OPINI: Kinerja Ekspor di Masa Pandemi  

AM. Rini Setyastuti, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Pandemi Covid-19 memaksa berbagai negara, baik negara maju maupun berkembang untuk melakukan pembatasan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi yang mengalami penurunan ini jelas akan berpengaruh pada jalannya perekonomian di sejumlah negara.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh beberapa negara, meskipun ada juga negara yang masih dapat mempertahankan pertumbuhan ekonominya berada pada level positif, namun angka ini pun masih jauh di bawah pertumbuhan normal.

Covid 19 di Indonesia mulai terdeteksi pertama kali di awal triwulan pertama tahun 2020 yang membuat Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah antisipasi dengan mengambil kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat, termasuk pembatasan kegiatan ekonominya. Pembatasan kegiatan ekonomi ini mengakibatkan seluruh komponen pendapatan nasional dari sisi pengeluaran mengalami perlambatan yang signifikan.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami pelambatan dimulai pada triwulan kedua tahun 2020. Pengeluaran konsumsi rumah tangga di triwulan pertama tahun 2021 adalah sebesar Rp 1.450.299,48 milliar rupiah (berdasarkan harga konstan tahun 2010), mengalami kontraksi sebesar 2,2% dibanding triwulan pertama tahun sebelumnya. Mengingat komponen pengeluaran rumah tangga ini mempunya andil terbesar dalam  perhitungan pendapatan nasional (pendekatan pengeluaran) maka penurunannya menjadi salah satu permasalahan yang perlu diperhatikan.

Pengeluaran konsumsi pemerintah di tahun 2020 tidak menunjukkan perubahan yang berarti di setiap triwulannya, tetapi memasuki triwulan pertama tahun 2021 mengalami kontraksi sebesar 43,35% dari  triwulan keempat tahun sebelumnya. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) sempat mengalami penurunan yang berarti di triwulan kedua tahun 2020, dan mulai mengalami peningkatan di triwulan selanjutnya meskipun dengan besaran yang kurang signifikan. Kondisi yang sama juga dialami oleh kondisi ekspor dan impor yang menurun seiring terhambatnya perdagangan antar negara.

Perang Dagang

Terjadinya perang dagang antara Amerika dan Tiongkok di tahun 2018, memberikan ketegangan di berbagai negara termasuk Indonesia. Dampak dari situasi pada saat itu dapat terlihat dari data ekspor bulanan Indonesia yang mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan, hal ini dimungkinkan bahwa limpahan barang dari China telah mempengaruhi daya saing produk Indonesia.

Setelah ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok  mereda di tahun 2019, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) kinerja ekspor Indonesia  mulai mengalami perbaikan, meskipun nilai total ekspor pada tahun tersebut mengalami penurunan sekitar 6,8% dibanding tahun sebelumnya (nilai total ekspor tahun 2019 sebesar US$ 167.683,0 juta, sedangkan tahun 2018 nilai total ekspor sebesar US $ 180.012,7 juta).

Dampak Pandemi Covid 19

Pandemi Covid 19 yang muncul di awal triwulan pertama tahun 2020 telah memperparah dan memunculkan ketidakpastian baru dalam perekonomian global. Kebijakan lockdown yang diambil oleh beberapa negara secara bersamaan menyebabkan menurunnya permintaan global dan menghambat aliran barang. Kondisi demikian mengakibatkan harga komoditas di pasar internasional cenderung menurun. Penurunan ekspor  terbesar terjadi pada bulan Mei 2020, yaitu  sebesar US$ 10452,6 juta, lebih rendah 14% dibanding bulan sebelumnya. Besarnya impor juga mengalami penurunan di bulan tersebut dengan nilai impor US$ 8.438,6 juta, mengalami kontraksi sebesar 32,68% dibanding bulan April 2020. Total ekspor tahun 2020 tercatat sebesar US $ 163.191,8 juta, lebih rendah 2,7% dibanding tahun 2019. Gambar di bawah ini merupakan perkembangan besarnya ekspor dan impor Indonesia tahun 2017 sampai dengan pertengahan tahun 2021.

 

 Gambar 1. Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia 

Di awal pandemi tahun 2020 terlihat bahwa ekspor mengalami penurunan, demikian juga impor. Setelah mengalami titik terendah di bulan Mei 2020, besarnya ekspor dan impor mulai mengalami peningkatan kembali. Meskipun dari bulan Juni 2020 terlihat bahwa masih terjadi fluktuasi besarnya ekspor dan impor, tetapi dari grafik terlihat bahwa keduanya menunjukkan arah yang menggembirakan, dengan kata lain mengalami tren yang positif. 

Data ekspor dan impor bulan Juni tahun 2021 menunjukkan angka pencapaian tertinggi sejak tahun 2019 yaitu sebesar US$ 18.545,4 juta dan US$ 17.229,0 juta. Nilai ekspor ini  meningkat sebesar 54,46% dibanding bulan Juni 2020 dan meningkat sebesar 9,5% dibanding bulan sebelumnya (Mei 2021). Pertumbuhan ekspor ini dipicu oleh pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 8,4% dan melesatnya pertumbuhan ekspor migas sebesar 27,2% dibanding bulan sebelumnya. Tingginya ekspor ini didominasi oleh produk-produk industri pengolahan (US$14.077,5 juta), disusul oleh ekspor sektor pertambangan (US$ 2.911,8 juta), sektor migas (US$ 1.232,1 juta) dan sektor pertanian (US$ 324,0 juta). Ekspor nonmigas Indonesia kebanyakan ditujukan ke negara Tiongkok, Amerika Serikat,  Jepang dan Malaysia.

Impor bulan Juni 2021 meningkat sebesar 60,12% dibandingkan impor bulan Juni tahun sebelumnya. Impor  didominasi oleh bahan baku penolong sebesar US$ 13.040,0 juta, disusul oleh barang modal (US$ 2.545,6 juta) dan barang konsumsi  (US$ 1.643,4 juta). Impor nonmigas mayoritas berasal dari Tiongkok, Jepang, Thailand dan Singapura. Impor Indonesia yang didominasi  oleh bahan baku dan penolong dan barang modal diharapkan akan tetap menjaga proses produksi di dalam negeri berjalan dengan lancar. Dan pada akhirnya juga akan mendorong kinerja ekspor Indonesia.

Penutup

Meskipun pada saat ini masa pandemi belum berakhir, perkembangan ekspor dan impor yang membaik, diharapkan akan semakin menggerakkan perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Membaiknya kinerja ekspor yang juga ditunjukkan  oleh surplus neraca perdagangan Indonesia dalam setahun terakhir ini dapat menjadi sinyal positif bahwa permintaan terhadap industri nonmigas Indonesia sudah mulai membaik, dan  tentunya komoditas nonmigas ini dapat semakin berperan dalam kinerja perekonomian secara keseluruhan.