OPINI: Mengkomunikasikan Perubahan Iklim

Ilustrasi asap pabrik. - Bloomberg/Luke Sharrett
08 Juni 2021 06:07 WIB Eko Sulistyo, Komisaris PLN Aspirasi Share :

Perubahan iklim dan pemanasan global adalah keniscayaan, salah satunya terjadi pada 2020 yang disebut oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sebagai tahun terpanas kedua sepanjang sejarah setelah 2016.

Namun masyarakat seperti belum tergerak untuk mengantisipasi dampak pemanasan global. Bagi kelas menengah perkotaan, cuaca panas cukup diatasi dengan menambah kapasitas penyejuk ruangan (AC) sebagai solusi instan dan bersifat sementara.

Dampak terburuk perubahan iklim dan pemanasan global sudah ditunjukkan oleh Verisk Maplecroft, lembaga analis bisnis global, dalam rilisnya pertengahan Mei lalu. Dalam kajiannya, Jakarta disebut sebagai kota dengan bahaya lingkungan terbesar dan paling rentan terhadap perubahan iklim.

Ada 576 kota terbesar di dunia yang disurvei, selain Jakarta sebagai kota paling berisiko, disebut juga Surabaya diposisi keempat dan Bandung diperingkat delapan untuk kota di Indonesia.

Informasi seperti itu sebenarnya sudah lebih dari cukup sebagai alarm tanda bahaya. Secara umum kita belum melihat masyarakat kita sedang bersiap menghadapi situasi terburuk, semua masih berjalan seperti biasa.

Sudah saatnya pemerintah menyiapkan strategi komunikasi yang efektif dan tepat sasaran guna menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait dengan urgensi dampak perubahan iklim.

Diperlukan metode khusus untuk membangun narasi perubahan iklim.

Pertama, narasi mitigasi yang bertujuan mengurangi jumlah karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya yang terakumulasi di atmosfer. Kedua, narasi adaptasi sebagai upaya mengelola konsekuensi perubahan iklim yang sudah terjadi.

Karena perubahan iklim telah menaikkan permukaan laut, membuat badai hebat dan peristiwa cuaca besar lainnya semakin mematikan, umat manusia sudah menghadapi konsekuensinya. Para ilmuwan memperkirakan cuaca ekstrem akan menimbulkan kekeringan dan banjir lebih sering terjadi yang mengganggu pertanian, ketahanan pangan, dan meningkatkan konsumsi energi.

Agar bukti ilmiah ini dapat membentuk tindakan orang, sangat penting bahwa ilmu pengetahuan dikomunikasikan kepada publik secara efektif. Masalahnya bukan karena orang belum diberi cukup fakta dari dampak perubahan iklim, tapi mereka belum diberi fakta dengan cara yang benar.

Dalam teori komunikasi, pendekatan ini sering disebut dengan pembingkaian atau framing. Sama seperti bingkai foto yang menarik perhatian ke bagian gambar di dalamnya, bingkai linguistik dapat melakukan hal yang sama dengan ide.

Untuk itu menjelaskan tentang perubahan iklim kepada masyarakat sebaiknya dihindari dulu bicara tentang sains. Sebaliknya, berbicara tentang hal-hal sederhana seperti memancing, banjir, bertani, keyakinan, dan masa depan sebagai pintu masuk untuk membahas pemanasan global.

Pengguaan metafora juga bisa memberikan kerangka untuk membicarakan tentang perubahan iklim. Artikel psikolog Stephen Flusberg, Paul Thibodeau, dan Teenie Matlock tentang Metaphors for the War (or Race) against Climate Change menunjukkan bahwa metafora yang kita gunakan untuk menggambarkan pemanasan global dapat memengaruhi keyakinan dan tindakan orang. Misalnya, metafora ‘perang’ akan lebih tegas dari ‘perlombaan’ melawan pemanasan global.

Dengan metafora perang, kita diingatkan tentang konsep terkait perang lainnya seperti kematian, kehancuran, pertentangan, dan perjuangan. Konsep-konsep ini memengaruhi emosi kita dan mengingatkan akan perasaan dan konsekuensi negatif dari kekalahan.

Dengan mengingat pemikiran yang berhubungan dengan perang tersebut, kita mungkin termotivasi untuk menghindari kekalahan dan bersedia untuk mengubah perilaku mengurangi jejak karbon.

Mengkomunikasikan perubahan iklim jelas memiliki tantangan tersendiri, mulai dari mengurangi jargon ilmiah untuk merepresentasikan dampak iklim secara sederhana dan tepat hingga membuka percakapan tentang solusi iklim agar inklusif dan dapat diakses. Tidak ada kerangka yang sama untuk memotivasi orang agar peduli dengan perubahan iklim.

Betapa krusialnya isu perubahan iklim dan pemanasan global, misalnya bisa dilihat dalam frasa yang muncul dalam KTT Adaptasi Iklim akhir Januari lalu. Pada pertemuan ini disampaikan komitmen masing-masing negara dalam mengurangi emisi karbon atau yang dikenal dengan NDC (Nationally Determined Contribution), sebagai target penurunan emisi untuk terhindar dari pemanasan global.

Presiden Jokowi yang hadir secara virtual menyampaikan capaian Indonesia dalam mitigasi dampak pemanasan global. Seperti menurunkan emisi (dekarbonisasi), antara lain dengan menghentikan pembangunan PLTU baru, membekukan sejumlah PLTD, mengendalikan kebakaran hutan dan lahan, elektrifikasi transportasi umum, mempercepat ekosistem kendaraan listrik dan meningkatkan kapasitas energi terbarukan.

Capaian seperti ini perlu disampaikan ke publik dengan bahasa yang sederhana, popular dan mudah dimengerti.

Berbagai platform digital juga dapat dimanfaatkan untuk kampanye rendah emisi guna mendukung aksi iklim. Perubahan iklim sebagai subjek dari komunikasi publik adalah pembawa pesan yang sama pentingnya dengan pesannya.

Pesan itu adalah tindakan yang memerlukan perubahan dalam kebijakan publik, kebijakan perusahaan dan perilaku warga, dan kerja sama antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan masyarakat sipil untuk mengurangi risiko iklim.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia