OPINI: Format Baru Bisnis Airlines

Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019). - Reuters/Willy Kurniawan

Pernah dengar Super Air Jet? Ini adalah maskapai penerbangan baru yang konon terafiliasi dengan Lion Air Group. Seperti dikutip dari tulisan di ch-aviation.com pada 25 Mei 2021, Lion Air Group tampaknya telah melakukan injeksi dana US$67,5 juta atau setara Rp968 miliar kepada low-cost start-up Super Air Jet dan saudara sekandungnya, Flyindo Aviasi Nusantara yang merupakan charter flight start-up.

Super Air Jet saat ini baru memiliki 1 pesawat yaitu Airbus 320ceo yang diambil alih dari lessor setelah dikembalikan oleh IndiGo, low cost carrier dari India (simpleflying.com) sementara izin operasi maskapai berjadwalnya atau AOC (air operator certificate) masih dalam proses persetujuan di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Walau saat ini pesawatnya baru satu dan belum punya AOC serta rute tapi dapat diperkirakan bahwa dalam waktu dekat low-cost start-up airline seperti Super Air Jet ini armadanya akan cepat berkembang.

Semuanya itu akan dapat diperoleh dengan nilai yang ekonomis karena banyak pesawat yang dikembalikan ke lessor dan rute dikembalikan ke otoritas penerbangan lantaran maskapainya berhenti beroperasi.

Lebih lanjut lagi fenomena munculnya low-cost start-up airline seperti Super Air Jet ini bukan hanya di Indonesia tapi juga di industri penerbangan global dan boleh jadi akan menandai munculnya champion baru di industri penerbangan yang sejauh ini telah mengalami turbulensi hebat dan disrupsi yang sangat parah akibat pandemi Covid-19 yang tampaknya belum akan pergi dalam waktu dekat.

Maskapai baru seperti ini akan dimulai dengan kertas kosong dan punya banyak keleluasaan untuk menulis dari awal model bisnisnya yang disesuaikan dengan kondisi saat ini, seperti menyusun cetak baru dari awal.

Tanpa ada pra kondisi dan nyaris tanpa ada batasan yang harus menjadi perhatian kecuali bahwa model bisnis baru ini harus dapat mencapai efisiensi operasi dan finansial optimal tanpa mengorbankan masalah safety dan secara keseluruhan tetap memiliki fleksibiltas untuk penyesuaian sesuai situasi pasar.

Komposisi armada yang optimal, baik dari sisi akuisisi, operasi atau perawatan dengan menggunakan satu jenis pesawat saja dapat dengan cepat dibentuk, karena berlimpahnya stok pesawat yang dikembalikan kepada lessor.

Untuk sebagian besar maskapai dengan target pasar regional, pilihannya juga tidak akan keluar dari keluarga Airbus 320 atau Boeing 737 series.

IBA atau International Bureau of Aviation, firma konsultasi aviasi terkemuka dari Inggris, menyebutkan bahwa pada tahun ini lebih dari 1.000 pesawat, termasuk di antaranya 200 pesawat berbadan lebar akan dikembalikan kepada lessor tanpa kejelasan kepada maskapai mana selanjutnya akan disewakan dan dioperasikan.

Maskapai baru ini juga akan mendapatkan banyak kemudahan, karena sebagian besar rutenya tidak dapat diterbangi lagi oleh maskapai yang berhenti beroperasi. Alhasil, rute yang dapat dipilih adalah kombinasi terbaik dari daya jelajah dan kapasitas pesawat serta potensi pasar yang selanjutnya dapat dikembangkan untuk mencapai jejaring dan konektivitas yang paling luas.

Selanjutnya rekrutmen pilot dan teknisi dapat dengan cepat pula dilakukan. Sekali lagi karena ada stok melimpah yang sesuai dengan pilihan pesawat yang diambil yaitu jenis pesawat dengan populasi pengguna maskapai terbanyak.

Untuk awak kabin, awak darat, dan petugas pendukung operasi lainnya, termasuk untuk kebutuhan kantor operasi dan kantor pusat rekrutmennya pasti bukan merupakan masalah.

Dan yang terpenting, semua komponen human capital tersebut sedari awal dapat diikat dalam kesepakatan, perjanjian atau kontrak kerja yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan situasi makro ekonomi dan prospek bisnis industri penerbangan yang terjadi serta terutama sekali tidak memberatkan dan mengikat maskapai secara finansial dalam jangka menengah dan panjang.

Alhasil, maskapai dengan cetak biru baru ini boleh jadi sebagian besarnya adalah berupa penjelmaan kembali dari legacy maskapai yang reemerging dalam bentuk baru sebagai upaya untuk mempertahankan hidupnya dalam industri penerbangan di era pandemi yang disruptif dan tidak lagi sejalan dengan model bisnis yang lama.

Apakah hal ini merupakan tren atau kecenderungan sesaat, waktu yang akan menjawabnya. Yang sudah jelas bahwa skema ini adalah salah satu opsi yang diberikan oleh Menteri BUMN untuk penyelamatan maskapai nasional Garuda Indonesia yang antara lain berkaca pada skema penyelamatan Sabena Air (Belgia) dan Swissair (Swiss) di masa lalu.

Ketika itu penyelamatan Sabena Air pada 1991—1992 dilakukan melalui pengambilalihan yang dilakukan oleh start-up airline SN Brussels Airline atas sebagian besar aset Sabena, termasuk karyawan, pesawat dan rute melalui proses kepailitan.

Adapun penyelamatan Swissair pada 2002 dilakukan dengan skema yang hampir sama dengan Sabena. Hanya saja tidak melalui proses kepailitan di mana kelanjutan operasi Swissair diambilalih dan diteruskan oleh anak perusahaannya, Crossair yang kemudian berubah nama menjadi Swiss International Airlines.

Bagaimana dengan legacy airlines yang ditinggalkan oleh kapsul penyelamat berupa maskapai baru ini? Opsi yang umum dan banyak dilakukan adalah melalui proses resolusi (penyelesaian), baik melalui prosedur kepailitan maupun restrukturisasi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia