleh pernyataan Presiden Joko Widodo ketika menyambut kedatangan 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 ke Indonesia. Kepala Negara secara eksplisit mengungkapkan bahwa pada tahun ini masyarakat masih tetap diminta untuk menjalankan protokol kesehatan, sehingga menimbulkan konsekuensi bahwa sektor perekonomian belum akan diizinkan meningkatkan occupancy rate sektor-sektor tertentu hingga 100%.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun vaksin Covid-19 sudah datang ke Indonesia tetapi masih memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mendistribusikannya ke seluruh penduduk di Tanah Air. Oleh karena itu, menjadi relevan jika asumsi pada tahun ini penerapan protokol kesehatan dipertimbangkan dalam asumsi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2021.

Ekonomi Indonesia yang tumbuh di bawah kondisi normal tentu akan berdampak pada kehilangan penerimaan pajak oleh pemerintah di berbagai sektor. Hasil analisis menunjukkan bahwa sepanjang tahun ini dengan pertumbuhan ekonomi 3,7%, Indonesia akan berpotensi kehilangan penerimaan pajak sebesar Rp298,15 triliun. Potensi kehilangan pajak tersebut perlu menjadi perhatian lebih lanjut oleh pemerintah dalam membiayai belanja negara pada tahun ini.

Ekonomi Indonesia sepanjang 2021, yang masih memerlukan intervensi pemerintah secara nyata dalam memulihkan perekonomian nasional, perlu memikirkan lebih lanjut sumber-sumber pembiayaan belanja pemerintah selain dari sisi penerimaan pajak.

Pemulihan ekonomi Indonesia juga sebaiknya tidak bisa hanya bertumpu pada peran pemerintah dari sisi kebijakan stimulus fiskal tanpa menyelesaikan permasalahan pandemi Covid-19 agar lebih terkendali pada tahun ini.

Kasus Covid-19 yang terkendali diiringi dengan program vaksinasi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam melakukan konsumsi dengan aman dan nyaman. Kunci utama dalam mengembalikan pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju kondisi normal yaitu kecepatan penanganan pandemi corona, salah satunya melalui program vaksinasi.

Namun, vaksinasi yang memerlukan waktu cukup lama menjadi kendala tersendiri untuk membuka aktivitas perekonomian secara keseluruhan tanpa adanya batasan occupancy rate.

Strategi yang dapat dilakukan dalam mencari pertumbuhan ekonomi nasional yaitu meningkatkan investasi ke dalam negeri untuk mendorong pertumbuhan di berbagai sektor ekonomi yang diharapkan dapat memberikan dampak multiplier besar terhadap ekonomi secara makro.

Kebijakan Omnibus Law yang telah ditandatangani beberapa waktu lalu oleh pemerintah diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan investasi baru ke dalam negeri, sehingga efektif dalam membantu peran fiskal dalam memulihkan ekonomi Indonesia pada 2021.

Selain itu pelaksanaan mixed policy antara kebijakan fiskal melalui belanja pemerintah dan kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam mempertahankan suku bunga yang rendah, diharapkan dapat meningkatkan jumlah uang beredar dan secara efektif dapat menggerakkan perekonomian Indonesia lebih kencang lagi pada tahun ini.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia