Menjadi Mulia dengan Al-Qur’an

Moch. Iqbal, Dosen Pendidikan Bahasa Arab UMY, Kandidat Doktor Universidad Autnoma de Madrid, Spanyol

Salah seorang ustadz pernah mengatakan, “Jikalau anda mendapati debu di mushaf anda, artinya debu di hati anda jauh lebih parah.” Saat jiwa dan hati manusia jauh dari Al-Qur’an dan enggan menjamahnya, hanya kekeringanlah yang akan dirasakannya. Kertas putih pun seakan dipenuhi tinta hitam yang mengotorinya. Di saat itulah, Allah SWT akan mencabut kemuliaan darinya.

Segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Qur’an pasti akan melahirkan kemuliaan.

Al-Qur’an menjadi sebab makhluk Allah SWT mendapatkan level kemuliaan tertinggi di sisi-Nya. Tatkala kita menancapkan Al-Qur’an di sanubari, menyematkannya di dada, memilikinya di relung jiwa, bersahabat dan bercengkerama dengannya di sepanjang waktu, dan mengimplementasikannya dalam perilaku, maka niscaya puncak kemuliaan akan berhasil kita daki.

Lailatul qadar mendapat kemuliaan sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan karena malam tersebut adalah malam diturunkannya Al-Qur’an dari lauhul mahfudz ke langit dunia. Malaikat Jibril AS mendapatkan kemuliaan dengan gelar ruhul qudus, ruhul amin, dan ruhul haq dari Allah SWT karena ia mengemban tugas mulia, yaitu menyampaikan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat mulia. Kemuliaan itu tidak hanya karena beliau sebagai nabi dan utusan Allah saja, namun juga karena beliau datang dengan membawa Kalamullah yang mulia, yaitu Al-Qur’anul Karim. Kemuliaan itu juga diperoleh karena akhlak dan perilaku beliau merupakan cerminan dari Al-Qur’an. Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Sayyidah Aisyah RA mengenai akhlak Rasulullah SAW. Beliau RA menjawab: “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an” (HR Muslim).

Jawaban Sayyidah Aisyah RA ini singkat, namun sangat padat dan sarat makna. Aisyah RA mendeskripsikan Rasulullah SAW dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang dimiliki oleh beliau. Sifat-sifat beliau yang lainnya bersumber dari satu sifat ini dan bermuara pada Al-Qur’an.

Memang tepat, akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an. Dengan akhlak dan ruh yang menyatu dengan Al-Qur’an, cahaya kemuliaan beliau SAW semakin terang benderang. Ini menjadi salah satu penegas bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia ke jalan yang paling lurus. Sebagaimana Allah SWT berfirman: “...Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus...” (Al-Israa’: 9).

Ramadan merupakan bulan Iqra’, bulan literasi. Bulan yang menumbuhkan semangat membaca. Sebab, kata Iqra’ mengubah wajah peradaban dunia. Hegemoni peradaban Romawi dan Persia hancur dan berhasil digantikan oleh peradaban Islam. Spirit Al-Qur’an inilah yang melatarbelakangi kejayaan peradaban Islam hingga mencapai masa keemasannya. Iqra’. Bacalah apa saja, tapi harus bismi rabbika. Dengan nama Tuhanmu. Niscaya kesuksesan dan kemuliaan akan menyertaimu.

Lalu bagaimana dengan kita umat Nabi Muhammad SAW? Kita akan mendapatkan kemuliaan dan status “termasuk manusia terbaik” jika kita mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).