OPINI: Saatnya Menjadi Investor di Negeri Sendiri

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
31 Juli 2021 06:07 WIB Aditya Very Cleverina, Asisten Ekonom Bank Indonesia Aspirasi Share :

Tahun ini Indonesia memasuki usianya yang ke-76. Tidak muda lagi bagi sebuah negara sekalipun, sehingga sepak terjangnya sudah dinantikan. Namun, alih-alih menanyakan prestasi negeri, sudahkah kita berkontribusi nyata dalam membangunnya?

Seperti yang pernah dinyatakan oleh Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy suatu ketika, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!”

Jika kita renungkan bersama kutipan tersebut memiliki arti yang dalam. Terlebih dalam kondisi di mana gaung tuntutan kepada negara saat ini makin gencar di tengah ketidakpastian yang makin kuat.

Namun jika direnungkan bersama, dapatkah kita setidaknya menjadi bagian dan mengambil peran dalam berkontribusi nyata untuk negeri? Apa yang ditegaskan Kennedy tidak sekadar retorika belaka tetapi tetap relevan dengan dinamika zaman.

Suatu dorongan yang dapat menggugah jiwa nasionalisme serta mampu menggerakkan kita untuk berani berkontribusi bagi negeri sendiri.

Salah satu hal yang menarik untuk dicermati adalah seberapa banyak dari kita sebagai individu yang telah berperan sebagai ‘pahlawan modern’ dewasa ini? Salah satu upaya yang dapat ditempuh, yaitu apakah kita mampu menjadi bagian generasi well literate untuk dapat berkontribusi menjadi investor di negeri sendiri?

Hal ini mungkin saja terkesan bagai sebuah persoalan yang besar atau masif tetapi sebenarnya jika ditelaah lebih mendalam, investor individu atau basis investor ritel domestik berperan besar dalam membangun negeri.

Sebagai upaya untuk mendukung sumber pembiayaan pembangunan dan stabilitas sistem keuangan maka dibutuhkan pasar keuangan yang well functioning, salah satunya melalui pengembangan dan penguatan basis investor domestik yang mampu menyerap shock pasar keuangan nasional.

Basis investor yang luas dan memiliki pemahaman literasi keuangan serta manajemen risiko yang baik menjadi sebuah kebutuhan tersendiri untuk mengukur ketahanan dan kekuatan bursa saat ketidak pastian ekonomi menerpa.

Misalnya saja ketika terjadi shock atau gejolak ekonomi di mana investor asing untuk sementara harus keluar dari pasar domestik dengan melepas asetnya seperti terlihat pada tahun lalu, tak lama setelah muncul pandemi Covid-19.

Apa yang terjadi? Indeks kita tetap dapat bertahan karena adanya support atau dukungan penuh dari aktivitas dan kepemilikan dari para investor domestik, khususnya dari investor ritel yang dapat meredam goncangan tersebut.

Dalam konteks ini, semangat kaum muda atau generasi milenial sungguh relevan. Kita pernah mendengar ucapan terkenal Bung Karno suatu ketika: Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.

Jika di awal kemerdekaan bangsa ini, Bung Karno menekankan pentingnya peran pemuda, lantas mengapa seolah-olah peran pemuda semakin menyurut seiring pergulatan Indonesia yang akan genap berusia 76 tahun?

Hasil Sensus Penduduk 2020 memperlihatkan bahwa jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94% dari total seluruh populasi di Indonesia. Sementara itu, jumlah penduduk paling dominan kedua berasal dari generasi milenial sebanyak 69,38 juta jiwa atau sebesar 25,87%.

Indonesia tidak hanya memiliki sepuluh pemuda seperti yang dikehendaki Bung Karno tetapi jauh lebih besar dari itu, yaitu sekitar 140 juta jiwa generasi muda. Generasi muda ini adalah kekuatan yang perlu digandeng dan dilibatkan secara aktif dalam membangun bangsa.

Pada 2018, menurut data KSEI, jumlah single investor identification (SID) hanya mencapai 1,6 juta rekening. Akan tetapi pada akhir Mei 2021 jumlahnya meningkat pesat dan tembus 5,3 juta rekening.

Secara year to date, sejak awal 2020 hingga Mei 2021, pertumbuhan SID meningkat cukup pesat yakni 38,43%. Siapakah dibalik kenaikan SID ini? Naiknya pertumbuhan investor ritel dalam 4 tahun terakhir secara demografis usia ternyata mayoritas adalah investor individu dari generasi muda dengan usia berkisar 30 tahun (58,9%).

Tentunya, meningkatnya animo dari generasi muda ini patut dibarengi dengan literasi keuangan yang baik dengan manajemen risiko yang berkualitas. Hal ini mendesak untuk mewujudkan peran nyata investor ritel yang strategis dalam mendukung pendalaman pasar keuangan domestik, menjadi alternatif sumber pembiayaan ekonomi serta mendukung terwujudnya stabilitas sistem keuangan nasional.

Saat ini maing-masing otoritas memiliki program edukasi investor ritel. Namun apabila digarap secara kolaboratif maka dampaknya akan Iebih kuat dan Iuas. Salah satunya hal ini dapat terjembatani oleh program edukasi melalui Literasi Keuangan Indoneisa Terdepan (LIKE IT) yang diselenggarakan melalui sinergi dari koordinasi Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan Pasar Keuangan (FK-PPPK), beranggotakan Bank Indonesia, Kemenkeu, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Program peningkatan literasi keuangan dan edukasi secara berkelanjutan yang terkoordinasi antara otoritas dan pelaku pasar menjadi faktor penting untuk menciptakan basis investor yang luas dan berkualitas.

Kini saatnya generasi muda dapat berpartisipasi mengikuti seri edukasi, mempertajam literasi dan ambil bagian untuk membangun negeri dengan menjadi investor di negeri sendiri!

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia