Ramadan dan Sentuhan Pembelajaran melalui Spiritual Education

Dyah Pikanthi Diwanti, Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Mahasiswa Program Doktoral Unair Surabaya

Bulan Ramadan menghadirkan suasana kebersamaan yang selalu dirindu oleh umat Islam di dunia. Suasana Ramadan dari tahun ke tahun membawa hikmah bagi siapapun. Memasuki tahun kedua di masa pandemi Covid-19, Ramadan membawa hikmah mendalam khususnya menyangkut mobilitas manusia ketika sebelum masa pandemi dapat menjalani tatap muka secara langsung, membuka komunikasi secara terbuka dan menguatkan budaya kebersamaan melalui kegiatan pada umumnya.

Meskipun ada hal baru yang menjadikan budaya new normal hadir di masyarakat, namun upaya menjalani proses penyesuaian adanya perubahan suasana seperti ini perlu dikuatkan dengan keyakinan bahwa bagaimanapun keadaan ini membawa hikmah bagi siapapun yang bersabar.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Ath Thalaq (2-3): “..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.”

Ramadan tahun ini membawa hikmah yang mendalam dari proses pembelajaran. Termasuk aktivitas yang terkait dalam rutinitas ibadah di lingkungan sekolah/ kampus. Kondisi pembelajaran online pastinya dirasakan oleh seluruh pembelajar dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Sehingga upaya penyesuaian sangat diperhatikan oleh siapapun bukan hanya pendidik namun orang tua dan lingkungan terdekat siswa/ mahasiswa ikut pula memberi warna dan sentuhan dalam pembelajaran saat ini. Proses pembelajaran di masa pandemi ini siap tidak siap harus disiapkan. Bukan begitu?

Pendekatan pembelajaran melalui partisipasi aktif dengan ragam kreativitas muncul di masa pandemi. Sehingga siapapun pembelajar akan merasakan perbedaan dalam menjalani prosesnya di masa pandemi dan yang jelas ada sesuatu yang berkurang yakni sentuhan pembelajaran.

Lantas sentuhan pembelajaran yang seperti apa yang dibutuhkan dan hikmah apa yang hadir di bulan Ramadan? Sentuhan pembelajaran yang berkurang bukan sekadar bahasa fisik, ketika sebelum masa pandemi komunikasi yang dibangun dengan tatap muka membawa nilai yang terpatri, kini proses ini terganti dengan dunia virtual yakni kelas online.

Pendidikan spiritual (spiritual education/SE) di bulan Ramadan ini akan sangat mendukung penguatan pembelajaran yang menghadirkan kelekatan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Hadirnya pola asah, asih dan asuh menjadi pola dalam SE.

Pola asuh dapat diwujudkan melalui ruang konsultasi, adanya interaksi dalam komunikasi. Suasana pembelajaran di bulan Ramadan ini dikuatkan dengan tetap membangun ruang diskusi, ruang berbagi informasi melalui medsos, dan bentuk komunikasi lain yang dibantu dengan teknologi (IT).

Selanjutnya adalah pola asih yakni upaya pembelajaran yang senantiasa mengedepankan ikatan baik antara siswa/mahasiswa dengan guru/ dosen serta keterlibatan lingkungan terdekat yang menyertai. Pola ini dibangun mulai dari sapaan, maupun aspek afektif lain yang membangun terjalinnya ikatan emosional dalam pembelajaran. Sehingga komunikasi tidak hanya sebatas menanyakan tentang tugas pelajaran semata, namun bagaimana menyangkut kebutuhan afektif yang lain contohnya adalah penguatan solidaritas antara sesama.

Mengelola empati  dan simpati juga dilakukan dalam pola asah. Contoh dari wujud pola asah di sini yakni memberikan semangat/stimulus untuk senantiasa produktif dalam berkarya, melakukan kegiatan ruang tadarus/kajian ilmu, membuka ruang tutorial dalam praktik ibadah dan bentuk lain yang melatih keterampilan.

Sentuhan pembelajaran yang hadir melalui pendidikan spiritual ini akan sangat bermanfaat dalam upaya membangun kesadaran bersama akan pentingnya pola asah, asih dan asuh di masa pandemi Covid-19.

Bulan Ramadan menjadi ruang kontemplasi/perenungan dalam memperbaiki kualitas diri. Senantiasa terus menggali ilmu dan keterampilan meskipun kondisi yang berjalan mengajarkan kesiapan diri untuk terus berlatih dan berlatih dalam menyikapi, mengevaluasi dan memperbaiki.