Motivasi dalam Pergaulan Islami

Zaini Muchlis, Dosen IPIEF UMY
20 April 2021 06:17 WIB Zaini Muchlis, Dosen IPIEF UMY Hikmah Ramadan Share :

Muamalah/pergaulan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam diri seorang manusia. Banyak faktor yang memengaruhi pergaulan hidup seorang muslim ataupun non-muslim. Adapun faktor yang menjadikan seorang muslim bisa bergaul dengan baik kepada orang lain ialah semata-mata mencari rida Allah. Ketika seorang muslim tersenyum kepada saudaranya, maka itu semata-mata mencari rida Allah, demikian juga ketika seorang muslim membantu temannya yang dalam kesulitan atau ketika menepati janji, berlaku jujur, tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan orang lain, maka perbuatan-perbuatan itu semata-mata untuk mencari rida Allah.

Adapun orang-orang kafir pada umumnya ketika bermuka manis kepada orang lain, menepati janji, berbicara lemah-lembut, semua itu dilakukan karena untuk kepentingan dunia. Tingkah laku seperti ini yang membedakan antara muslim dan bukan.

Bisa saja seorang muslim ber-muamalah dengan sesamanya karena tujuan duniawi. Seperti seseorang yang menjalin persahabatan disebabkan adanya keuntungan yang didapatnya dari orang lain, manakala keuntungan itu tidak didapatkan lagi maka ia berubah menjadi tidak mau kenal dan akrab lagi. Atau seseorang senang ketika orang lain memberi sesuatu kepadanya, akan tetapi ketika sudah tidak diberi, kemudian berubah menjadi benci. Hal seperti itu bisa terjadi pada diri seorang muslim. Akan tetapi sikap tersebut bukanlah menggambarkan seorang muslim yang sejati, sebab sikap tersebut bertentangan dengan  Al Qur’an dan As Sunnah.

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Zaadul Ma’ad: Diantara kecintaan terhadap sesama manusia ada yang disebut mahabbatun linaili gharadlin minal mahbub. Yaitu suatu kecintaan untuk mencapai tujuan dari yang dicintainya. Bisa jadi tujuan itu ingin ia dapatkan dari kedudukan orang tersebut, dari hartanya, atau untuk tujuan tertentu. maka yang demikian itu disebut kecintaan karena tendensi.

Atau karena ada tujuan yang ingin dicapai, kemudian kecintaan ini akan lenyap pula seiring dengan lenyapnya tujuan tadi. Karena sesungguhnya, siapa saja yang mencintaimu dikarenakan adanya suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan tentang  kecintaan yang bukan karena Allah: jiwa manusia itu telah diberi naluri oleh Allah untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun pada hakikatnya sesungguhnya hal itu sebagai kecintaan kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik.

Apabila orang yang berbuat baik itu memutuskan perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan yang demikian itu bukan karena Allah.

Jika manusia saling mencintai dengan sesamanya karena kepentingan dunia, yang demikian itu tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Bahkan bisa jadi hal tersebut dapat menjerumuskannya kepada sifat kemunafikan. Di akhirat kelak mereka akan menjadi bermusuhan antara satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa. Wallahu ta’ala a’lam.