OPINI: Vaksin dan Agenda Pemulihan Ekonomi

Raffi Ahmad mendapat vaksin COVID-19 di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/1/2021). - Antara
16 Januari 2021 06:07 WIB Agus Sugiarto, Kepala OJK Institute Aspirasi Share :

Penularan virus corona membawa efek domino yang luar biasa. Perlahan tetapi pasti virus tersebut telah menyebar ke hampir semua negara hanya dalam waktu sekitar 3—4 bulan saja dan berubah menjadi suatu pandemi. Dunia sepertinya tidak berkutik menghadapi gelombang serangan virus tersebut, sehingga tidak siap mencegah dan menanggulanginya dalam tempo cepat.

Munculnya pandemi tersebut bukan hanya menimbulkan krisis global kemanusiaan tetapi juga krisis ekonomi yang melanda hampir semua negara di dunia. Resesi ekonomi tidak bisa terhindarkan lagi, termasuk di Indonesia. Berbagai upaya dalam bentuk bauran kebijakan ekonomi makro, fiskal dan moneter telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi krisis kemanusiaan serta resesi ekonomi.

Namun sepertinya upaya tersebut belum bisa dikatakan efektif sepenuhnya, karena secara teoritis dan praktis memang sangat sulit dilaksanakan berbarengan.

Pemerintah menghadapi suatu dilema. Di satu sisi harus mencegah penularan virus tersebut dan melakukan penyembuhan, sementara di sisi lain harus melakukan penyelamatan ekonomi agar kondisinya tidak semakin terpuruk. Namun, dengan ketersediaan vaksin Covid-19, beban pemerintah dalam menyelamatkan manusia menjadi lebih ringan, sehingga bisa lebih fokus lagi ke masalah pemulihan ekonomi.

Pengembangan vaksin sebagai obat penawar Covid-19 sudah menampakkan hasil yang menjanjikan dan sudah mulai disuntikkan di beberapa negara seperti China, Inggris dan Amerika Serikat. Pemerintah juga sudah mendatangkan vaksin Sinovac dari China, yang akan diikuti dengan datangnya vaksin dari negara lain. Tersedianya vaksin ditengarai akan menyelamatkan manusia dari ancaman virus Covid-19 di kemudian hari.

Ketidakpastian mengenai masa depan ekonomi secara perlahan bisa kita akhiri dan selesaikan satu persatu. Namun dengan tersedianya vaksin masih menjadi misteri apakah masalah ekonomi yang sedang kita hadapi akan selesai dengan sendirinya. Belum ada satupun penelitian ilmiah yang memberikan gambaran kepada kita bahwa penemuan vaksin tersebut akan menyelesaikan persoalan ekonomi secara keseluruhan.

Hanya ada ramalan dan prediksi dari berbagai ekonom yang berharap bahwa kehadiran vaksin secara pelan-pelan akan membantu pemulihan ekonomi. Beberapa pengamat ekonomi mengatakan bahwa seandainya vaksin tersebut berhasil mencegah penularan Covid-19, belum tentu kondisi ekonomi bisa kembali sepenuhnya seperti pada masa sebelum pandemi berlangsung.

Sebelum pandemi muncul, kita menikmati pertumbuhan ekonomi rata-rata 5% setiap tahunnya dan setelah pandemi datang ekonomi kita terkontraksi sampai minus 3,49 % pada triwulan III/2020, sehingga memasuki fase resesi.

Oleh karena itu masih menjadi pertanyaan akankah ketersediaan vaksin akan membuat ekonomi Indonesia bisa berakselerasi dengan cepat dan kembali normal seperti sediakala.

Ketersediaan vaksin Covid-19 belum bisa dianggap sebagai satu-satunya dewa penyelamat untuk menyelesaikan semua persoalan ekonomi tetapi paling tidak bisa memberikan kepercayaan dan rasa optimisme kepada pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat mengenai prospek ekonomi ke depan yang lebih baik. Untuk mengembalikan kondisi ekonomi seperti sebelum terjadi pandemi perlu kerja keras dan masih menyisakan berbagai persoalan.

Pertama, dengan vaksinasi massal tidak serta merta ekonomi langsung pulih kembali secara otomatis tetapi perlu didukung dengan kelanjutan kebijakan ekonomi makro yang bersifat countercyclical dan forward looking. Kebijakan fiskal yang selama ini berjalan diantaranya pemberian bantuan tunai langsung dan subsidi ke masyarakat tetap perlu dilanjutkan.

Kebijakan moneter yang bersifat ekspansif dengan rezim suku bunga rendah juga tetap perlu dipelihara. Adapun bauran kebijakan makro ekonomi lainnya juga harus tetap dijalankan untuk memastikan bahwa pemulihan ekonomi dapat dilakukan dengan cepat.

Kedua, pemulihan ekonomi perlu dimulai dari sektor konsumsi dan investasi, karena keduanya selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Kelas menengah ke atas harus dipaksa untuk semakin banyak membelanjakan uangnya dan didorong lebih konsumtif agar mampu menggairahkan beberapa sektor ekonomi yang selama ini sangat terdampak.

Ketiga, belum ada kepastian dan jaminan sampai seberapa lama tingkat kemanjuran vaksin tersebut setelah disuntikkan ke tubuh manusia meski saat uji coba dinyatakan tingkat kemanjurannya sudah mencapai di atas 90%.

Keempat, ketersediaan suplai vaksin tersebut apakah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan 181 juta masyarakat Indonesia yang masing-masing mendapatkan jatah 2 dosis vaksin. Untuk itu diperlukan persediaan 362 juta dosis vaksin ditambah cadangan 15% (sesuai petunjuk WHO), sehingga total diperlukan 426 juta dosis vaksin.

Kelima, apakah ada jaminan bagi mereka yang sudah divaksin secara otomatis dapat dengan bebas melakukan kegiatan apa saja seperti sebelum pandemi, sehingga PSBB tidak diperlukan lagi. Apabila kita berhasil menanggulangi persoalan-persoalan di atas dengan baik, tak mustahil keberhasilan pemulihan ekonomi nasional dapat segera dirasakan oleh pemerintah dan masyarakat.