OPINI: Seberapa Relevan Content Marketing di Era 4.0?

Nadia Nila Sari, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Content marketing (pemasaran konten) bukanlah istilah asing bagi pemasaran digital. Dalam era ketika pemanfaatan teknologi digital mendominasi strategi pemasaran, mengenal content marketing dan memahami penggunaan yang efektif merupakan suatu tantangan tersediri. Terutama di masa pandemi Covid-19 yang belum berakhir, aktivitas work from home (WFH) atau bekerja dari rumah, school from home atau sekolah dari rumah, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan social distancing (menjaga jarak sosial) membuat orang banyak mengandalkan platform digital guna memenuhi segala kebutuhan dan pencarian informasi.

Data dari Think with Google, pada 2020 selain terjadi peningkatan  belanja online dalam membeli kebutuhan secara online sebesar 30%-70% dan peningkatan penelusuran hingga 40% untuk orang Indonesia memulai membuka bisnis sampingan dalam masa pandemi Covid-19.

Mayoritas retailer-pun mulai beralih ke medium digital. Di sinilah peran content marketing sebagai suatu strategi komunikasi kepada konsumen menjadi krusial khususnya bagi usaha kecil dan mikro.

Menurut buku Marketing 4.0, content marketing adalah suatu pendekatan yang melibatkan penciptaan, pengelolaan, pendistribusian dan penguatan konten yang menarik, relevan dan berguna untuk mendefinisikan konsumen dalam menciptakan percakapan mengenai konten itu sendiri (Kotler, Kartajaya dan Setiawan, 2017).

Buku Digital Marketing for Dummies mencatat bahwa content marketing mengantisipasi kebutuhan konsumen dan prospek dengan membangun asset konten yang memuaskan mereka (Deiss & Henneberry, 2017). Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Google terhadap ribuan iklan Youtube Trueview mengungkapkan bahwa atribut video yang tidak akan diskip oleh penonton terdiri dari cerita, wajah manusia dan serangkaian animasi, sehingga pemasar perlu menyadari bahwa konten yang baik akan menarik bagi konsumen.

Content marketing memiliki berbagai macam bentuk, misalnya postingan dalam blog, media sosial, infographics, foto, membuat majalah atau buku digital, audio dan video podcast, microsites atau dapat dibuat juga dalam bentuk e-newsletter. Pemasar juga dapat dalam menciptakan konten dalam bentuk webinar, testimonial konsumen atau sumber-sumber yang bersifat edukatif dan bermanfaat bagi konsumen. Apapun bentuk yang dipilih oleh pemasar, kreativitas adalah kunci untuk menciptakan konten yang menarik, namun investasi pembuatan konten bagi banyak perusahaan membutuhkan anggaran yang besar dengan memaksimalkan penggunaan aplikasi atau software.

Bagaimana dengan Anda pengusaha yang baru saja memulai bisnis atau memiliki usaha dengan skala mikro menengah? Anda tidak perlu khawatir harus menganggarkan biaya yang besar dalam menciptakan konten, namun dapat memulai dari memahami beberapa tahap pembuatan konten di bawah ini:

Pertama yang harus dipahami sebelum memulai menciptakan konten adalah mengenal siklus funnel yang ditentukan oleh perusahaan. Siklus funnel seperti dikutip pada Digital Marketing for Dummies terdiri dari tiga tahap yang menuntun konsumen hingga melakukan tindakan konversi (pembelian, subscribe, menjadi follower, dan lain-lain). Tahap tersebut adalah Awareness, Evaluation dan Conversion. Anda harus memahami tahap apa yang menjadi tujuan perusahaan, apakah mengenalkan produk dan meningkatkan kesadaran, menyampaikan manfaat produk atau mengajak mereka untuk membeli. Setiap funnel memiliki maksud sendiri dan harus disesuaikan dengan tujuan kampanye perusahaan.

Kedua, adalah mengenal siapakah target konsumen perusahaan. Istilah tepat untuk menggambarkan hal ini adalah mengenal consumer persona. Anda harus memahami mulai dari rentang usia, hobi, jenis kelamin, pekerjaan, status pernikahan bahkan media yang paling sering mereka gunakan untuk mencari informasi atau melakukan pembelian. Dengan Anda mengenal konsumen Anda Anda akan menciptakan konten yang tepat untuk mereka. Bukalah web log dan halaman insight media sosial Anda untuk mengenal siapa konsumen Anda.

 

***

Ketiga, pilihlah media yang tepat dalam menyampaikan konten. Seringkali dalam memilih media banyak yang mendasarkan pada popularitas media yang sedang hype, misalnya pemasar berlomba-lomba membuat akun di Tiktok padahal target perusahaan bukanlah pengguna dari sosial media itu.

Sebaiknya perusahaan bijak dalam memilih media yang tepat yang disesuaikan dengan target dan fungsi masing-masing media. Misalnya jika ingin membuat tutorial penggunaan produk dengan durasi yang panjang gunakan Youtube.

Jika target konsumen berusia 18-24 tahun dan ingin membangun awareness dan interaksi gunakanlah Instagram dan fitur story-nya.  Konsumen baby boomer biasanya lebih menyukai Facebook daripada sosial media lainnya. 

Keempat, merencanakan penjadwalan (scheduling) kapan harus mengunggah konten Anda. Manfaatkan event penting Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), Valentine, hari raya keagaman, tanggal gajian konsumen atau situasi yang sedang tren. Buatlah suatu jadwal perencanaan dalam tiga bulan dan detail perencanaan target memproduksi konten sampai waktu unggah. Anda bisa menggunakan bantuan aplikasi seperti Everypost, Hootsuits, Buffer atau Spout Social.

Menurut Oberlo, menggunggah konten di Instagram disarankan dilakukan pada saat jam istirahat kantor atau setelah pulang kantor pada jam 7–9 malam ketika engagement paling tinggi terjadi di hari Senin, Rabu dan Kamis. Manfaatkanlah data riset yang tersebar diinternet untuk membuat strategi mengunggah konten.

Kelima, adopsi story telling dalam pembuatan konten karena semua orang menyukai cerita dan kisah. Konsumen dibesarkan dengan cerita yang mereka dengar atau lihat dan dapat menyentuh sisi emosional konsumen.

Story telling adalah bentuk penawaran soft sell dengan membungkus tujuan pemasaran melalui kisah. Menciptakan cerita di balik berdirinya perusahaan serta tantangannya dapat meningkatkan kepercayaan konsumen karena dapat menginspirasi konsumen serta menimbulkan terkesan autentik karena perusahaan tidak asal mencontoh dari sumber internet.

Anda dapat pula menceritakan testimonial konsumen, membandingkan produk dengan pesaing dalam membuat story telling. Cerita yang berkesan kepada konsumen berpotensi untuk disharingkan kepada konsumen lainnya. Seperti kutipan dari John Jantsch, “Create something people want to share [Kreasikan sesuatu yang orang ingin membagikannya]”.