Pandemi, Ekonomi Nirsentuh dan Ekonomi Digital

Ilustrasi internet - Bisnis.com

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2021 terhadap triwulan I-2020 mengalami kontraksi sebesar 0,74% (yoy). Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh -2,19% (yoy), kondisi perekonomian nasional sudah menuju perbaikan. Untuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam periode yang sama mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,14% (yoy). Capaian tersebut relatif lebih baik dibanding Jawa -0,83% (yoy) maupun nasional -0,74% (yoy).

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh kinerja Lapangan Usaha (LU) Informasi dan Komunikasi 31,91% (yoy) berdasarkan struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY. Akselerasi pertumbuhan LU Informasi dan Komunikasi ini sejalan dengan masih berlangsungnya berbagai kegiatan berbasis online. Kenaikan perbaikan LU Pertanian terjadi karena statistical based effect pergeseran pola tanam triwulan I-2020 ke triwulan II-2020. Panen raya kembali ke Triwulan I 2021 khususnya tanaman pangan. Di samping itu, intensitas curah hujan yang cukup di awal tahun juga berdampak pada lebih baiknya kualitas tanaman pangan khususnya palawija.

Dalam triwulan II-2021 diharapkan perekonomian nasional dan DIY mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut sangat bergantung pada kegiatan ekonomi. Bergeraknya roda kegiatan ekonomi di masa Pandemi Covid-19 juga bergantung dari adanya pembatasan mobilitas masyarakat dalam bentuk kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), termasuk PPKM Mikro.

Pemerintah Pusat dan Daerah pada Juni 2021 menerapkan PPKM Mikro dengan lebih ketat. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan penularan Covid-19 yang semakin menjadi-jadi. Berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian tersebut maka penerapan kegiatan ekonomi nirsentuh atau ekonomi minim kontak (less contact economy) juga harus lebih ditingkatkan. Artikel singkat ini mencoba mendeskripsikan penerapan ekonomi nirsentuh dalam arti luas di masa pandemi.

Ekonomi Nirsentuh
Ekonomi nirsentuh atau ekonomi minim kontak merupakan kegiatan ekonomi yang meniadakan atau meminimumkan kontak antara pelaku ekonomi (economic agent), baik produsen, penjual, konsumen dan pelaku ekonomi lainnya. Dengan adanya nirkontak atau meminumkan kontal tersebut dapat mencegah dan mengendalikan penyebaran virus Covid-19.

Sebenarnya konsep ekonomi nirsentuh sudah mulai diterapkan sebelum terjadinya pandemi. Selanjutnya Pandemi Covid-19 menjadikan percepatan atau akselerasi penerapan ekonomi nirsentuh. Kegiatan ekonomi nirsentuh membutuhkan dukungan teknologi dan informasi komunikasi (TIK), termasuk jaringan Internet, yang memadai. Dukungan TIK tersebut diimplementasikan dalam kegiatan ekonomi digital. Dalam hal ini ekonomi nirsentuh bagian dari ekonomi digital tersebut.

Menurut Brodjonegoro (2020), ekonomi digital merupakan sentral dalam konsep ekonomi nirsentuh. Ekonomi digital bisa mendukung ekonomi tetap produktif selama pandemi. Selanjutnya ekonomi digital dapat memunculkan jenis pekerjaan baru sehingga dapat meengurangi penganggur. Pandemi dan trend teknologi dapat mendorong percepatan penerapan ekonomi nirlaba yang kemudian dapat mendorong digitalisasi ekonomi.

Setidaknya terdapat 10 tren teknologi yang menjadi faktor pendorong percepatan implementasi kegiatan ekonomi nirsentuh. Ke-10 tren teknologi tersebut adalah belanja daring, pembayaran digital, tele-working atau bekerja dari rumah, tele-medicine atau pelayanan medis jarak jauh, tele-education dan tele-training atau pendidikan dan pelatihan jarak jauh, hiburan daring, rantai pasokan (supply chain 4.0), 3D printing atau percetakan tiga dimensi, robot dan drone, dan teknologi 5G (Brodjonegoro, 2020).

Ekonomi Digital
Ekonomi digital merupakan wujud ekonomi modern berbasis teknologi, yang dijadikan gaya hidup oleh sengian masyarakat. Selanjutnya ekonomi digital dapat diartikan segala bentuk aktivitas ekonomi yang memanfaatkan TIK, termasuk pada kegiatan perdagangan, pemasaran, perbankan, pembayaran dan lainnya yang mampu mempengaruhi kegiatan perekonomian.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memperkirakan nilai ekonomi digital pada 2021 mendatang dapat mencapai Rp337 triliun. Selanjutnya hasil riset Bank Indonesia (BI) menyatakan pertumbuhan ekonomi digital sebesar 33% dan nilainya mencapai Rp253 triliun pada 2020.

Bagaimana prospek ekonomi digital di masa mendatang? Menurut Kemendag (2021), ekonomi digital Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat pada 2030. Dengan asumsi potensi tersebut maka potensi pertumbuhan ekonomi digital pada 2030 bisa mencapai Rp4.531 triliun. Kegiatan e-commerce akan berkontribusi mencapai 34% atau nilainya mencapai Rp1.900 triliun. Selain e-commerce, yang bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi digital pada 2030 adalah kerja sama business to business (B2B) di bidang teknologi yang digadang menghasilkan Rp763 triliun atau mencapai 13% dari total ekonomi digital.

Layanan kesehatan secara online (tele-medicine) diperkirakan akan tumbuh 8% atau mencapai Rp471,6 triliun. Kemudian, online travel agent (OTA) juga diperkirakan akan berpotensi tumbuh dengan nilai Rp575 triliun. Begitu pula bisnis media daring hingga financial technology (fintech). Selanjutnya aktivitas jasa transportasi yang menggunakan platform online (ride hailing) seperti Gojek dan Grab juga akan memberikan potensi kontribusi sebesar Rp401 triliun pada 2030. Kegiatan ekonomi digital juga akan menekan biaya logistik dari sekitar 23% menjadi 17% pada 2030.

Catatan Penutup
Ekonomi nirsentuh dan ekonomi digital di masa Pandemi Covid-19/pascapandemi sangat prospektif dan potensial. Terkait dengan hal tersebut dibutuhkan ekosistem digital yang kondusif. Ekosistem digital termasuk distribusi jaringan Internet yang semakin merata dan mencapai pelosok wilayah terpencil, Di samping itu perlu ditingkatkan kualitas koneksi jaringan internet.

Faktor pendukung ekosistem digital yang lain adalah adanya masyarakat nirkontak (less contact society) dan masyarakat digital (digital society) yang mendukung budaya teknologi nirsentuh. Ke depan perlu ditingkatkan pemahaman literasi digital kepada masyarakat. Meningkatnya literasi digital akan mendorong dan mempercepat peningkatan kegiatan ekonomi nirsentuh dan ekonomi digital. Peningkatan tersebut pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.