JAGONGAN: Koordinasi dan Inovasi di Masa Pandemi untuk Indonesia Maju

ist
09 Maret 2021 18:47 WIB Ketua ASM 2021, dr Riris Andono Ahmad, MPH., PhD Aspirasi Share :

Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung 8 bulan. Di Indonesia, kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi pada 2 Maret 2020. Hanya dalam tempo 8 hari, yakni pada tanggal 10 April 2020, penyebarannya telah meluas di 34 provinsi di Indonesia. Dalam periode 8 bulan, lebih dari 440.000 masyarakat terpapar Covid-19, dan lebih dari 14.000 diantaranya meninggal. Dampak lain di masyarakat sangat terasa, di antaranya adalah kehidupan sosial pun berubah, sehingga seluruh masyarakat mau tidak mau harus bisa beradaptasi. Dari keseluruhan kasus tersebut, sebanyak 372.266 atau 84,4% di antaranya telah dinyatakan sembuh atau terbebas dari Covid-19. Sementara itu, sebanyak 14.689 pasien atau 3,33 persen dari keseluruhan kasus positif telah meninggal dunia.

Pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan sosial, sebagai upaya pengendalian terhadap penyebaran Covid-19. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19, dan diturunkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.9/2020 tentang Pedoman PSBB telah diterapkan. Masyarakat diimbau untuk tidak bepergian, kecuali jika sangat diperlukan. Hal ini terutama berlaku di tempat-tempat umum yang berpotensi menimbulkan keramaian seperti pusat perbelanjaan, transportasi publik, tempat peribadatan, juga fasilitas kesehatan. Fasilitas layanan kesehatan mengurangi pelayanan kesehatan pasien umum (pasien non-Covid-19) untuk fokus dalam memberikan layanan pandemi Covid-19 serta untuk mengurangi risiko penularan di fasilitas kesehatan.

Situasi pandemi berdampak besar pada kehidupan masyarakat, terutama perekonomian. Pemerintah berusaha mencari alternatif dengan melakukan relaksasi PSBB secara bertahap untuk bisa menyelamatkan ekonomi. Alternatif ini dikenal sebagai masa adaptasi kebiasaan baru. Masa adaptasi kebiasaan baru diartikan sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal di tengah pandemi. Masyarakat dapat melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, tetapi dengan mengikuti protokol kesehatan, demi menghindari penularan virus dan persebaran pandemi.

Pelayanan kesehatan sebagai sektor yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 juga harus bersiap untuk menghadapi adaptasi kebiasaan baru. Rumah sakit mulai memikirkan langkah-langkah yang harus diambil untuk tetap merawat pasien Covid-19 dan di saat bersamaan juga dapat memberikan pelayanan kepada pasien non-Covid-19. Kementerian Kesehatan sudah menyusun pedoman teknis sebagai acuan bagi pengelola rumah sakit dalam menyesuaikan kembali layanan RS pada masa adaptasi kebiasaan baru. Satgas Covid-19 sebagai tangan kanan Kementerian Kesehatan dalam penanganan Covid-19, meluncurkan kampanye protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Pemerintah melakukan 3T atau tracing, testing dan treatment, dan masyarakat diminta untuk melakukan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Kemajuan teknologi telah berkontribusi meningkatkan kecepatan penemuan vaksin Kemajuan itu pulalah yang turut membantu meningkatkan kecepatan proses pengembangan vaksin untuk mengatasi pandemic Covid-19. Saat Indonesia sedang mempersiapkan produksi vaksin guna memerangi virus Covid-19. Proses pembuatan vaksin telah memasuki tahapan uji klinik fase 3 dan diharapkan dapat segera diproduksi, dengan memprioritaskan faktor keamanan. Seluruh upaya yang telah dilakukan diharapkan dapat mengatasi dan pada akhirnya menghentikan pandemi yang disebabkan oleh virus corona jenis SARS Cov-2 ini di dalam negeri. (CNN Indonesia, Nov 2020)

Dari narasi tersebut di atas, tentunya faktor kerjasama dan inovasi dari seluruh institusi serta masyarakat sangat diperlukan untuk penanganan Covid-19 di masa mendatang. Oleh karenanya,

FK-KMK UGM, RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM dan RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten menyelenggarakan kegiatan Annual Scientific Meeting (ASM) Sabtu (6/3) yang digelar secara daring. Kegiatan ini bertujuan untuk: pertama, memahami koordinasi pelayanan dan akselerasi inovasi di tingkat pusat maupun daerah untuk mengembangkan strategi pengendalian Covid-19 secara kontinyu dan terus menerus. Kedua, memahami penguatan sumber daya manusia dan kerjasama antarinstitusi baik tingkat pusat maupun daerah dalam penanggulangan pandemic Covid-19. Rangkaian kegiatan ASM 2021 ini akan digelar sampai dengan bulan April 2021 dalam beragam bentuk kegiatan seperti workshop maupun seminar online.