OPINI: Menguak Batik sebagai Warisan Budaya

Drs. H. Widodo, MM; Badan Pelaksana Otorita Borobudur
15 Oktober 2021 06:17 WIB Drs. H. Widodo, MM; Badan Pelaksana Otorita Borobudur Aspirasi Share :

Sejak 2 Oktober 2009 UNESCO telah menetapkan “Batik” sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpeace of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).  

Sebagai bangsa Indonesia kita boleh berbangga karena sudah sekian kalinya Indonesia mendapat pengakuan dunia melalui lembaga PBB yang membidangi Pendidikan dan Kebudayaan, telah memberikan penghargaan kepada Indonesia.  Penghargaan tersebut diberikan karena kekayaan budaya yang memiliki nilai adi luhur. Penghargaan UNESCO terhadap warisan budaya Indonesia yang lain antara lain keris, wayang, Gunung Api Purba, Candi Borobudur, Tari Saman, angklung, dan lain-lain.

Seperti kita ketahui sejarah dan kiprah tentang batik di Indonesia, sudah ada sejak zaman nenek moyang. Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan di Indonesia  mulai dari zaman kerjaan Majapahit sampai kepada kerajaan-kerajaan Islam berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas di dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Lama kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh masyarakat lingkungan terdekat kraton dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang.

Selanjutnya, batik yang tadinya hanya untuk pakaian keluarga kraton saja, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik kaum wanita maupun pria.

Karya seni warisan budaya tak benda yang sarat dengan filosofi dan simbol-simbol kearifan budaya lokal ini, setidaknya telah banyak menginspirasi para generasi muda untuk selalu eksis dalam berkarya. 

Meskipun di masa pandemi Covid-19 ini banyak sekali keterbatasan, namun imajinasi dalam berkreasi dan inovasi dalam pengembangan karya seni tak akan pernah mati.

Seiring dengan perkembangan zaman, batik yang semula hanya dituangkan di atas kain putih, sekarang sudah berinovasi dan bisa diaplikasikan di berbagai media, seperti kayu, logam, kulit, kertas, dan lain-lain. Dengan mengasah kreativitas para seniman, batik yang fungsinya dulu hanya untuk pakaian, kini bisa dikembangkan menjadi berbagai kerajinan, seperti topeng, gantungan kunci, dompet, sandal, kotak souvenir, dll. Bahkan di tangan para kreator seni pertunjukan batik di kolaborasikan dengan fesyen menjadi ajang sebuah event pertunjukan seni budaya seperti Solo Batik Carnival, Jogja Batik Karnival,  Imagine Batik, JFC, dll.  Batik akan selalu indah di mana pun tempatnya.

Bagian dari Kehidupan

Kini batik sudah menjadi bagian dari kehidupan dan budaya Indonesia. Semenjak industrialisasi dan globalisasi, serta digitalisasi merebak di masyarakat ini, batik yang semula hanya mengenal satu teknis saja yaitu batik tulis,  kini dengan  cita rasa  modernisasi batik bisa diaplikasikan dengan  memperkenalkan teknik otomatisasi, yang dikenal dengan istilah “Batik Cap dan Batik Cetak (Batik Printing)”.

Berkembangnya batik sebagai sebuah trend fashion di berbagai kalangan, baik kaum tua maupun  muda, para pejabat tinggi negara, artis, komunitas, akademisi, hingga beragam profesi dan latar belakang ekonomi, semakin membuka ruang dalam pengembangan batik dengan ditandai munculnya motif -motif  batik baru/modern. 

Pada awalnya, batik memang diidentikkan sebagai kain tradisional Nusantara, yang juga dijadikan sebagai pakaian resmi Indonesia. Pada saat ini batik sudah mengalami metamorfosa baru, bukan lagi hanya sebagai bentuk kain yang digambar dan turun menurun, akan tetapi batik merupakan ungkapan karya seni dengan berbagai bentuk motif dan medianya. Salah satunya adalah berbentuk kerajinan yang banyak ditemui di berbagai wilayah Indonesia, seperti Pekalongan, Solo, Jogja, Madura, Tasikmalaya, Cirebon, dan lain-lain. Bahkan di daerah Sumatra dan Kalimantan juga terdapat para perajin batik. Setidaknya 23 provinsi di Indonesia memiliki batik dengan corak kekhasan lokalnya sendiri. Berbagai motif  batik di berbagai daerah di Indonesia memiliki nama dan filosofi masing-masing. Di Solo dan Jogja ada motif kawung, lereng, alas-alasan, parang, wahyu tumurun, sekar jagad, dll. Di Cirebon ada motif yang sangat popular yaitu mega mendung. Di Kalimatan Barat ada motif corak insang, pucuk rebung, burung enggang , dan masih banyak lagi motif-motif yang lain.

Popularitas batik di tingkat local, regional, nasional dan bahkan internasional tampaknya kian tak terbendung, setelah para pejabat tinggi negara-negara sahabat para selebriti dunia tertangkap kamera mengenakan baju batik. Sebutlah nama seperti Presiden Bill Clinton, Barack Obama, Nelson Mandela, Mahatir Mohammad, Paris Hilton, Julia Roberts, Rachel Bilson, dan sebagainya, tak terkecuali pendiri Microsoft Bill Gates pun pernah hadir dalam forum bergengsi dengan mengenakan kemeja batik. 

Implikasinya bukan saja batik semakin dicintai oleh masyarakat Indonesia, akan tetapi dunia Internasional pun ikut merasa memiliki dan mencintai batik Indonesia. 

Bicara proses mendunianya batik jelas merupakan buah kolaborasi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait dengan mempromosikan batik secara intensif dan berkesinambungan. Sehingga pada akhirnya batik sebagai warisan budaya Indonesia yang bernilai adi luhur, semakin kita lestarikan akan semakin menyejahterakan.