OPINI: Mencari Roh Ekonomi Kreatif dan Nilai-Nilai Budaya

Totok Budisantoso, Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Hingga akhir kuartal I 2021, pemerintah dan seluruh masyarakat masih berjuang keras melawan pandemi Covid-19. Namun, data infeksi harian yang disajikan masih menunjukkan bahwa taji virus ini masih tajam melukai. Meskipun rangkaian vaksinasi terus digelar dengan susah payah karena suplai yang terbatas dan juga sosialisasi yang terus menjadi tantangan, pandemi tetap menjadi musuh nyata yang sangat mengancam. 

Berkaca dari India yang justru hari-hari terakhir ini seakan membuka kotak pandora Covid–19 dengan laju infeksi harian hingga ratusan ribu orang. Kita harus jauh lebih waspada.

Dunia usaha mengalami tantangan yang semakin berat. Semakin lama pandemi ini menghajar, semakin berat  tekanan ekonomi masyarakat karena terhenti atau terganggunya aktivitas perekonomian.  Kehilangan pekerjaan dan sumber-sumber ekonomi menjadi sangat nyata dan berdampak langsung terhadap kemampuan bertahan.  Bahkan sektor ekonomi informal pun juga terpukul hebat.  

Kontraksi ekonomi dunia mungkin mencapai triliunan dollar meskipun secara serentak, masing-masing negara membuat berbagai insentif dan stimulus untuk menggerakkan aktivitas ekonomi. 

Kita bersama menyaksikan, pandemi ini juga membuka gerbang perkembangan teknologi dan menjadi tulang punggung ekonomi digital. Data BPS sepanjang 2020 menunjukkan bahwa sektor informasi dan komunikasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi dan diprediksi tetap akan menjadi leading sector. Data ini mengindikasikan bahwa semakin banyak masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada ekonomi digital. Jelas bahwa ekonomi digital telah membuat berbagai aktivitas menjadi  lebih efisien dan selalu menghadirkan tantangan untuk berinovasi.  Ekonomi digital memberi kesempatan untuk pengembangan bisnis model yang beraneka ragam.  

Cepatnya sebaran ekonomi digit karena basis teknologi digital memberikan playing fields yang sama bagi semua orang. Begitu terhubung dengan jejaring, kesempatan terbuka tak terbatas untuk memanfaatkannya sebagai basis perekonomian.

Berkaitan dengan ekonomi digital ini, sebenarnya pemerintah sudah membuat ancang-ancang yang tepat. Terbukti dengan dibentuknya Kementerian Digital dan Ekonomi Kreatif.  Pembentukan ini jauh-jauh hari sebelum pandemi melanda. Tentu saja ada banyak dukungan yang mengalir atas pembentukan kementerian ini. Lembaga yang memang dibentuk dan dipersiapkan untuk membangun pondasi perekonomian yang  menuntut serba cepat berbasis teknologi. Nomenklatur yang dipilih adalah ekonomi kreatif. Tak terbantahkan teknologi informasi sebagai basis ekonomi yang bisa jadi menjadi arus besar untuk membawa negara ini dari jurang resesi ekonomi.

 

***

Bagaimana dengan ekonomi kreatif  dimaknai dan sungguh-sungguh digarap untuk menjadi alternatif yang jitu sebagai salah satu pilar pertahanan prekenomian yang dapat diandalkan untuk saat ini?

Ekonomi kreatif mengindikasikan eksistensi gagasan baru  dalam dunia perekonomian yang mengutamakan kreativitas dan informasi. Kedua pilar utama tersebut  dimanfaatkan sebagai  faktor produksi. Daya kreativitas  adalah ide-ide cemerlang yang muncul dari para pelaku ekonomi dengan memberikan value kepada pengguna atau klien. Kreativitas muncul dengan observasi yang cermat terhadap semua aspek lingkungan secara komprehensif dan berlanjut dengan mengisi gagasan baru untuk mengisi sendi yang dianggap memberikan nilai tambah. Dalam konteks ini, cakupan ekonomi kreatif menjadi tanpa batas karena terbuka untuk semua kemungkinan pengembangan yang didasarkan pada ide serta gagasan yang baru.

Dampak positif dari ekonomi kreatif sungguh terasa sampai sekarang. Industri  baru dengan basis mengandalkan kreativitas manusia melonjak dan berdampak signifikan pada pertumbuhan sektor ekonomi Indonesia. Gayung bersambut ketika ekonomi kreatif masuk dalam konteks digital. Ekonomi digital memberi ruang yang juga tidak terbatas kepada semua pelaku untuk memanfaatkan berbagai platform yang tersedia untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin. Lalu, apakah masalahnya?

Kreativitas tidak tumbuh dengan sendirinya. Perlu ada ekosistem yang mendukung. Masih banyak pelaku kreatif yang masih bekerja sendiri-sendiri. Terjadi karena  belum menemukan ekosistem yang ideal. Dengan membentuk ekosistem ekonomi kreatif yang kokoh dari hulu hingga ke hilir, dari eksperimen identitas produk hingga ke packaging hingga akhirnya sampai di tangan konsumen. Dalam hal ini, roh ekonomi kreatif adalah membangun ekosistem yang kondusif. Ekosistem tersebut bahkan kalua perlu diarahkan untuk melayani pasar yang khusus atau niche market. Hal ini juga penting untuk merangsang motivasi para pelaku kreatif muda untuk terus berkarya di industri masa depan ini.

Salah satu dasar untuk membangun ekosistem tersebut adalah nilai budaya. Ambillah contoh dari observasi yang dilakukan oleh penulis. Ada sebuah komunitas di Jogja yang bernaung dalam Paguyuban Penggemar Tosan Aji  dan benda-benda antik berbasis nilai budaya. Paguyuban ini bernama Lar Gangsir. Ada upaya untuk melestarikan dengan cara menggali nilai di balik tosan aji secara komprehensif dari semua aspek kehidupan secara historis maupun relevansinya hingga saat ini.

Aktivitas pelestarian dengan berbagai macam aktivitas yang juga di dalamnya ada aktivitas transaksional benda-benda budaya dapat diletakkan dalam konteks ekonomi kreatif. Aktivitas yang diselenggarakan dengan melibatkan berbagai pihak pada dasarnya adalah upaya untuk membangun sebuah ekosistem. Aktivitas yang diselenggarakan berupa seminar, pameran, bursa, forum diskusi, workshop dan lain sebagainya terkait dengan  tosan aji maupun benda seni lainnya adalah upaya untuk menciptakan momentum kreativitas yang memberikan kesempatan untuk monetisasi. Jelas bahwa dalam rangkaian aktivitas yang dilakukan hingga akhirnya berujung pada transaksional, teknologi informasi–digital memberikan sumbangsih besar. Dunia digital digunakan untuk memelihara niche market.

Semua media sosial yang tersedia, disuguhkan kepada pasar tertentu dengan konten-konten yang bersinggungan dengan concern dari paguyuban. Konten ini berupa edukasi, sosialisasi, informasi histori, hingga akhirnya diharapkan ada transaksi. Sungguh bahwa dengan bantuan teknologi apapun plarformnya dapat digunakan untuk menyajikan semua value yang dihasilkan. Inilah contoh upaya nyata untuk menghidupkan roh ekonomi kreatif.

Ruang terbuka luas untuk berkembang. Nilai budaya dijaga dan diuri-uri dan di sisi lain ada transaksi yang terjadi dengan dukungan teknologi informasi sebaga sarana untuk berbagai. Kita tunggu juga uluran pemerintah untuk melirik dan mengulurkan tangan untuk aktivitas kreatif ini.