OPINI: Demokratisasi Data Indikator Transformasi Digital

Ilustrasi kata sandi atau password - Antara

Di dunia pertanian, silo adalah istilah untuk menara atau bungker penyimpan hasil pertanian, khususnya yang bersifat curah. Silo dikonstruksikan sedemikian rupa untuk menekan serangan hama dan masalah pasca panen lainnya, sehingga kualitas hasil pertanian dapat bertahan lebih lama.

Penyimpanan hasil panen tersebar pada beberapa silo adalah mekanisme untuk menghindari kerusakan total hasil panen akibat disimpan di sistem penyimpanan tunggal atau terpusat.

Dalam konteks sistem manajemen data berbasis teknologi informasi, keberadaan silo data umumnya berawal dari kondisi yang tidak sengaja dirancang. Silo data terbentuk karena proses digitalisasi secara bertahap sesuai kemampuan perusahaan.

Dalam perjalanan waktu, silo-silo tersebut berubah menjadi bukti kinerja bernilai tinggi yang dapat memberikan organizational power kepada pengelolanya. Beberapa kondisi organisasi yang tidak sehat membuat orientasi departemental jadi sangat kuat dan memicu pergeseran makna power tersebut.

Tidak semua departemen mau berbagi data dengan alasan logis tetapi parsial. Gara-gara silo, aliran data dalam perusahaan tidak lancar, bahkan terputus. Silo data menjadi fenomena bisnis yang kontraproduktif.

Meski berada di kendaraan yang sama, ada kalanya sopir dan penumpang di bangku depan punya rencana taktis sendiri, karena merasa bisa melihat pemandangan sisi depan lebih jelas dibanding dengan penumpang lainnya.

Penumpang di bangku tengah, kalau tidak tidur biasanya asyik ngobrol. Penumpang bangku belakang? Berusaha tenang di ruang gerak terbatas, sesekali ‘mengevaluasi’ kinerja penumpang depan dengan nada pedas.

Departementasi organisasi tidak bisa dicegah tapi silo data harus dihindari. Potensi kehadiran silo data di perusahaan paling mudah ditengarai dari pekerja yang tidak saling kenal, bahkan cenderung menjaga jarak, termasuk secara informal. Beberapa personal atau departemen, secara sadar atau tidak, menjadi raja-raja kecil penguasa silo data.

Setiap departemen merasa berhak menjaga eksklusifitas data yang dikelola. Pengakuisisian data secara departemental itu salah? Tidak. Namun harus didukung prosedur komunikasi data yang efektif khususnya terkait akses data lintas departemen.

Pembatasan akses data tanpa pertimbangan yang sahih adalah sumber inefektifitas arsitektur bisnis. Ujung-ujungnya kinerja perusahaan terganggu. Berawal dari proses bisnis internal yang tidak lancar, silo data terbentuk.

Duplikasi data atau data tidak lengkap terjadi berulangkali, kualitas data menjadi rendah. Pelayanan konsumen jadi lambat, bahkan terlambat. Konsumen kecewa, enggan mengulang transaksi, membatalkan, lebih parah lagi menyebarkan berita negatif di dunia maya.

Tidak heran jika sekitar 47% responden di sebuah survei menuding silo data sebagai biang kegagalan perusahaan dalam memaksimalkan pengalaman pelanggan (Arm Treasure Data, 2019). Silo data adalah pemborosan sumber daya perusahaan yang sangat besar.

Pengintegrasian data adalah solusinya. Pengintegrasian data akan membuat proses ETL (Extraction, Transformation, dan Loading) menjadi lebih efisien dan efektif. Penggunaan komputer, teknologi jaringan, dan berbagai perangkat lunak teknologi informasi canggih bukan cermin transformasi digital.

Transformasi digital adalah proses mengubah kegiatan yang semula bersifat nondigital menjadi digital disertai, digarisbawahi, peningkatan efektifitas dan efisiensi kegiatan terkait. Kehadiran silo data saat sebuah perusahaan melengkapi diri dengan berbagai perangkat digital serba canggih justru menunjukkan perusahaan sedang berjalan mundur.

Pengintegrasian silo adalah realisasi demokratisasi data di mana demokratisasi data adalah indikator transformasi digital yang sesungguhnya. Demokratisasi data dalam perusahaan adalah motor penggerak kolaborasi departemental.

Demokratisasi data tetap harus menjunjung tinggi prinsip pengawasan dengan target pengamanan data yang konsisten. Contoh pengamanan yang tanpa toleransi adalah penyalahgunaan kata sandi dalam berbagi lapis pengaman.

Tiap pengemudi punya cara dalam menangani kondisi kendaraan dan situasi jalan raya yang berbeda. Meski tidak berperan langsung terhadap manuver kendaraan, atmosfer psikososial penumpang mempengaruhi kemampuan pengemudi saat membuat berbagai keputusan ‘strategis dan operasional’.

Tidak mungkin semua penumpang duduk di bangku depan atau belakang mobil. Bukan posisi duduk yang penting untuk harmonisasi tapi komunikasi.

Penumpang yang paham jalur alternatif bersedia membagi pengetahuannya ke pengemudi meski duduk di belakang, bukan malah diam menunggu datangnya jebakan kemacetan, lalu teriak menyalahkan penumpang depan.

Penumpang depan atau tengah dengan cepat meminta pengemudi mengurangi kecepatan saat melewati jalan berliku, karena mengetahui penumpang di belakang sedang dalam kondisi kurang enak badan saat kendaraan berangkat.

Dalam demokratisasi data, bukan lokasi penyimpanan data yang berperan besar tapi bagaimana data dalam perusahaan bisa dikomunikasikan secara lancar. Pandemi Covi-19 adalah tonggak sejarah transformasi digital yang tak terelakkan secara universal.

Jangan tunda demokratisasi data. Jangan gara-gara aliran data tersumbat, konsumen, bahkan karyawan hebat, minggat!

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia