OPINI: Arah Pemulihan Ekonomi Berlanjut

Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Selasa (17/3/2020). Bloomberg - Andrew Harrer
19 Juni 2021 06:07 WIB Juky Mariska, Wealth Management Head, Bank OCBC NISP Aspirasi Share :

Memasuki pengujung semester II, pemulihan ekonomi dunia masih terus berlanjut meski pandemi belum berakhir. Di Amerika Serikat (AS), hal ini terlihat dari tingkat inflasi yang terus menunjukkan kenaikan hingga level 4,2% year on year (yoy) pada April 2021.

Namun demikian, bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), mengungkapkan bahwa kenaikan inflasi ini bersifat sementara akibat periode low base inflation di AS pada awal pandemi tahun lalu.

Alhasil, suku bunga AS diperkirakan akan tetap rendah dan stimulus pembelian aset akan tetap dipertahankan oleh Fed. Selain inflasi AS, volatilitas yang terjadi di pasar mata uang kripto serta jumlah kasus Covid-19 yang melonjak di kawasan Asia turut menjadi perhatian para pelaku pasar.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2021 yang dirilis tercatat masih mengalami kontraksi atau di -0,74% yoy. Walaupun masih berada di zona negatif tetapi membaik dibandingkan dengan kuartal IV/2020 yang berada di -2,19% yoy.

Inflasi Mei 2021 tercatat sedikit mengalami kenaikan di 1,68% yoy tetapi angka ini masih berada di bawah target kisaran pemerintah di 3 ± 1%, sehingga Bank Indonesia pun diperkirakan masih akan menahan suku bunga rendah di 3,5% pada tahun ini.

Jalur pemulihan ekonomi domestik diperkirakan terus berlanjut dengan dukungan stimulus pemerintah melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) serta program pemberian vaksin yang telah mencapai 27,6 juta orang di mana sebanyak 10,9 juta penduduk telah mendapatkan vaksinasi lengkap (per 2 Juni 2021). Kesuksesan pemberian vaksin ini akan memastikan pembukaan ekonomi sepenuhnya.

Bank Indonesia terdengar optimistis dengan hasil rapat dewan gubernur (RDG) terbaru minggu lalu meskipun kembali menekankan tingkat konsumsi masyarakat yang masih tertekan di tengah pembatasan sosial akibat pandemi.

Selain mempertahankan proyeksinya terhadap pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,1%–5,1% untuk 2021, bank sentral juga mengisyaratkan bahwa sangat kecil kemungkinan untuk terjadinya kenaikan suku bunga pada tahun ini, menyusul tekanan inflasi yang dinilai masih cukup rendah.

Bank Indonesia juga menyatakan bahwa institusi tersebut akan berhati-hati dalam melakukan penarikan kebijakan akomodatifnya saat ini, yang mengindikasikan bahwa pengurangan suntikan likuiditas berpotensi akan mengambil tempat terlebih dulu sebelum adanya kenaikan suku bunga.

Hingga Mei lalu, bank sentral telah menyuntik likuiditas alias quantitative easing di perbankan sebesar Rp88,8 triliun pada tahun ini. Dalam upaya untuk meningkatkan kredit, Bank Indonesia juga telah memangkas suku bunga maksimal pada kartu kredit dari 2% per bulan menjadi 1,75%.

Harapan pemulihan ekonomi di sektor riil serta kebijakan suku bunga rendah mendorong investor untuk mencari alternatif investasi dengan potensi return lebih tinggi. Walau sempat mengalami fluktuasi di awal kuartal II, pasar saham mencatatkan kinerja yang cukup baik.

Investor asing mencatatkan pembelian bersih hingga Rp13,5 triliun sejak awal tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang saat ini berada di kisaran 6,000 merupakan level yang cukup menarik untuk mengakumulasi kelas aset ini.

Laba emiten diperkirakan bertumbuh di kisaran 28% hingga 30, sehingga IHSG diproyeksikan berada di kisaran 6,700 – 6,900 pada akhir 2021. Beberapa faktor yang dapat mendorong minat investor di pasar saham adalah adanya pembaruan sektor di bursa saham yang dikenal sebagai IDX Industry Classification pada awal tahun ini yang membagi saham berdasarkan produk dan jasa yang dihasilkan menjadi 12 sektor, termasuk sektor healthcare dan teknologi.

Berikutnya juga rencana IPO saham perusahaan teknologi GoTo pada tahun ini diperkirakan mendorong minat investor, baik asing dan domestik. Selain itu, penerapan batas maksimum dari pembobotan saham free float di maksimum 9% pada 29 indeks domestik termasuk IHSG akan mencegah satu jenis saham untuk menjadi terlalu dominan di pasar saham.

Di saat yang sama, hal ini akan mendukung kinerja reksa dana saham untuk lebih mirroring terhadap kinerja pasar saham secara keseluruhan.

Di era kemudahan teknologi saat ini, membeli reksa dana saham tidaklah sesulit dulu dan untuk memulai investasi pun tidak memerlukan nominal investasi awal yang besar. Beda dengan investasi saham satuan yang memerlukan modal lebih besar, pembelian reksa dana bisa dilakukan mulai dari Rp10.000 dan saat ini pun dapat dilakukan secara online tanpa perlu tatap muka.

Selain kelas aset saham, reksa dana pun tersedia dalam berbagai kelas aset seperti pasar uang, pendapatan tetap, serta campuran. Investor dan calon investor dapat menyesuaikan profil risiko pribadi dan tujuan investasi dengan jenis reksa dana yang dipilih.

Tentunya, investor juga perlu memilih manajer investasi dan agen penjual dengan reputasi dan kredibilitas yang baik.

Investor dapat memilih agen penjual seperti perbankan, yang dapat menyediakan layanan investasi yang terintegrasi dengan transaksi keuangan harian untuk memudahkan transaksi reksa dana.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia