Butuh Orang “Gila“ untuk Mengelola Badan Layanan Umum

Rizki Tavianto Karipany
02 November 2021 17:07 WIB Rizki Tavianto Karipany Aspirasi Share :

Enterprising Government sebuah keniscayaan dari mimpi satuan kerja pemerintah untuk mengelola secara “Bisnis Like” yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan layanan yang diberikan. Hal ini dimaksudkan untuk membangun sebuah etos kewirausahaan dalam menyelenggarakan pemerintahan, namun hal ini jangan salah diartikan bahwa mengomersialkan semua jasa layanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. Melainkan sebuah komitmen memberikan layanan umum yang tidak hanya berkualitas tetapi memberikan umpan balik dari masyarakat yang saling menguntungkan.

Mewirausahakan Birokrasi dicetuskan pertama kali oleh David Osborne dan Ted Gaebler dalam buku mereka yang berjudul “Reinventing Government“…How the enterpreneurial spirit is transforming the public sector. Konsep mereka dianggap sebagai solusi atas beban berat pemerintah Amerika serikat akibat dari ditanganinya seluruh kegiatan atau kebutuhan negara oleh pemerintah federal pada tahun 1993 (sinopsis dari buku “Reinventing Government“ karya David Osborne dan Ted Gaebler).

Konsep Reinventing Government (RG) dan Enterprising Government (EG) seharusnya menjadi marwah terbentuknya sebuah satker “tradisional” menjadi satker dengan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Tujuan akhir dari RG & EG ini tak lain adalah kemandirian sebuah satker BLU menjadi agen pemerintah yang berdikari dengan kekuatan finasial sendiri yang dikelola secara leluasa ala bisnis (Bisnis Like) yang fokus pada produktivitas dan efektivitas serta efisiensi.

Satker BLU walaupun masih menjadi anak kandung kementerian/lembaga sebagai kodratnya yang dilindungi dan dipayungi oleh undang-undang haram hukumnya untuk merengek/minta disuapi terus dan dituntun dalam operasionalnya. Pengelolaan BLU dituntut lebih transparan, kreatif/inovatif, dan lebih modern.

BLU Kekinian

Potensi dan kekuatan sangat besar yang dimiliki BLU adalah Fleksibilitas yang tidak dimiliki satker “tradisional“ seperti pendapatan yang dapat digunakan langsung, belanja dapat di atas pagu (ada ambang batas), dapat memiliki utang, mempunyai saldo awal, remunerasi, pemanfaatan aset (KSO), dan bila rugi karena operasional dapat diganti oleh Negara. Satker BLU sekarang berjumlah 244 satker (dengan berbagai rumpun BLU yang ada) sebuah potensi yang sangat besar untuk menggantikan peran yang tidak dimiliki oleh BUMN sebagai agen pemerintah. Jumlah BUMN sekarang sekitar 107, malah menurut Erick Tohir (Meneg BUMN) akan diturunkan menjadi 80-an BUMN, ternyata efisiensi dan produktivitas yang menjadi key value dari panglima BUMN tersebut, banyak BUMN yang sakit-sakitan mau mati dipaksa hidup. Sebagai agen pemerintah yang fungsi utamanya memberikan pelayanan kepada masyarakat dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kecerdasan serta memberikan value added bagi BLU itu sendiri. Dengan demikian kehadiran negara melalui BLU akan sangat dirasakan oleh masyarakat sehingga rasa trust terhadap public sector service semakin lama akan meningkat seiring perbaikan kinerja layanan dan kinerja keuangan.

Tentunya dari 244 satker BLU tidak semuanya sehat pasti ada yang kurang sehat bahkan ada yang terpapar perlu suntikan managemen dan “vitamin”. Kondisi dua tahun ini yang mengakibatkan ekonomi agak stag dengan pertumbuhan yang slow motion di angka yang susah dinalar sebelumnya (-). Satker BLU dihadapkan pada badai yang susah untuk berlalu karena badai seperti ini belum pernah dirasakan sebelumnya bahkan semua rumpun BLU terkena imbasnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Satker BLU di Provinsi DIY di antaranya Rumah Sakit Dr.Sardjito, Rumah Sakit TNI AU dr. Hardjolukito, Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Politeknik Kesehatan Yogyakarta, dan yang saat ini sedang berproses menjadi satker BLU Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan, globalisasi ekonomi dunia satu dekade yang lalu memaksa mengubah sudut pandang para ekonom, pelaku-pelaku bisnis dan wirausaha dari kelas “cicak“ sampai kelas “buaya“. Bila globalisasi kemarin disebabkan perubahan peta “kompetisi” dagang, keluarnya inggris dari europe union, teknologi serta resesi ekonomi di beberapa negara, namun dua tahun belakangan ini hanya karena sebuah virus, negara-negara di dunia panik belum siap menghadapi tsunami yang lebih dahsyat dari tsunami Aceh. Dengan adanya Covid-19 seluruh negara termasuk Indonesia sibuk mencari formula untuk mempertahankan ekonomi masing-masing agar jangan sampai terjun ke jurang “resesi“ bila hal itu terjadi maka terjadi  “chaos” kepercayaan masyarakat terhadap negara akan hilang boleh dikatakan negara sudah bangkrut.

Untunglah Indonesia mempunyai seorang Menteri Keuangan yang piawai membaca situasi dunia dan ahli membuat strategi dengan lihai, kalkulasi makro dan mikro dimainkan dengan “orkestra” yang indah, para eksekutif dan legislatif diajak berkolaborasi dengan langkah yang terukur. Mempunyai insting mitigasi risiko dan membaca opportunity disetiap kebijakan yang diambil. Untunglah Indonesia mempunyai seorang Sri Mulyani Indrawati punggawa utama penjaga “dana rekca” yang menyelamatkan negara ini dari pinggir jurang resesi.

Butuh Orang “GILA“

Kondisi yang tidak menentu dalam dua tahun ini, walaupun beberapa pengamat ekonomi menyatakan bahwa angin segar serta badai yang mulai mereda akan membangkitkan pelaku-pelaku ekonomi dan usaha bernapas kembali dan sektor-sektor ekonomi akan menggeliat bergerak ke arah yang positif. BLU diharapkan menjadi salah satu motor penggerak roda ekonomi, oleh karena itu butuh sumber daya manusia atau leader berjiwa die hard, tidak mengeluh, tahan banting, mempunyai visi/misi yang extra ordinary dan fokus pada layanan. Untuk itu, saya menyebutnya orang “GILA” (Gesit, Inovatif, Loyal, Amanah).

Gesit, leader atau sumber daya manusia yang mengelola BLU tidak ada hanya dituntut memiliki mobilitas yang tinggi namun juga memiliki jaringan yang luas serta mampu membawa BLU bersaing dengan yang serumpun maupun sektor swasta yang sejenis. Kompetitor telah memacu speed yang cukup tinggi, sumber daya manusia BLU jangan mematok speed yang sama  harus berani dengan speed yang di atas rata-rata kalau perlu terbang. Cara berpikir harus out of the box jangan biasa-biasa saja namun harus tetap fokus pada target yang akan dicapai.

Inovatif, BLU membutuhkan leader/SDM yang berjiwa kreatif dan pandai melihat peluang serta fokus dalam meningkatkan kinerja keuangan BLU sekaligus kinerja layanan kepada masyarakat. Dibutuhkan leader/SDM yang mempunyai kreativitas dalam mencari solusi dari kebuntuan-kebuntuan yang selama ini memang menjadi parasit di internal BLU.

Sesungguhnya BLU selama ini mempunyai previlage, mereka seperti “anak manja” takut akan risiko kurang fight, pasrah kepada keadaan yang penting ada pendapatan dari layanan selama ini mereka berikan. Fungsi pengawasan baik dari dewan pengawas dan kementerian/lembaga masih lemah. Oleh karena itu perlu leader/SDM yang cerdas dan berani serta mempunyai jiwa enterpreneurship yang kuat dengan fokus untuk selalu melakukan perbaikan-perbaikan layanan termasuk menghadirkan layanan-layanan unggulan.

Loyal, leader/SDM BLU haruslah bisa membangun dan berkolaborasi di setiap lini struktural di organisasi serta mengajak unsur-unsur organ yang ada merasa memiliki BLU (sense of belonging) dan mempunyai sense of crisis yang sama. Leader harus bisa membangun korsa di setiap jiwa SDM, bahwa organisasi adalah segalanya.

Amanah, leader/SDM BLU harus menjunjung tinggi komitmen terhadap apa yang sudah ditargetkan oleh kementerian/lembaga, seperti program dan sasaran serta target yang akan dicapai. Hal tersebut jelas tergambar dalam Rencana Strategis Bisnis (RSB) dan Rencana Bisnis Anggaran (RBA) BLU. Leader/SDM BLU harus mendedikasikan komitmennya dengan bekerja secara die hard.

Orang-orang “GILA” sangatlah dibutuhkan oleh Satker BLU dari rumpun manapun, dengan kekuatan kurang lebih sebanyak 244 satker, BLU akan memainkan peran yang sangat penting karena dapat menaikkan trust masyarakat kepada pemerintah,  khususnya public sector service.

(Penulis adalah Kepala KPPN Yogyakarta & Dewas RSAU Dr. Salamun Bandung)