OPINI: Tamengi Masyarakat Hadapi Infodemi Covid-19

Yohanes Adven Sarbani, Dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya & Anggota Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO)

Sangat wajar jika kita sudah jenuh dan lelah menghadapi pandemi Covid-19 ini. Sejak akhir tahun 2019, kebanyakan informasi yang kita dapat selalu seputar virus corona dan dampak buruknya. Kehadiran Covid-19 juga telah mempengaruhi bahkan mengubah perilaku masyarakat. Namun hingga sekarang, langkah dan strategi yang pemerintah terapkan belum menghasilkan kemenangan berarti.

Sementara di masyarakat keluhan terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) semakin sering terdengar dan lantang disuarakan. Lebih dari satu tahun kondisi perekonomian seperti ini membuat banyak keluarga mulai angkat tangan dan kibarkan “bendera putih” menyerah.

Mengapa sulit sekali kita memenangkan peperangan dengan virus kecil yang tak kelihatan ini? Jelas pandemi ini tidak bisa diatasi dari satu sektor saja misal dari kesehatan. Dari sektor kesehatan kita tahu cara virus ini menular dan cara mencegahnya. Dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan (3M) persebaran virus ini dapat terhenti dan virus bisa mati.

Pembangkangan Masyarakat

Namun penerapan 3M itu jelas berdampak negatif di sektor lainnya seperti perekonomian. Keharusan untuk mendapatkan penghasilan harian membuat banyak warga nekat dan terkesan menyepelekan bahaya Covid-19. Mereka harus bekerja tetap keluar rumah dan mengabaikan protokol kesehatan karena bantuan dari pemerintah tidak cukup atau bahkan tidak sampai kepada mereka.

Keterpaksaan untuk tidak patuh pada anjuran pemerintah ini seolah mendapatkan penguatan ketika mereka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan untuk membenarkan tindakan mereka. Informasi seperti Covid-19 hanyalah flu biasa, rumah sakit meng-covid-kan pasien biar mendapatkan keuntungan.

Intinya informasi-informasi yang menyepelekan Covid-19, tidak mempercayai sumber resmi, dan mendorong masyarakat agar berani menghadapi covid itu membuat masyarakat nekat dan tidak waspada. Seolah masyarakat membangkang anjuran pemerintah.

Infodemi dan Literasi Digital

Memang di saat ini, selain terjadi pandemi juga tengah terjadi infodemi. Infodemi merupakan penyebaran informasi yang berlebihan tentang Covid-19 yang dampaknya justru memperburuk kondisi pandemi. Banyak informasi menyebabkan masyarakat bingung dan akhirnya memilih informasi berdasar pada apa yang dia sukai bukan pada informasi yang benar dan valid.

Banjir informasi terutama di platform digital yang semakin mudah diakses masyarakat perlu diimbangi dengan kompetensi baru yaitu kompetensi literasi digital. Literasi digital menurut Hague dan Payton (Nugroho 2020) merupakan kesadaran, sikap, dan kemampuan individu untuk menggunakan teknologi dan media digital secara cepat untuk mengidentifikasi, mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, menganalisis, dan mensintesis sumber daya digital.

Selayaknya memasuki medan pertempuran, ketika memasuki platform digital seperti media sosial, kita pun perlu memiliki persiapan. Tameng kesadaran, senjata sikap dan kemampuan digital perlu dimiliki dan dikuasai supaya tidak kalah oleh jerat tipu daya informasi palsu dan hoaks.

Menyadari bahwa dalam keberlimpahan informasi itu ada serangan berbahaya yang bisa melumpukan kita. Informasi dan konten yang disukai orang banyak, diikuti, diviralkan belum tentu informasi yang terpercaya. Dengan tameng kesadaran itu, kita dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis dan kritis ketika dihadapkan pada informasi di platform digital.

Sikap skeptis, berani menanyakan kebenaran informasi yang disajikan di media sosial itu seperti pedang yang kita gunakan untuk berperang hadapi hoaks. Sikap ini diwujudkan dengan kemauan dan kemampuan untuk mencari tahu ketika berhadapan dengan bermacam informasi yang bertebaran.

Edukasi Literasi Digital

Kembali kita pada permasalahan pandemi Covid-19. Salah satu penyebab sulitnya pandemi ini berakhir itu karena adanya infodemi. Masyarakat yang tidak tahu cara memilah dan memilih informasi yang benar dan valid di tengah keberlimpahan informasi itu akhirnya mengambil informasi yang dia nilai paling baik dan menguntungkan bagi dirinya. Akibatnya, masyarakat terjebak pada narasi dan informasi hoaks. Sedangkan informasi pihak yang memiliki otoritas dan kompetensi tidak dipercayai. Ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan itu membuat penanganan pandemi Covid-19 semakin rumit. 

Melihat situasi itu, kita semakin menyadari bahwa kemampuan masyarakat kita memilah dan memilih informasi di platform digital perlu ditingkatkan. Edukasi literasi digital kepada masyarakat, terutama kepada para pelajar, bukan lagi pilihan melainkan kewajiban. Pemerintah, melalui kementerian terkait perlu memikirkan dengan serius bagaimana pola pembelajaran literasi digital bisa dilaksanakan di masyarakat. Usaha-usaha itu jelas perlu didukung oleh seluruh elemen masyarakat agar tercipta masyarakat yang melek digital. Inilah usaha untuk memberikan tameng dan senjata kepada masyarakat dalam menghadapi infodemi Covid-19.