OPINI: Agenda Transformasi Digital Manajemen SDM

Co/Founder and Chief Product Officer Sampingan
03 Agustus 2021 06:07 WIB Dimas Pramudya, Co-Founder and Chief Product Officer Sampingan Aspirasi Share :

Gelombang kedua pandemi di pertengahan tahun ini tampaknya semakin menjadi tantangan bagi para pelaku bisnis, termasuk di segi manajemen sumber daya manusia (SDM).

Apa yang bisa kita pelajari dari pandemi selama lebih dari setahun kebelakang ini? Perusahaan-perusahaan harus semakin adaptif dan inovatif untuk bisa bertahan di tengah pandemi, termasuk dengan memperbaiki infrastruktur dan memfasilitasi pekerjanya untuk bekerja secara jarak jauh.

Walau tidak semua jenis pekerjaan bisa dilakukan dari jarak jauh, masih ada banyak pula pelaku bisnis yang tidak bisa beradaptasi terhadap kebutuhan kerja jarak jauh karena ketidaksiapan infrastruktur perusahaan.

Nyatanya, sebagian besar tenaga kerja Indonesia, terutama Generasi Z yang sekarang memasuki usia kerja, sudah siap untuk bekerja jarak jauh. Riset oleh Dell Technologies menunjukkan setidaknya delapan dari 10 pekerja di Indonesia merasa siap untuk bekerja jarak jauh dalam jangka panjang.

Namun di sisi lain 55% dari responden riset tersebut merasa bahwa perusahaan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan manajemen SDM secara jarak jauh.

Jika kita telusuri lebih jauh, sebenarnya tren bekerja jarak jauh tidak dimulai pada saat pandemi saja. Digitalisasi infrastruktur telekomunikasi selama dua dekade terakhir telah memungkinkan kita untuk bekerja lebih fleksibel dalam hal lokasi kerja.

Masuknya Generasi Z ke usia kerja berarti kurang lebih setengah dari tenaga kerja Indonesia adalah digital natives, atau bisa dikatakan lahir dan tumbuh besar di era teknologi digital.

Para digital natives tersebut tidak membutuhkan lagi program-program “transformasi digital” karena cara kerja mereka sejatinya sudah digital sejak awal. Bila dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, pasar tenaga kerja saat ini memiliki model yang lebih fleksibel.

Peraturan pembatasan sosial berskala besar dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat saat ini merupakan sebuah katalis yang mempercepat tren transformasi ketenagakerjaan.

Percepatan Digitalisasi

Oleh karena itu, percepatan perubahan ketenagakerjaan harus didukung dengan sistem manajemen SDM yang mumpuni. Sektor manajemen SDM atau pun harus mengalami percepatan digitalisasi.

Di sisi perekrutan, saat ini teknologi analisis data memungkinkan proses pencocokan antara kebutuhan perusahaan dan pekerja secara lebih efisien. Proses perekrutan dan onboarding pekerja kerah biru di agensi tradisional bisa memakan waktu 7—14 hari, sedangkan solusi digital memungkinkan proses tersebut untuk dilakukan dalam waktu 24 jam.

Di sisi manajemen SDM, platform manajemen digital memungkinkan tenaga HRD perusahaan untuk melacak dan mengawasi laju kinerja para pekerja secara real time dan mendapatkan data kinerja secara agregat. Pada gilirannya hal ini memungkinkan manajemen perusahaan mengambil keputusan kebijakan HRD yang lebih strategis.

Namun, sistem manajemen SDM secara digital harus juga diimbangi dengan sistem retensi pekerja yang sesuai.

Teknologi digital juga bisa menjadi solusi upskilling atau reskilling bagi para pekerja, misalnya pelatihan menggunakan video ataupun kuis dalam sebuah aplikasi.

Selain itu, sistem retensi pekerja juga bisa didukung oleh pembayaran upah secara langsung dan sistem insentif yang menarik, seperti bonus target harian, mingguan, atau bulanan.

Secara keseluruhan, sistem manajemen SDM digital merupakan pilihan yang ekonomis bagi pelaku bisnis. Efisiensi yang dihasilkan oleh sistem manajemen digital dapat mengurangi waktu dan biaya yang dibutuhkan.

Selain itu, digitalisasi sistem HRD bisa memastikan resiliensi perusahaan, baik untuk masa-masa sulit seperti pandemi saat ini maupun perubahan pada masa depan.

Masa-masa sulit ini telah mendemonstrasikan pentingnya digitalisasi infrastruktur perusahaan, termasuk dalam hal manajemen SDM. Jadikanlah masa pandemi ini sebagai pembelajaran dan kesempatan untuk melakukan digitalisasi infrastruktur perusahaan.

Pada akhirnya, pandemi ini akan berlalu. Namun, transformasi ketenagakerjaan menuju model yang lebih fleksibel dan efisien akan terus berjalan sesuai dengan perubahan zaman.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia